Herman Dappa, Sosok “Sapere Aude” – Berani Berpikir dan Bertindak Sendiri

513
Herman Dappa (berkaca mata hitam) bersama Kepala Kantor Kemenag Sumba Tengah-Fidelis Seran (foto: Ist).

Pagi itu, 28 November 2022. Ketika masuk ruangan dan menaruh tas,  tiba-tiba Herman Dappa, setengah berteriak meminta air minum sambil menahan sakit yang luar biasa. Teman-temannya di ruang kerja Bimas Katolik Kabupaten Sumba Tengah, NTT kaget dan sontak panik, lalu segera memberinya air.

Airnya yang dimintanya pun hanya sedikit yang dia teguk. Melihat kondisinya drop dan lemah, dengan nada panik teman-teman ruangan memanggil namanya untuk memastikan kesadarannya. “Bapa…! Bapa Herman…! Jawab Bapa!” kata teman-teman seruangan.

Namun tak ada jawaban. Tak ada kalimat yang keluar. Hanya bunyi napas yang terdengar berat dan tanda-tanda perjuangan melawan rasa sakit yang memberi sinyal bahwa pria murah senyum itu sedang dalam bahaya.

Cepat-cepat dilarikan Klinik Karitas Katikuloku. Apa daya, di klinik milik suster-suter ADM inilah Penyuluh Agama Katolik Ahli Madya, yang juga  Guru Agama, Katekis,  Intelektual Kritis nan humoris berusia 53 tahun itu mengembuskan napas terakhirnya.

Alm Herman Dappa (paling kanan) bersama rekan-rekan usai menjadi narasumber Podcast.

Cerdas dan Low Profile

Kesan pertama saya saat bertemu dengan Almarhum saat pertama menginjakkan kaki di ruangan Bimas Katolik, Pak Herman adalah sosok yang ramah, welcome, humoris, namun juga kritis dan blak-blakkan.

Dia murah senyum dan bisa membuat seisi ruangan “bongkar tertawa” dengan komentar-komentar nyentriknya.

“Kalo Bapa Herman su omong, pasti satu ruangan ‘pecah ketawa’,” kata sebagian besar pegawai di Bimas Katolik, juga di unit-unit lain Kantor Kemenag Sumba Tengah.

Dalam dialog dan diskusi dengannya, saya akhirnya tahu bahwa pengetahuan filsafatnya sangat mengakar. Ilmu teologinya juga mantap. Dengan demikian, kendati tidak mengikuti kajian filsafat kontemporer dan materi filsafat yang up to date, cara berpikir dan gagasannya sangat kritis, runtut, sistematis dan logis.

Prinsip filsafat sapere aude atau dorongan untuk “berani berpikir dan mengambil keputusan sendiri” telah ia hidupi dengan sangat baik.

Suatu waktu selepas mengikuti diklat Pelopor Moderasi Beragama di Kupang, Herman berkomentar demikian: “Saya kira moderasi beragama tidak bisa menjadi program prioritas yang berlaku sama rata untuk seluruh daerah di Indonesia. Toh kita di NTT sudah sangat moderat. Harusnya moderasi beragama menjadi program prioritas di daerah-daerah yang rawan konflik identitas dan banyak kelompok garis kerasnya.”

Selain itu dalam kesempatan Podcast Bimas Katolik bertema Transformasi Layanan Penyuluhan Agama Berbasis Media Digital, Herman juga menyampaikan gagasan bahwa podcast tidak boleh ekstrem dan provokatif. Sarana Podcast menurutnya, harus menjadi saluran berkat bagi sesama.

Rekan-rekan di Bimas Katolik tentu paham dan tahu baik kecerdasan Herman. Dalam banyak kesempatan diskusi, ide dan pendapatnya tajam.

Walau dikemas dengan humor yang renyah, bobot intelektualitasnya tak perlu diragukan.

Aspek lain yang saya temukan dalam diri Pak Herman Dappa adalah watak low profile-nya.

Jujur-jujuran saja, pada kantor Kementerian Agama Kabupaten Sumba Tengah, Herman berada dalam posisi tertinggi dari segi hierarki golongan, dengan golongan IV B (Penyuluh Agama Ahli Madya).

Dari segi masa kerja di kantor, Herman juga termasuk senior. Namun, beberapa titel tersebut tidak menjadi menyebabkan dia tampil sebagai pribadi yang tinggi hati.

Dia selalu terbuka untuk mendengarkan pendapat yang lain, menjawab ketika ditanya. Dia juga berani menyampaikan apresiasi atas kinerja, prestasi, karya dan bantuan orang lain. Sekecil apa pun bantuan itu.

Saya misalnya selalu mendapat apresiasi darinya ketika tulisan saya terbit di media massa.

Tak hanya itu, Pak Herman juga pendengar yang baik dan selalu berusaha memberikan jawaban, masukan, hingga rekomendasi teknis atas persoalan atau isu yang kita ceritakan dengannya.

Herman juga mampu meramu diskusi, isu dan topik dengan sangat menarik, enak dan elegan. Dia moderator yang bijak nan mampu menjadi penengah yang netral di tengah diskusi dan perdebatan sengit.

Herman Dappa ketika menjadi narasumber dalam Work Shop penulisan Karya Ilmiah di SMA Kristen Waibakul, 3 November 2022.

Dia Seorang Abdi

Sebagai seorang ASN Kementerian Agama dengan jabatan sebagai Penyuluh Agama Katolik, track record, karya dan prestasi Herman Dappa tak perlu diragukan.

Kadang dia bercanda: “Siapa sih di Sumba Tengah yang tidak kenal Herman Dappa?”.

Hal ini menurut saya tidak lepas dari fakta bahwa tugas-tugas dan fungsi penyuluhan bukan hal yang asing, bahkan sudah menjadi makanan sehari-hari sekaligus habitus-nya.

Pernah suatu kali Herman berujar, kelolosaannya menjadi ASN dengan formasi Penyuluh Agama Katolik Kementerian Agama 2004 silam hanya mengubah “jubah, pakaian dan rumah” tempat dia melayani.

Sebab, misi pelayanan dan karya bakti ke tengah masyarakat telah dilaksanakannya semenjak menjalani masa-masa pendidikan dan karya pastoral sebagai calon imam Katolik hingga sebagai pegawai/staf pada Pusat Pastoral (Puspas) Keuskupan Waitabula.

Setelah itu Herman berkarya sebagai seorang ASN dengan jabatan Penyuluh Agama Katolik pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sumba Tengah.

Dalam aneka kesaksian atau testimoni, banyak yang berkomentar bahwa Almarhum adalah sosok yang moderat dan mampu menjadi penengah dalam diskusi dan perdebatan.

Tak mengherankan bahwa anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Sumba Tengah itu telah berkontribusi besar dalam mewujudkan toleransi serta hidup berdampingan antar-umat beragama yang bebas dari prasangka di Tana Waikanena, Loku Waikalala. 

Kisah “Pinjam Rokok”

Sesungguhnya, Herman Dappa bukanlah perokok berat. Dia tergolong perokok kelas ringan.

Sesekali ketika kehabisan rokok atau memang tidak sempat membeli rokok, Herman biasanya meminta dari rekan-rekan atau para juniornya di ruangan. Uniknya, ketika meminta, dia gunakan kata “pinjam”.

“Eee, pinjam satu dulu engko pu roko,” demikian rumusan kalimat yang Herman pakai.

Istilah “pinjam” itu bukan sembarang ungkapan. Pada hari-hari berikutnya, akan ada masa-masa “prodeo ciggaretes” alias “rokok gratis” yang dia keluarkan.

Begitulah caranya berbagi dan menindaklanjuti ungkapan “pinjam satu dulu engko pu roko tadi.

Dengan kata lain, jumlah rokok yang dia “pinjam” tidak sebanding dengan yang dia bagikan kemudian.

Akhir dan Kemenangan

Suatu ketika dalam sharingnya di ruang Bimas Herman berkata, “Saya sudah lelah dan jenuh jadi penyuluh. Saya mau situasi baru, hal-hal lain yang saya bisa kerjakan.”

Bisa dipastikan ungkapan jujur tersebut adalah salah satu impian terdalamnya. Tak ada yang tahu persis arah atau maksud di balik ungkapan tersebut.

Namun, suatu pagi dalam Minggu Pertama masa Adven, tepatnya pada hari Senin 28 November 2022, setelah apel pagi, persis ketika semua orang di kantor sedang menyiapkan doa dan ibadah pagi, Herman Dappa mengucapkan salam perpisahan.

Sedih dan memilukkan, memang. Namun, sebagai orang beriman, kita yakin dan percaya bahwa Herman Dappa telah meraih kemenangannya.
Herman telah merayakan kemenangannya, merayakan kebebasannya dari derita, rasa jenuh dan lelah yang dialami.
Selamat jalan Bapa Herman Dappa.Terima kasih untuk canda dan tawa bersama. Terima kasih untuk diskusi, perdebatan dan tukar pikiran, dari yang paling receh hingga yang paling serius dan filosofis.

Terima kasih sudah menjadi pencerah dan inspirasi bagi kami para juniormu. Terima kasih sudah melantunkan puisi indah, juga kisah Umbu Landu Paranggi, tokoh sastrawan idola yang sesekali engkau kisahkan.

Terima kasih untuk kisah bersama yang kita rajut, di ruangan Bimas Katolik, di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sumba Tengah, di paroki, lapangan, dan masih banyak lagi.

Walau ragamu sirna dan pergi, tapi kisah kebaikan dan inspirasi yang mengalir dari aneka peristiwa dan perjumpaan denganmu akan membekas dalam hati dan nubari kami.

Kendati tubuh fisikmu lenyap, yakinlah akan ada “spasi” dan “jeda” bagi kami untuk berkisah tentang dirimu.

Jalan baik-baik Pak Herman. Jadi pendoa buat keluarga yang ditinggalkan. Semoga mereka tetap kuat dan gigih melanjutkan ziarah hidup di dunia yang fana ini.

Akhirnya, terima kasih sudah menyadarkan kami bahwa hidup adalah “perjalanan menuju kematian” dan bahwa kematian adalah “pintu menuju hidup kekal”.

Sekarang kami akhirnya, mengutip salah satu istilah yang sering engkau ucapkan “tidak akan skeptis” atau ragu lagi tentang kehidupan.

Kami perlu memaknai dan sungguh-sungguh menjadikan hidup ini berkat, agar misteri kematian tidak menjadi sia-sia.

Last but not least, terima kasih untuk sejuta kisah yang terajut dalam aneka cerita ditemani segelas kopi di pagi hari dan sore sebelum waktu scan pulang.

Doni Koli, Pengujung Malam, 28 November 2022