Menikmati Kemustahilan

184
Eleine Magdalena

Eleine Magdalena, Penulis buku-buku rebungan best seller

TEMPUSDEI.ID (18 OKTOBER 2021)-Seorang ibu berdoa bagi anaknya yang sakit. Ibu ini begitu sedih karena tidak mempunyai biaya untuk mengobati anak tunggalnya. Dalam kesengsaraannya ia berseru kepada Tuhan dan Tuhan menjawab. Ibu ini dikuatkan untuk mendampingi anaknya hingga suatu ketika ia bertemu dengan seorang yang membantu pengobatan anaknya hingga sembuh.

Menarik untuk diperhatikan bahwa Yesus menyuruh orang banyak pulang dan memaksa murid-murid-Nya pergi agar Yesus dapat naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Betapa pentingnya doa. Sering kita mengorbankan doa demi tugas-tugas atau untuk bertemu orang. Bagi Yesus bertemu dengan Bapa-Nya dalam doa adalah napas hidup dan pelayanan-Nya. Tanpa doa tidak ada pelayanan yang otentik.

Pelayanan haruslah mengalir dari relasi cinta dengan Allah. Doa adalah komunikasi cinta dengan Allah. Doa yang mendalam membuat kita melakukan kehendak-Nya dan bukan ego kita dalam pelayanan. Doa memberikan kekuatan untuk melayani Tuhan dan sesama secara murni tanpa pamrih. Dalam doa kita tahu kita sedang mencintai-Nya lewat pelayanan kita. Cinta cukuplah untuk cinta. Dengan mencintai-Nya kita tidak butuh apa-apa lagi dari dunia ini. Menyenangkan-Nya itulah upah terbesar.

Yesus naik ke atas bukit dan berdoa seorang diri. Kata sendiri di sini menunjuk pada doa pribadi. Berdoa pribadi membutuhkan suasana hening. Bukan hanya situasi yang sunyi, tapi terlebih lagi batin yang hening. Yesus memilih naik ke atas bukit untuk berdoa. Tentu Yesus dapat berdoa di mana saja dan kapan saja. Bukit dan gunung seringkali dipakai Tuhan untuk berbicara dan bertemu dengan hamba-Nya. Musa menerima 10 Perintah Allah di Gunung Sinai. Yesus memberikan Khotbah di bukit.  Yesus menyembuhkan banyak orang sakit di atas bukit di Galilea sehingga banyak orang takjub dan memuliakan Allah. Yesus berubah rupa dan dimuliakan di atas gunung Tabor. Yesus memberikan amanat agung-Nya untuk memberitakan Injil dari atas bukit. Bukit juga tempat khusus Yesus untuk berdoa.

Kapan dan di Mana Saja

Kita pun dapat berdoa di mana saja dan kapan saja. Namun, ada saat dan tempat khusus yang dapat kita persembahkan untuk dating with Jesus, atau perjumpaan istimewa dengan Tuhan dalam doa pribadi.

Tempat itu bisa saja salah satu pojok kamar tidur kita. Bisa kita siapkan meja kecil untuk menaruh salib, lilin dan Kitab Suci. Atau, kalau memungkinkan menyediakan sebuah ruangan atau kamar untuk menjadi kamar doa pribadi di rumah. Tidak harus besar yang penting rapi, bersih dan kita setia datang berjumpa dengan Tuhan dalam kamar doa pribadi kita.

Setiap orang mempunyai waktu-waktu yang paling pas untuk berdoa dengan hening minim gangguan. Bisa pagi, siang, sore atau malam hari. Semua waktu itu baik untuk berdoa tergantung ritme kegiatan masing-masing. Kita dapat menentukan sendiri jam doa pribadi yang dapat kita tepati setiap hari. Hendaknya kita tidak terlalu mudah mengubah-ubah jam doa ini. Ketika disiplin doa sudah terbentuk, kita dapat memetik buah-buah dari komitmen doa pribadi ini. Ada sukacita yang mengalir dan damai yang meliputi hati. Tidak ada yang dapat mencuri damai hati orang yang setia berdoa setiap hari. Tuhan mengatakan: “Tidak mampukah engkau berjaga-jaga bersama-Ku satu jam saja”.

Mengapa satu jam? Mungkin sebagian dari kita berpikir bahwa satu jam terlalu lama. Tapi kalau kita adalah orang yang sibuk dengan pekerjaan dan pelbagai urusan lain maka satu jam adalah waktu minimal. Kita perlu waktu untuk menenangkan pikiran, mengheningkan hati agar siap mendengarkan suara-Nya yang lembut di kedalaman hati kita. Semakin sibuk seseorang semakin ia membutuhkan waktu doa pribadi.

Semakin hati kita tidak melekat pada dunia, semakin mudah kita mengarahkan hati kepada Tuhan. Semakin kita mencintai-Nya semakin kita merindukan-Nya. Semakin sering kita berdoa semakin mudah untuk mengosongkan pikiran dari hal duniawi dan berjumpa dengan-Nya dalam lubuk jiwa terdalam. Di situlah kita berjumpa dengan Yesus yang meredakan ketegangan hidup kita. Dia berkata: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”.

Petrus mampu mengatasi gelombang dan berjalan di atas air ketika ia berseru kepada Yesus. Ketika Petrus fokus pada tiupan angin kencang, ia mulai tenggelam. Jika kita berdoa, pandangan kita tertuju kepada-Nya. Orang yang berdoa fokus pada Kristus. Orang yang berdoa mampu menghadapi badai hidup dan selamat sampai tujuan. Orang yang berdoa menikmati kemustahilan sebagaimana Petrus berjalan di atas air.*