Beranikah Bicara Benar?

83
M. T. Eleine Magdalena

M. T. Eleine Magdalena, Penulis buku renungan best seller

TEMPUSDEI.ID (19 AGUSTUS 2021)

Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama kita mendengar tentang Nabi Yeremia yang dipanggil menjadi nabi Allah di usia yang masih sangat muda. Sebagai nabi yang mewartakan kebenaran di tengah situasi yang bobrok, ia harus banyak menanggung hinaan, penolakan dan penderitaan.

Berbagai penolakan seperti yang dialami oleh Yeremia, juga dialami oleh Yesus ketika Ia tampil mewartakan Kabar Gembira. Demikianlah juga kita ketahui dari seluruh Kitab Suci bahwa para nabi atau pewarta kebenaran mengalami rupa-rupa penolakan dan penderitaan. Oleh karena itu, dalam bacaan Yeremia 1:17-19, Tuhan tampil sebagai Allah yang senantiasa menyertai, menguatkan hamba-hamba-Nya dalam perjuangan dan tugas yang teramat berat ini.

Kita pun sebenarnya dipanggil untuk mewartakan kebenaran menurut status hidup kita masing-masing seperti sebagai orang tua yang menjadi pewarta kebenaran untuk kali pertama bagi anak-anak mereka, sebagai saudara yang senantiasa membawa perdamaian jika terjadi perselisihan dalam keluarga, sebagai guru yang mendidik dengan tulus tanpa membedakan murid yang miskin atau kaya, sebagai pimpinan yang adil, mengayomi, dan memberi kesempatan untuk bertumbuh kembang para anak buah, dll.

Mewartakan kebenaran bukan hanya tugas para nabi pada zaman dahulu atau tugas Yesus saja, namun sekarang menjadi tugas kita semua yang mengaku sebagai pengikut Kristus di mana pun kita berada, dalam keadaan apa pun juga.

Menjadi pewarta kebenaran menjadi suatu tugas yang berat dan penuh tantangan karena seringkali kita harus berjuang sendirian, melawan arus dalam masyarakat. Sabda Allah dan kebenaran menjadi terdengar pedas dan menusuk hati karena tidak pernah berkompromi dengan aneka kejahatan, kemunafikan dan kebohongan yang sudah menjadi semakin lazim terjadi di tengah-tengah masyarakat.

Namun, warta kebenaran adalah tetap kebenaran yang harus disampaikan kepada orang lain. Terserah apakah orang lain menerima atau tidak. Menjadi nabi yang baik harus rela berbicara terus, harus rela menerima penghinaan dan penolakan karena kebenaran itu sendiri. Yesus dan para nabi sudah mengalami nasib demikian. Apakah kita mau menghindar dari situasi seperti itu? Inilah juga bukti kesetiaan kita memikul salib mengikuti Kristus (bdk Mat 10:38).

Melalui segala ucapan dan tindakan kita yang penuh kasih, perhatian kepada yang miskin, lemah dan tersingkir tanpa peduli akan pandangan orang lain, jabatan, posisi, harga diri dan keadaan diri sendiri, kita dapat secara efektif menjadi pewarta kebenaran. Banyak sekali kesempatan untuk mewartakan kebenaran namun, seringkali kita mundur demi keselamatan dan keamanan pribadi. Lebih aman rasanya untuk ikut-ikutan membela yang kuat walaupun salah atau tidak membuka suara ketika kebenaran ada pada orang yang lemah dan tidak berpengaruh. Lebih baik punya banyak koneksi, kenalan orang kaya, orang penting daripada membela yang lemah dan kehilangan relasi dengan orang berpengaruh baik di kantor, di paroki, di lingkungan pergaulan kita masing-masing.

Inilah tantangan sekaligus ujian kita sebagai pengikut Kristus. Masihkah kita setia pada kebenaran atau hanya memperjuangkan kepentingan kita sendiri dalam hal kecil yang tiada seorang pun yang tahu, atau juga dalam hal besar?

Kita mudah takut, gentar, dan grogi menghadapi situasi yang mengancam karena seringkali kita lupa akan ucapan Tuhan:

“…bangkitlah dan sampaikanlah kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadamu. Janganlah gentar terhadap mereka supaya jangan Aku menggentarkan engkau di depan mereka. Mereka akan memerangi engkau tetapi tidak akan mengalahkan engkau, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman Tuhan”.

Dalam Mat 28:20 Yesus berjanji:

“Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”.

Sungguh luar biasa Tuhan kita! Ia yang Mahakuat mendampingi kita karena Ia tahu segala perjuangan kita dan segala kesulitan yang kita hadapi.