Duh! Berturut-turut, Tiga Anak Mereka Dipanggil Tuhan, Kesaksian Sugiyanto dan Suyani

Kehilangan tiga orang anak secara berturut-turut, bukan hal yang mudah, apalagi untuk seorang ibu yang mengandung. Banyak sisi yang bisa terkait kejadian tersebut seperti fisik, mental, iman dan lain-lain.

Itulah yang dialami pasangan suami istri Ignatius Sugiyanto dan Veronica Suyani, umat Paroki Santa Clara, Bekasi Utara. Puji Tuhan, mereka mampu melewati masa-masa krisis itu.

Setelah anak pertama mereka duduk di bangku TK, Suyani mengandung anak kedua. Ternyata setelah lima bulan masa kehamilan, Suyani mengalami “keguguran”. Lalu ketika anak pertamanya duduk di bangku kelas III SD, wanita asal Yogyakarta ini melahirkan anak ketiga. Hanya satu bulan, anak bernama Vincent itu berada di pelukannya, Tuhan memanggil Vincent. Diketahui Vincent menderita broncho pneumonia.

Tetap berpengharapan pada Tuhan, ketika anak pertamanya duduk di bangku kelas 5 SD, wanita bertubuh mungil ini mengandung anak keempatnya. Tuhan pun memiliki kehendak lain atas anak keempat tersebut. Ketika berusia 10 minggu dalam kandungan, “tahu-tahu” jantung anaknya tidak berdetak lagi sehingga dikuret dua kali. Karena Suyani mengalami pendarahan hebat, akhirnya rahimnya diangkat. Duh!

Mengangkat rahim yang merupakan kebanggaan seorang perempuan adalah pilihan sulit bagi Suyani dan suaminya. Apalagi keduanya terbilang masih muda. “Demi keselamatan jiwa istri, mau tidak mau dilakukan. Ini pasti keputusan yang berat bagi kami,” kata Sugiyanto.

Suyani mengaku rajin mengontrol kandungannya ke dokter setiap bulan. Pada seminggu sebelum kontrol terakhir, Suyani mengaku mengalami pendarahan, ada bercak darah sehingga ia melakukan kontrol lebih cepat.

Ternyata, jantung janinnya sudah tidak berdetak lagi. “Waktu itu saya benar-benar kaget dan sedih. Tapi saya yakin bahwa Tuhan punya maksud baik, apa pun yang terjadi dalam diri saya,” kata ibu satu anak ini.

“Ketika kejadian anak kedua, saya memang sedih, tapi tidak terlalu. Tapi saat kejadian pada anak ketiga, saya sedih dan sangat up down. Beruntung banyak yang support, terutama suami dan anak. Yang saya yakini kemudian, sudah menjadi hak Tuhan untuk mengambil titipan-Nya kapan pun Tuhan inginkan. Kita wajib ikhlas. Itu untuk menenangkan diri saya. Setiap saat saya tanamkan ini dalam diri saya,” aku Suyani didampingi suaminya.

Suyani tentu saja tidak serta-merta sampai pada keyakinan tersebut. Ada proses pengolahan diri yang panjang. “Kalau nangis dan sedih, pasti. Sampai saya tidak bisa tidur. Kalau tidak bisa tidur, saya berdoa Rosario,” akunya.

Tetap bersyukur

Pertolongan Tuhan

Bahwa Suyani dan Sugiyanto berduka, iya. Namun berkat pertolongan Tuhan dan kesediaan untuk pasrah pada Tuhan, Suyani tiba pada kesimpulan “Dibanding kesedihan, masih jauh lebih banyak hal yang harus saya syukuri. Saya punya napas kehidupan, tiap pagi masih hirup napas dengan enak, punya suami dan anak yang luar biasa, juga dan teman-teman yang mendukung. Itu semua harus saya syukuri,” ujar Suyani.

Seperti halnya sang istri, Sugiyanto juga mengaku tidak mudah menerima kejadian berturut-turut itu. Dia malah sempat memikirkan “hal-hal tertentu” sebagai penyebabnya. “Sempat berpikir mungkin karena rumah, atau karena ada yang punya pesugihan, tapi kemudian kami tenangkan diri bahwa mungkin kejadian kehilangan anak harus kami jalani,” ujar salah satu ketua lingkungan di Paroki Bekasi Utara, Gereja Santa Clara ini.

Sugiyanto mengaku, sempat bertanya-tanya dan bimbang, “Mengapa Tuhan memberikan cobaan yang berat ini. Padahal, saya punya tanggung jawab untuk membimbing dia dalam iman Katolik. Bagaimana caranya saya meyakinkan bahwa itulah kehendak Tuhan. Kan bingung…,” kata Sugiyanto yang mengaku pernikahan dengan Suyani terjadi setelah mendapat dispensasi nikah beda agama.

Ini Saatnya Dibaptis

Pengalaman demi pengalaman membuat Suyani semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Dia dengan kesadaran sendiri akhirnya sampai pada keteguhan bahwa dia harus menerima baptisan.

“Saya katakan bahwa ini saatnya saya harus baptis. Saya putuskan, apa pun kondisi saya, ini saatnya saya harus baptis. Padahal sebelumnya ditawari suami ‘mau baptis sekarang’? Saya selalu katakan, belum. Nanti dulu,”  aku Suyani sembari tersenyum.

Suyani kemudian berusaha aktif dalam berbagai kegiatan di lingkungan dan gereja. Dia pun mengajak anaknya untuk ikut BIA dan BIR. “Saya ikut jadi tim Tatib di gereja. Saya masih belajar. Masih sangat banyak yang harus saya belajar,” akunya lagi.

Dia malah yang menyemangati suaminya saat lesu untuk semangat. Suyani sadar bahwa dengan iman yang baik, mereka bisa membimbing anak semata wayang mereka memiliki iman Katolik yang baik dan berkualitas.

Atas kisah kehilangan tiga anak tersebut, Suyani kembali berkata, “Hal yang saya yakini, apa pun yang terjadi, Tuhan punya maksud baik. Yang penting ke depan saya berbenah diri”.

Menjawab pertanyaan “Bagaimana ia masih bisa bersyukur di tengah tragedi yang dia alami,” Suyani berkata, “Di saat saya alami ‘ujian’, setiap pagi saat bangun tidur, saya bikin daftar hal-hal yang patut saya syukuri. Ternyata jauh lebih banyak. Saya sadari bahwa ternyata Tuhan itu sangat baik. Dia menganugerahkan berkat yang sangat banyak kepada kami,” pungkas Suyani.  (EDL)