Berbicara Seindah Bunda Maria

73
Eleine Magdalena

Oleh Eleine Magdalena, Penulis buku-buku renungan best seller

TEMPUSDEI.ID (17/11/21)-Iman ibarat benih yang perlu terus dipelihara dan dikembangkan. Bila kita setia dan taat dalam tugas-tugas, maka kita akan melihat rencana Tuhan terlaksana.

Hanya orang yang dipenuhi Roh Kudus yang dapat berbicara seindah Maria dalam Kidung Maria (Luk 1:46-56). Maria bukan berbicara hanya dari pemahaman akal budinya, tapi juga dari pengalaman pribadinya dengan Allah. Maria hidup karena percaya. Ia percaya walaupun Sabda Tuhan masih gelap baginya. Inilah iman, yaitu percaya walaupun tidak melihat.

Maria mencintai Allah dan mempunyai relasi yang mendalam dengan-Nya. Siapa pun yang mencintai tentu mengenal dengan sangat baik pribadi yang dicintainya. Karena cinta yang besar, Maria dapat berbicara tentang Allah secara jelas dan otentik. Maria memandang Allah sebagai Pribadi yang menyelamatkannya, yang melakukan perbuatan besar bagi dirinya yang kecil dan lemah. Dari ungkapan Maria kita melihat imannya yang hidup. Maria mempunyai relasi yang kuat dan intim dengan Allah sehingga ia mengenal suara Allah dan mampu taat kepada-Nya.

Betapa penting kita memperdalam relasi pribadi dengan Tuhan, mengenal suara-Nya agar kita dapat taat dan melakukan kehendak-Nya.

Maria percaya akan janji Tuhan. Ia percaya bahwa Tuhan setia dan tidak akan meninggalkannya sendirian dalam menerima anugerah sekaligus tanggung jawab yang besar ini. Di satu pihak Maria sadar akan kekecilan dan kerendahannya untuk tugas yang mulia ini.

Namun, di lain pihak Maria juga sangat percaya bahwa Allah mampu melakukan segala sesuatu termasuk memberinya rahmat yang  ia butuhkan untuk menjadi ibu Penebus, Anak Allah yang Mahatinggi.

Inilah kerendahan hati: menyadari keterbatasan diri dan mengakui kemahakuasaan Allah bahwa Dia mampu melakukan hal besar dalam dirinya yang kecil.

Iman dan kepercayaan Maria kepada Allah diuji lewat waktu dan penderitaan. Justru dalam kesulitan dan tantangan, iman Maria semakin diteguhkan sehingga Ia dapat mengikuti Putranya sampai ke kayu salib.

Iman, harapan dan kasih Maria dimatangkan justru dalam menerima tugas ini dengan penuh ketaatan. Bila mengedepankan logika tentu Maria tidak mau mengandung di luar pernikahan. Namun, karena Maria memilih untuk percaya, maka sesuatu yang besar terjadi.