Wed. Feb 11th, 2026
Umat Katolik bertanya kepada Vatikan

JAKARTA – Menjelang senja, halaman depan Nunciatura Apostolik—Kedutaan Besar Vatikan—tidak dipenuhi teriakan atau spanduk protes. Yang hadir justru nyala lilin, doa lirih, dan wajah-wajah umat yang menyimpan kegelisahan. Ratusan umat Katolik berkumpul dalam ”Aksi Seribu Lilin dan Doa”, sebuah peristiwa iman sebagai ungkapan solidaritas bagi Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM.

Aksi ini berlangsung setelah Uskup Bogor itu mengundurkan diri pada 19 Januari 2026 dan kembali ke Rumah Persaudaraan OFM pada 7 Februari 2026. Bagi umat yang hadir, pengunduran diri tersebut bukan sekadar rotasi jabatan gerejawi, melainkan peristiwa yang mengguncang rasa aman pastoral dan relasi batin antara gembala dan umatnya.

Nyalakan Cahaya Kebenaran

Di tengah nyala lilin yang perlahan mengusir gelap, Yustinus Prastowo menyampaikan orasi bertajuk ”Cahaya Kebenaran”. Orasi itu tidak mengobarkan kemarahan, melainkan mengajak umat merenung.

“Kita berkumpul bukan sebagai massa yang menuntut, bukan pula sebagai hakim yang mengadili, melainkan sebagai umat beriman yang membawa lilin,” ujarnya.

Lilin, menurut Prastowo, bukan sekadar simbol keheningan, melainkan terang yang memungkinkan umat saling melihat dengan jernih—tanpa prasangka dan tanpa ketakutan.

Ia menegaskan, berhentinya seorang uskup tidak pernah menjadi peristiwa biasa. “Ini bukan peristiwa yang berlalu setelah tidur malam. Ini peristiwa iman yang merobek rasa aman pastoral dan mengguncang kolektivitas,” katanya.

Nada itu menyatu dengan kegelisahan umat yang merasa masih banyak pertanyaan belum terjawab, terutama mengenai proses yang mengantar pada pengunduran diri tersebut.

Dalam pernyataan resminya, Mgr. Paskalis menyampaikan ketaatan kepada keputusan Paus Leo XIV, seraya mengakui adanya tekanan. “Saya menerima keputusan dari Paus dan menanggalkan jabatan sebagai Uskup bukan dengan rasa kehilangan, melainkan dengan kebebasan hati. Meski ada tekanan dan situasi sulit yang mengikutinya,” ujar beliau.

Kalimat inilah yang kemudian mengendap lama di benak umat: tekanan seperti apa yang bisa dialami seorang uskup hingga memilih menanggalkan tugas penggembalaannya?

Prastowo menempatkan kegelisahan itu dalam bingkai sejarah Gereja. Konflik, katanya, bukanlah hal asing. Para rasul pernah berselisih, para uskup pernah berbeda pandangan.

“Gereja bertahan bukan karena konflik disembunyikan, tetapi karena ditangani dalam terang, bukan dalam bayang-bayang prasangka dan desas-desus,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan sisi rapuh institusi Gereja. “Gereja memang tubuh Kristus, tetapi juga institusi dengan birokrasi yang kalau tanpa keterbukaan, mudah memakan putra-putrinya sendiri.”

Mengutip St. Bernardus dari Clairvaux, Prastowo berkata, Melius est ut scandalum oriatur, quam ut veritas relinquatur—lebih baik skandal muncul daripada kebenaran dikhianati.

Namun, ia menolak keras narasi konflik sebagai pertarungan umat melawan hierarki. “Gereja dibangun bukan di atas ketakutan, melainkan di atas kebenaran yang membebaskan.”

Umat menyalakan lilin dan berdoa bagi lahirnya kebenaran.

Umat Bukan Penonton

Ia mengkritik klerikalisme—yang kerap disorot Paus Fransiskus—ketika kekuasaan diselimuti kesalehan formal dan menutup ruang dialog. “Umat bukan penonton. Awam bukan unsur tambahan, dan klerus bukan juru kendali total,” ujarnya.

Sebelum pengunduran diri Mgr. Paskalis, sebuah surat berisi tuduhan terhadap dirinya beredar luas di media sosial. Takhta Suci kemudian menunjuk Visitator Apostolik untuk memeriksa tuduhan tersebut.

Namun hingga kini, hasil visitasi tidak pernah dipublikasikan, sementara keputusan pengunduran diri sudah diambil. Dari titik inilah, kegelisahan umat menemukan suaranya. “Kami mempertanyakan dengan sungguh-sungguh: apakah Mgr. Paskalis telah mendapatkan perlakuan yang benar, adil, dan bermartabat?” demikian pernyataan tertulis panitia aksi.

Sebagai tindak lanjut, kelompok Solidaritas Umat untuk Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM mengajukan satu tuntutan utama: pembentukan tim investigasi independen dan imparsial oleh Takhta Suci untuk meninjau kembali seluruh proses visitasi hingga pengunduran diri tersebut.

“Aksi seribu lilin ini adalah lonceng bagi Gereja Sinodal di Indonesia,” kata Prastowo. “Kita tidak melawan otoritas; kita ingin berjalan bersama sebagai satu Umat Allah. Kita butuh tahu, karena kita mencintai.”

Di ujung orasinya, ia menegaskan tujuan yang lebih dalam dari sekadar klarifikasi prosedural. Bukan perpecahan, melainkan rekonsiliasi yang memulihkan. “Dalam Kristus, tidak ada lagi sekat. Kita semua adalah Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik.”

Hingga aksi doa itu berakhir dan lilin-lilin perlahan padam, satu hal tetap menyala: harapan akan terang kebenaran. Sampai berita ini diturunkan, Nunciatura Apostolik dan Konferensi Waligereja Indonesia belum memberikan tanggapan resmi atas tuntutan investigasi independen tersebut. Namun bagi umat yang hadir di senja itu, doa telah dinaikkan—dan lilin telah berbicara. (tD)

Related Post