Tue. Feb 17th, 2026

Ramadan dan Rabu Abu: Perjumpaan Nurani untuk Lawan Korupsi

Mari pancangkan niat untul lawan korupsi.

Oleh Emanuel Dapa Loka Penulis buku ”Takdir Manusia Bekerja, Bukan Korupsi”, tinggal di Bekasi

Tahun 2026 mencatat sebuah peristiwa yang jarang terjadi namun sarat makna bagi kehidupan berbangsa dan beragama di Indonesia. Pada 18 Februari 2026, umat Katolik mengawali Masa Prapaskah dengan Rabu Abu. Sehari kemudian, umat Islam memasuki Bulan Ramadan.

Kedua tradisi puasa besar dari dua agama yang dianut oleh masyarakat Indonesia tersebut bertemu, hanya selisih satu hari. Bahkan, setelah pembukaan, pada hari-hari selanjutnya, kedua komunitas tersebut sama-sama menjalankan, meski dengan tata cara yang berbeda.

Perjumpaan ini tidak boleh berhenti sebagai fakta kalender atau simbol toleransi semata. Ia harus dibaca sebagai perjumpaan nurani, sebagai panggilan moral yang keras untuk menata ulang kehidupan bangsa yang telah lama dirusak oleh korupsi.

Indonesia bukan bangsa yang miskin nilai agama. Masjid dan gereja berdiri megah di mana-mana. Ritual keagamaan berlangsung rutin dan meriah. Namun, ironi terbesar bangsa ini adalah: di tengah religiositas yang begitu kental, korupsi justru tumbuh subur dan jalan terus tanpa malu-malu. Maka pertanyaannya bukan lagi apakah kita beragama, melainkan apakah iman kita sungguh berdaya melawan kejahatan publik yang paling mematikan bernama korupsi itu?

Dalam Islam, puasa Ramadan adalah latihan pengendalian diri yang total. Menahan lapar dan dahaga hanyalah pintu masuk. Substansinya adalah menahan nafsu serakah, menundukkan ego, dan membersihkan diri dari perilaku zalim.

Puasa mendidik manusia untuk jujur bahkan ketika tidak diawasi, untuk setia pada kebenaran bahkan ketika ada kesempatan untuk curang. Dalam konteks kehidupan bernegara, makna ini seharusnya beresonansi sangat keras: tidak korupsi adalah bentuk paling nyata dari puasa yang bermartabat.

Puasa kehilangan maknanya ketika seseorang mampu menahan lapar, tetapi gagal menahan tangan untuk mencuri uang rakyat.

Puasa menjadi dusta spiritual ketika seseorang rajin beribadah, tetapi dengan sadar menyalahgunakan jabatan, memanipulasi anggaran, dan memperkaya diri di atas penderitaan jutaan orang. Korupsi adalah pengkhianatan terhadap nilai terdalam puasa.

Hal yang sama berlaku dalam tradisi Katolik. Rabu Abu membuka Masa Prapaskah dengan simbol abu di dahi—simbol kefanaan, kerendahan hati, dan ajakan untuk bertobat. “Engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu” adalah peringatan keras Memento Mori terhadap kesombongan manusia yang merasa berkuasa atas segalanya, termasuk uang dan hukum. Puasa dan pantang dalam Prapaskah bertujuan mematahkan keserakahan dan membangun solidaritas dengan mereka yang menderita.

Paling Telanjang

Berpeluh itu mulia, korupsi itu hina.

Dalam terang ini, korupsi adalah dosa sosial yang paling telanjang. Ia bertentangan langsung dengan semangat pertobatan, kesederhanaan, dan kasih kepada sesama. Korupsi bukan hanya soal angka di laporan keuangan negara; ia adalah tindakan yang merampas hak hidup layak orang miskin, mencuri masa depan anak-anak, dan menghancurkan kepercayaan sosial.

Tidak berlebihan jika dikatakan: korupsi adalah bentuk pembunuhan yang dilakukan secara sistemik dan berjamaah. Ia adalah extraordinary crime. Hanyalah, terhadap yang extraordinary ini, kita pandang sebagai hal umrah belaka. Ya, karena terbiasa dilakukan, bahkan berjemaah!

Korupsi membunuh anak-anak bangsa ini—pelan-pelan namun pasti. Ia membunuh melalui sekolah yang rusak karena dana pendidikan dikorupsi. Ia membunuh melalui rumah sakit yang kekurangan fasilitas karena anggaran kesehatan dijarah. Ia membunuh melalui kemiskinan struktural yang dibiarkan karena bantuan sosial diselewengkan. Dalam wajah korupsi, kita melihat penderitaan yang dilembagakan. Sadis!

Karena itu, koruptor bukanlah pelaku kejahatan biasa. Mereka adalah penjahat yang paling jahat, sebab kejahatan mereka dilakukan dengan kesadaran penuh, memanfaatkan kekuasaan, dan berdampak luas pada jutaan orang yang tak berdaya. Tidak ada justifikasi moral, kultural, atau religius apa pun yang dapat membenarkan korupsi.

Di titik inilah perjumpaan Ramadan dan Rabu Abu menemukan maknanya yang paling radikal. Ia adalah undangan lintas iman untuk menyatukan tekad: pengendalian diri sebagai perlawanan terhadap korupsi. Puasa sejati adalah puasa dari keserakahan. Pertobatan sejati adalah keberanian untuk berkata tidak pada korupsi, meski harus berhadapan dengan sistem yang kotor dan berisiko secara personal.

Sungguh! Bangsa ini tidak kekurangan ceramah moral, tetapi kekurangan keteladanan etis. Kita tidak kekurangan simbol religius, tetapi kekurangan keberanian spiritual.

Perjumpaan dua masa suci ini seharusnya melahirkan kesadaran baru: bahwa iman tanpa integritas publik adalah kemunafikan, dan ritual tanpa keadilan sosial adalah kehampaan.

Jika Ramadan dan Rabu Abu hanya berlalu tanpa tekad konkret untuk melawan korupsi, maka puasa kita gagal menyentuh realitas paling mendesak bangsa ini.

Namun jika perjumpaan ini melahirkan komitmen kolektif untuk hidup jujur, menolak korupsi, dan membela kepentingan publik, maka dari perjumpaan iman ini bisa lahir harapan baru bagi Indonesia.

Sebab pada akhirnya, Tuhan tidak hanya bertanya seberapa rajin kita berpuasa, tetapi juga siapa yang kita selamatkan—atau kita hancurkan—melalui pilihan-pilihan hidup kita.*

Related Post