
TAPANULI TENGAH – Caritas Indonesia (KARINA-KWI) resmi memulai “Gerakan Rumah Bela Rasa” di Desa Kebun Pisang, Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah, Rabu (26/2/2026). Peluncuran gerakan ini ditandai dengan penyerahan dua unit hunian tetap kepada keluarga penyintas banjir di Desa Pangaribuan dan Desa Sijungkang, Kecamatan Andam Dewi.
Serah terima hunian dihadiri Uskup Sibolga Fransiskus Tuaman Sinaga, Sekretaris Badan Pembina Yayasan Karina-KWI Siprianus Hormat, serta Direktur Eksekutif Caritas Indonesia Fredy Rante Taruk. Program ini merupakan respons atas bencana banjir dan longsor yang melanda Sumatra pada akhir November 2025.
Berdasarkan data, bencana tersebut menyebabkan 158.088 rumah rusak berat atau hilang di tiga provinsi, memaksa ribuan keluarga tinggal lama di pengungsian. Kehilangan hunian berdampak serius terhadap keamanan, kesehatan, dan stabilitas kehidupan keluarga terdampak.
Kolaborasi Lintas Keuskupan dan Pemerintah

Sebagai langkah konkret, Caritas Indonesia bersama Caritas-PSE Keuskupan Sibolga menginisiasi Emergency Appeal (EA) 23/2025 dan “Gerakan Rumah Bela Rasa”. Caritas Indonesia bertindak sebagai pengarah dan penanggung jawab program, sementara implementasi lapangan dilakukan oleh Caritas-PSE Keuskupan Sibolga.
Sehari sebelum peluncuran, dilakukan penandatanganan nota kesepahaman antara Caritas Indonesia dan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah yang diwakili Sekretaris Daerah Binsar Sitanggang. Kesepakatan ini menegaskan sinergi dalam mendukung percepatan pemulihan pascabencana.
Mgr. Siprianus menegaskan, kehadiran Caritas merupakan bentuk dukungan terhadap upaya pemerintah menyediakan hunian layak bagi warga yang kehilangan rumah. “Dengan kerja sama ini, bantuan kemanusiaan dapat dimaksimalkan bagi saudara-saudara kita yang terdampak bencana,” ujarnya.
Bangun Hunian Tahan Gempa
Direktur Caritas-PSE Keuskupan Sibolga, Romo Walter Manurung, menjelaskan pembangunan hunian diawali asesmen menyeluruh berdasarkan data pemerintah dan kunjungan langsung ke calon penerima manfaat. Sasaran utama adalah keluarga yang kehilangan rumah akibat banjir.
Pembangunan dilakukan di luar Zona Rawan Bencana (ZRB). Bagi warga yang sebelumnya tinggal di ZRB, relokasi dilakukan di lahan mandiri dengan syarat kepemilikan sah.
Program ini direncanakan berlangsung selama 18 bulan, dengan estimasi biaya Rp60 juta per unit. Rumah tipe 36 tersebut dilengkapi dua kamar tidur dan satu kamar mandi, dibangun dengan struktur baja ringan, atap zincalume antikarat, serta dinding bata ringan. Spesifikasi ini mengacu pada standar hunian layak pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Romo Walter menegaskan, pembangunan mengusung prinsip building back better atau membangun kembali dengan lebih baik. Desain rumah disesuaikan dengan risiko bencana di wilayah setempat dan memungkinkan pengembangan lebih lanjut oleh pemiliknya.
Wujud Solidaritas dan Pemulihan Martabat
Gerakan ini berawal dari kunjungan Ketua Konferensi Waligereja Indonesia, Antonius Subianto Bunjamin, ke lokasi respons kebencanaan di Tapanuli Tengah pada 23 Desember 2025. Dalam kunjungan tersebut, muncul gagasan membangun rumah permanen yang bermartabat bagi warga terdampak.
Direktur Eksekutif Caritas Indonesia, Romo Fredy Rante Taruk, menegaskan gerakan ini adalah wujud solidaritas bagi keluarga yang kehilangan tempat tinggal. “Rumah ini nantinya akan menjadi benteng martabat dan rasa aman keluarga,” katanya.
Ia mengajak umat, masyarakat umum, sektor swasta, dan berbagai komunitas untuk terlibat aktif. Menurutnya, membangun ratusan hingga ribuan rumah bukanlah tugas ringan, sehingga dibutuhkan kolaborasi luas.
Melalui “Gerakan Rumah Bela Rasa”, Caritas Indonesia tidak hanya membangun hunian tetap, tetapi juga berupaya memulihkan martabat, rasa aman, serta ketahanan hidup keluarga dan komunitas terdampak bencana di Sumatra. (SHA/*)

