Cha, Pandanglah Yesus, Serukan Nama-Nya, Dia Menunggumu

65
Eleine Magdalena

Eleine Magdalena, Penulis buku-buku renungan best seller

 “Saya menerima kekuatan yang luar biasa dari Tuhan untuk mengantar keberangkatan putri tercinta ke rumah Bapa.”

TEMPUSDEI.ID (9 AGUSTUS 2021)

Berikut ini kesaksian Bapak Haryono, seorang aktivis dalam Gereja Katolik baik di keuskupan, paroki maupun di kelompok doa. Ia seorang ayah dari 3 orang putri.

Bulan Februari 2010 ketika baru pulang dari kantor, istri saya mengatakan: “Pak, besok pagi kita berangkat ke Singapore untuk memeriksakan anak kita. ia dinyatakan kanker usus besar (Colon Cancer) stadium lanjut dan harus dioperasi”. Istri saya baru saja mendapat kabar dari anak kami yang sedang berjalan-jalan ke Singapore dengan suami dan ibu mertuanya sekalian memeriksakan diri karena terasa ada gangguan pada pencernaan.

Tanpa banyak persiapan, kami berdua berangkat. Setiba di Singapore, putri tercinta terbaring di Mount Elizabeth Hospital. Di hadapannya kami berusaha tegar. Juga pada saat mendoakannya sebelum menjalani operasi. Kami hanya dapat menyerahkan putri tercinta ke dalam tangan kasih-Nya.

Setelah operasi, putri kami harus menjalani kemoterapi yang bukan hanya mahal tetapi juga sangat membuat menderita. Kemoterapi ini berlangsung beberapa seri. Karena efek yang sangat tidak nyaman, anak kami menyerah dan memutuskan tidak melanjutkan kemoterapi. Sebagai gantinya, ia memilih pengobatan herbal dan diet ketat. Memang pengobatan kanker stadium lanjut bukanlah hal yang mudah karena sudah terjadi penyebaran.

Setelah operasi yang pertama, anak saya beserta suaminya bergabung dalam komunitas. Melalui pertemuan sel dan doa-doa, mereka berdua dibawa lebih dekat kepada Tuhan. Saya merasa sangat bahagia melihat perkembangan iman mereka.

Kembali putri kami harus menjalani operasi yang kedua karena menstruasi terhenti dan timbul rasa nyeri yang hebat di perut bagian bawah. Hasil pemeriksaan USG selama satu jam akhirnya menemukan indung telur yang telah menjadi bola besar yang berisi cairan dan menutup indung telur yang lain. Hal ini menyebabkan rasa sakit yang luar biasa.

Akhirnya diputuskan untuk melakukan operasi dengan membuka perut bukan dengan cara laparascopy seperti yang dilakukan pada operasi pertama. Operasi ini dilakukan oleh ahli kandungan dengan didampingi dokter bedah usus. Menurut dokter yang menangani, jika operasi berlangsung tidak lebih dari satu jam itu berarti dokter bedah usus tidak mengambil tindakan apa-apa.

Sekali lagi Tuhan memberikan kemudahan dan kelancaran. Operasi kurang dari satu jam dan hanya satu indung telur yang perlu diangkat. Sebelum operasi kami hanya bisa berdoa dan selalu hadir dalam misa harian di Gereja Novena.

Kami begitu bersyukur kepada Tuhan. Sampai saat itu kami tetap optimis bahwa putri kami akan sembuh. Secara bertahap hidup rohani putri kami makin bertumbuh. Dia mulai membaca Firman dan berdoa secara rutin. Demikian juga kami orangtuanya semakin rajin berdoa dan merenungkan Firman Tuhan.

Selesai operasi yang kedua, kembali anak kami harus menjalani serangkaian kemoterapi dengan jenis obat yang lebih kuat dengan dampak yang lebih berat. Syukur kepada Tuhan, dokter yang menangani sangat sabar dan telaten. Dokter berusaha mengurangi dampak-dampak kemoterapi dan memberikan obat penawarnya. Sehingga anak kami bersedia menjalani kemoterapi lagi.

Setelah serangkaian kemoterapi yang sangat melelahkan karena badan semakin lemah dan obat kemoterapi yang semakin keras, sedangkan tingkat keberhasilan semakin menurun, anak kami memutuskan untuk menghentikan proses kemoterapi.

Di tengah-tengah kegelisahan itu Tuhan menolong melalui seorang sinshe tua dari Tiongkok yang bersedia datang dan membuatkan ramuan obat semalam suntuk untuk anak kami. Dengan ramuan ini kondisi fisik putri kami berangsur-angsur menjadi lebih kuat.

Namun virus kankernya tergolong “pandai”. Setiap kali diberi obat baru selalu “dipelajari” sehingga selang beberapa waktu virus tersebut menjadi kebal.

Setelah itu kondisi anak kami semakin lemah sehingga tidak bisa lagi datang ke gereja. Sebagai asisten imam sayalah yang membawakan komuni.

Kondisi anak kami semakin mundur. Ia tidak berani memeriksakan diri lagi ke laboratorium. Namun dengan semakin mundur fisiknya, semakin bertumbuhlah imannya. Dalam keadaan sakit, anak saya rajin mencarikan sumbangan untuk orang-orang yang membutuhkan bantuan.

Sebagai asisten imam, saya dapat memberikan tubuh Kristus kepada anak saya. Saya berusaha sesering mungkin dapat memberikan makanan rohani. Inilah yang terpenting bagi tubuh dan keselamatan jiwanya.

Sesuatu yang agak ganjil terjadi, di bulan-bulan terakhir anak saya seakan-akan menjauhkan diri dari kedua anaknya. Dia tidak mau anak-anaknya lama berada di dekatnya. Anak kami ingin kedua anaknya tabah dan tidak menangis jika ibunya harus pergi meninggalkan dunia ini.

Beberapa kali kondisi anak kami menurun dan harus dibawa ke RS. Kadang-kadang tengah malam. Infus di rumah sudah merupakan hal yang sering dilakukan karena anak kami sudah trauma dengan rumah sakit karena begitu seringnya keluar masuk rumah sakit.

kesaksian ini bisa ditemukan dalam buku ini.

Ketika akan menjalani perawatan di Jakarta selama 1,5 bulan, anak kami minta untuk melewatkan malam tahun baru 31 Desember 2012 di hotel. Tengah malam pergantian tahun itu anak kami begitu senang melihat kembang api warna-warni yang ternyata menjadi malam tahun baru yang terakhir baginya.

Tanggal 28 Pebruari 2013 anak kami masuk RS untuk menjalani transfusi. Setelah masuk 1 bag, ternyata kondisinya menurun. Saat itu Jumat pertama tanggal 1 Maret, saya seolah-olah diingatkan untuk memanggil romo untuk memberikan Sakramen Perminyakan. Saya menerima kekuatan yang luar biasa dari Tuhan untuk mengantar keberangkatan putri tercinta ke rumah Bapa, dengan terus membisikkan doa di telinganya. Saya katakan: “Cha, pandanglah Yesus, serukan nama-Nya, Dia menunggumu”. Setelah itu kondisinya makin menurun hingga akhirnya Icha berpulang.

Setelah jenazah dimandikan, yang merias wajahnya adalah kakaknya sendiri. Hanya kekuatan Tuhan yang memungkinkan hal ini terjadi. Melissa (Icha) menghadap Bapa di Surga di usianya yang ke-30 tahun.

Dua minggu setelah kepergian putri tercinta, saya berdoa kepada Allah Bapa: “Bapa secara fisik saya sudah tidak bisa bertemu dengan anak saya. Namun saya sangat ingin tahu di manakah saat ini Icha berada”. Bukankah yang terpenting bagi kita adalah kehidupan abadi setelah yang di dunia ini. Dalam doa saya mohon sedikit tanda dari Tuhan.

Pada tanggal 25 Maret 2013 menantu saya bermimpi bertemu istrinya dengan memakai pakaian yang indah. Icha berpesan: “Tolong sampaikan pada papa dan mama kalau Icha sudah bahagia bersama Yesus di sini. Jangan dipikiri lagi”. Sejak saat itu “masa perkabungan” saya berakhir.

Pada hari ke-38 kembali Icha muncul dalam mimpi kakaknya. Icha mengatakan: “aku bahagia di sini, ternyata banyak aktivitasku di sini”. Kembali diakhiri dengan pesan yg sama: “Sampaikan papa dan mama Icha sudah bahagia”.

Misa dan doa rosario setiap hari yang biasa saya lakukan pada waktu anak saya sakit ternyata bisa saya pertahankan sampai sekarang. Suaminya juga masih aktif dalam sel kelompok doa hingga saat ini.

Sungguh Allah itu sangat baik. Dalam penderitaan, rahmat-Nya cukup. Kepada-Nyalah hormat, pujian, dan kemuliaan sepanjang segala masa. Amin.