Terimalah Sang Terang Sejati

63
Eleine Magdalena

Eleine Magdalena, Penulis buku-buku renungan best seller

TEMPUSDEI.ID (25/10)-Bangsa yang diam dalam kegelapan telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut telah terbit Terang.

Kedatangan Yesus yang membawa kabar gembira adalah Terang bagi kita semua. Dalam refren Mazmur, Tuhanlah Cahaya dan Penyelamatku, kita semua mengakui dan mengagungkan Tuhan sebagai terang dan keselamatan kita. Namun, apakah kita juga sungguh telah mengalami Terang ini dalam hidup kita? Apakah yang kita lakukan tatkala hidup kita berada dalam kegelapan, kegalauan, kecemasan?

Apakah di saat-saat seperti itu kita dengan penuh iman dan harapan datang pada Sang Terang atau kita mencari pelarian dari permasalahan dengan mendekati hiburan-hiburan tak sehat, narkoba, ramalan nasib, dll. Apakah kita lari menghindar karena Terang itu menyilaukan dan menyakitkan? Ketidakberanian melihat dan menerima diri membuat kita merasa lebih nyaman dan aman bersembunyi dalam gelap dan menolak Terang.

Ungkapan klise sering kita dengar: “Dalam persoalan hidup, kami sudah berdoa namun Tuhan tidak menjawab”.

Seringkali mungkin kita digoda untuk menjauh dari Sang Terang. Kita berputus asa dan tidak mau dibentuk oleh peristiwa-peristiwa pahit hidup kita. Memang selalu ada ketegangan antara harapan manusiawi kita dan rencana-Nya. Walaupun kita tahu bahwa rencana-Nya adalah yang terindah namun, kita tetap harus berjalan dalam iman untuk menanti penggenapannya. Tuhan mempunyai waktu dan cara sendiri dalam menjawab doa dan persoalan hidup kita.

Menerima Terang di dalam diri kita menuntut sikap keterbukaan terhadap sapaan-Nya lewat firman, teguran, peristiwa hidup setiap hari. Tuhan senantiasa berbicara kepada kita, namun apakah kita menyediakan hati untuk mendengarkan?

Bila kita menerima Terang dalam hati kita maka kita juga dapat membawa terang kepada orang lain. Banyak orang yang masih hidup dalam kegelapan, tidak mengenal Sang Terang. Tugas kitalah sebagai murid Kristus untuk memperkenalkan Terang itu dan menjadi juga lilin-lilin kecil di lingkungan hidup kita. Kita dapat menjadi pembawa terang lewat perbuatan penuh kasih, tindakan yang murah hati, sikap adil, penerimaan terhadap orang lain, senyuman yang tulus, dan berbagai sikap hidup Kristiani.*