Ketika Manusia Tidak Tahu Diri di Hadapan Tuhan

94

Eleine Magdalena, Penulis buku-buku renungan best seller

TEMPUSDEI.ID (22/11/21)-Mungkin kita pernah berjanji kepada Tuhan. Kita berjanji: Jika suami, istri atau anak yang sedang sakit disembuhkan, kita akan melayani Tuhan. Atau mengatakan: “Jika pekerjaan A berhasil, saya mau menyumbang ke panti asuhan atau Gereja.”

Terkadang kita berpikir bahwa Tuhan membutuhkan waktu, uang atau pemberian kita. Tuhan memiliki segalanya. Ia Mahakaya. Ia tidak butuh apa-apa dari kita. Sebaliknya kitalah yang amat membutuhkan Tuhan.

Menyedihkan jika kita merasa terpaksa memberi kepada Tuhan. Atau kita menghitung untung rugi mengikuti Kristus. Pun jika kita hanya mau menjadi pengikut-Nya kalau keinginan kita terpenuhi. Tentu Tuhan sedih jika kita hanya mencari-Nya karena pemberian-pemberian-Nya. Ibarat anak yang datang kepada orang tuanya jika ingin mendapatkan sesuatu.

Dalam Injil Matius 12:38-42 kita diingatkan untuk tidak mengatur, mempermainkan apalagi mencobai Tuhan. Para ahli Taurat dan orang Farisi meminta tanda dari Tuhan. Mereka ingin melihat Yesus membuat mukjizat, tapi Tuhan mengetahui hati mereka. Kepada orang-orang yang mau mencobai Yesus atau sekadar mau memuaskan rasa ingin tahunya, Tuhan tidak mengadakan mukjizat. Ia tidak membiarkan mereka mempermainkan anugerah-Nya.

Kadang-kadang kita juga memaksa Tuhan mengabulkan permohonan kita, barulah kita mau percaya kepada-Nya. Kita mau mengatur Tuhan. Kita menuntut Tuhan mendengarkan. Namun, kita jarang mendengarkan Tuhan lewat Kitab Suci dan pergaulan yang mesra dengan Tuhan.

Tuhan sudah menebus kita dari kematian kekal, tatapi sering kita kecewa terhadap Tuhan jika keinginan-keinginan kita yang lain tidak terpenuhi. Cinta Tuhan sudah dibuktikan dalam hidup kita sehari-hari. Namun, sering kita masih sulit bersyukur. Hati kita dibutakan oleh dosa dan keinginan akan materi, jabatan, gengsi atau hobi yang begitu kuat. Kita hanya mau mendapatkan yang memuaskan dan menyenangkan indra, kita kurang menghargai berkat-berkat rohani.

Marilah kita berlaku pantas di hadapan Tuhan. Meminta kepada Tuhan dengan rendah hati dan tulus mendatangkan berkat dan rahmat.

Sayangnya, kita sering kurang tahu diri dan ingin mengatur Tuhan. Kurang sadar diri bahwa dicintai Tuhan, kurang tahu diri bahwa berdosa, kurang tahu diri bahwa membutuhkan Tuhan.

Bukan Tuhan yang harus membuktikan cinta-Nya, tapi kitalah yang perlu terus-menerus memperdalam dan membuktikan cinta kita kepada-Nya.