Potret Kesetiaan Seorang Ibu Mendampingi Perjuangan dan Merawat Imamat Anaknya

239

Eleine MagdalenaPenulis buku-buku renungan best seller

TEMPUSDEI.ID (30/11/21)-Sejak menikah dan dibaptis, Maria berjanji kepada Tuhan untuk mendidik anak-anak dalam iman. Janji ini bukan sembarang janji. Merupakan janji yang keluar dari hati yang utuh di hadapan Tuhan. Dan Maria bertekad memenuhi janjinya kepada Tuhan dengan sekuat yang dia mampu lakukan.

Tekad ini pula yang membuatnya rajin berdoa, mengikuti perayaan Ekaristi dan melayani Tuhan. Ia ingin selalu dapat mendampingi anak-anaknya dengan pendampingan rohani yang sebaik-baiknya yang mampu dia berikan

Maria dibaptis menjadi Katolik setelah empat tahun menikah. Saat itu mereka memperbarui janji pernikahan di Gereja Katolik. Mereka dikaruniai empat orang anak.

Beno adalah anak pertama dalam keluarga ini. Beno dibaptis ketika duduk di kelas 5 SD. Ketika itu, Romo yang membaptis mengatakan kepada Beno: “Nanti kelak gantikan Romo, ya”. Kata-kata yang disampaikan secara biasa dan datar itu terdengar menggelegar dengan sangat kuat di hati Maria. Secara spontan dan tegas Beno juga menjawab: “Iya, Romo”.

Sejak saat itu Maria mencoba mengarahkan anaknya menjadi misdinar dan untuk terlibat aktif di lingkungan Gereja. Setiap kali Beno bertugas sebagai misdinar, Maria selalu hadir dalam perayaan Ekaristi. Dari bawah, dari bangku umat, ia selalu memandang anaknya dan berdoa kepada Tuhan: “Tuhan, jika ini memang Engkau yang memanggil, maka Engkau sendirilah yang menyirami benih panggilan ini”. Maria mengawal perkembangan hidup rohani dan panggilan anaknya dengan doa-doanya.

Doa seorang ibu

Sejak dibaptis, sang anak telah menunjukkan keinginannya untuk menjadi imam. Panggilan itu terus ada hingga ia lulus SMA. Bahkan, di tengah-tengah bersekolah di SMA, Beno sempat berkeinginan hidup membiara dan tidak meneruskan sekolah. Hal ini pun dikomunikasikan dengan ibunya yang juga menjadi sahabat rohaninya.

Namun, Beno akhirnya menyelesaikan studi di SMA dan melanjutkan ke seminari menengah hingga akhirnya menjadi imam.

Setiap kali ada kesempatan, Beno pulang ke rumah. Ibu Maria melakukan apa pun yang menyenangkan hati anaknya. Memasak bersama, nonton sambil mengobrol bersama dan saling curhat.

Maria selalu mengatakan kepada Beno bahwa dirinya dapat menjadi tempat Beno berlabuh dalam setiap kelelahannya atau dalam situasi apa pun.

Perjalanan panggilan selama menjadi frater tidaklah mudah. Selalu ada saat-saat sulit. Namun kehadiran ibu, melalui doa-doa dan hati yang selalu siap mendengarkan menjadi kekuatan Beno dalam menjalani panggilannya.

Ketika suatu kali Beno mengalami masalah dan terancam keluar dari biara, kembali ibunya hadir dengan tangan terbuka. Jawaban Ibu Maria: “Kamu masih punya mama. Ini tetap rumahmu, kamu bisa kembali ke sini”. Jawaban ini justru membuat Beno makin kuat dan tetap meneruskan panggilannya.

Setiap kali menghadapi situasi yang sulit dan harus memberikan jawaban kepada anaknya, Maria minta petunjuk Tuhan. Ia selalu bertanya dan mohon Tuhan memberinya hikmat dalam menjawab dan berkata-kata.

Setiap kali akan ujian atau pengucapan kaul atau jika sedang mengikuti retret, Maria selalu masuk dalam doa puasa untuk menemani anaknya melewati saat-saat yang penting tersebut.

Maria bahkan semakin banyak berdoa ketika anaknya telah menjadi imam yang pelayanannya begitu dibutuhkan orang banyak.

Maria selalu mendoakan anaknya agar tetap rendah hati dan dapat melewati setiap ujian iman dan panggilannya. Bagi Maria, doa dan puasa adalah kunci kekuatannya sebagai ibu dan panggilan anaknya sebagai imam. *