In Memoriam – Selamat Menempuh Jalan Pulang, Herman Dappa

739
Selamat pulang, Herman.

Oleh Emanuel Dapa Loka

Untuk kesekian kalinya, saya harus mengucapkan “Selamat Pulang” kepada sahabat. Kali ini untuk Sahabat bernama Hermanus Dappa, seorang pegawai pada Kantor Kemenag Kabupaten Sumba Tengah, NTT.

Pagi ini saya mendapat kabar bahwa teman yang selalu murah senyum ini dipanggil Tuhan secara “tiba-tiba”.

Ya, terasa tiba-tiba karena sebelum meninggal, menurut informasi yang saya terima, dia masih menyetir sendiri mobil ke kantor. Ketika turun dari mobil, badannya lemas, lalu rekan-rekanya memberi air putih.

Setelah itu, mantan frater Keuskupan Weetebula ini dilarikan ke Balai Pengobatan Caritas menempuh perlajanan sekitar 6 km dengan waktu tempuh kira-kira 10 menit.

Apa bisa dikata, pada saat ditangani di Caritas itulah suara panggilan Tuhan itu datang, sehingga Herman pun mengembuskan napas untuk terakhir kalinya, lalu menempuh “perjalanan pulang”.

Walau terasa “tiba-tiba”, barangkali sebelumnya badan sudah memberikan sinyal atau warning menyangkut kondisi fisik penyuluh Agama Katolik di Kabupaten Sumba Tengah ini.

Ah! Saya tidak mau membahas bagian ini karena ini merupakan bagian orang medis dan tidak relevan dibahas di sini.

Yang segera saya lakukan adalah mendoakan perjalanan pulangnya ke rumah Bapa dengan ucapan, “Herman, Selamat pulang ke rumah Bapa di Surga, Bapa kita bersama. Sampai jumpa”.

Biasanya, orang mengucapkan “Selamat Jalan”. Saya lebih suka menggunakan frase “Selamat pulang”, sebab siapa pun orang beriman  yang meninggal, sesunggunya dia hanya melalukan perjalanan pulang ke tempat dia berasal, yakni ke rumah Allah Penciptanya.

Jadi, kematian seorang beriman hanyalah garis start baginya untuk perjalanan pulang. Dan ketika sahabat dan keluarga berkumpul di sekitar jenazahnya, itu terutama karena ketiadaannya sebab sudah “pulang.”

Saat Tuhan, “Sang Asal dan Tujuan Pulang” itu memanggil, yang dipanggil itu tidak bisa pura-pura tidak mendengar dengan alas an apa pun. Kapan pun dan di mana pun dipanggil, mutlak menjawab: siap, lalu berangkat. Hak prerogatif memanggil mutlak di tangan Sang Empunya Kehidupan.

Sudah pasti, kepergian ayah tiga anak tersebut merupakan kehilangan besar bagi keluarga, rekan-rekan, Kabupaten Sumba Tengah, dunia pendidikan dan Gereja Katolik di Sumba.

Antara lain menurut Blasius Ndadjang dan Yosef Rangga Kapodo, rekan kerjanya tatkala masih di Kemenang Sumba Tengah, Herman adalah teman diskusi yang baik dan kritis untuk macam-macam hal termasuk ikhwal kiat membangun kehidupan umat, mencermati secara kritis budaya Sumba dan masih banyak lagi.

Gustaf (kiri) saat berdiskusi dengan Herman. RIP.

Herman juga menjadi teman diskusi yang produktif  bagi teman-teman yang lama tinggal di luar Sumba. Gustaf Tamo Mbapa sering kali menyempatkan diri mampir ke rumahnya di Anakalang untuk ngobrol atau berdiskusi tentang banyak hal.

Di Paroki Santo Klemens Katikuloku Herman adalah Ketua 1 Dewan Paroki Harian. Di FKUB Sumba Tengah, pria yang gemar bermain gitar dengan tangan kiri ini menjabat sebagai Sekretaris.

Menyangkut kidalnya ini, ketika kami sama-sama menempuh pendidikan di Seminari Menengah Santo Petrus Kanisius Mertoyudan, Magelng, teman-teman selalu ledek dia dengan mengatakan, Herman ini sombong sekali. Dia anggap remah kita semua dengan hanya menggunakan tangan kiri.” Mendengar ledekan ini, dia hanya tersenyum atau sesekali tertawa lepas sambil mengacungkan kepalan tangan kirinya.

Dia juga memiliki minat yang besar di bidang pendidikan sehingga pernah dipercaya menjadi Kepala Sekola SMK Santo Yohanes Nupomuk Neuman di Anakalang.

Suami dari Lily Pawolung ini memiliki minat yang kuat pada dunia tulis-menulis dan susastra. Tulisannya tersebar di sejumlah media termasuk di tempusdei.id dan sejumlah media lokal di NTT.

Tanggal 1 November lalu, kawan yang jarang terlihat marah ini mengontak saya dan memberi tahu akan memberikan pelatihan jurnalistik. Kami pun berdiskusi seputar hal ini. Canda tawa dan saling ledek sesekali menyela diskusi kami.

Sejak pagi, 28 November 2022, Herman tinggal nama. Tentu saja nama yang syarat dengan berbagai predikat mengharumkan tersebut.

Selamat pulang, Kawan. Semoga oleh kerahiman Tuhan, engkau menikmati kemilaunya Kerajaan Surga. Requiescat in Pace.