Antara Telor di Barat dan Bajingan di Timur

203
"Telor Bajingan"

Emanuel Dapa Loka, Wartawan, tinggal di Bekasi

Kita sering kali menemukan sebuah kata dengan arti yang berbeda di beberapa daerah. Perbedaan arti kata itu acapkali sangat ekstrem. Tentu saja, para ahli sosiolinguistiklah yang bisa menjelaskan ini dengan jitu.

Sebagai misal, pada umumnya di Indonesia (bagian barat), kata telor menunjuk telur ayam, telur bebek, telur dan lain-lain. Sementara di Indonesia bagian timur, kata telor merujuk pada biji pelir laki-laki. Berkonotasi jelek.

Di sana pasti tidak ada orang yang datang ke warung lalu berkata, “Mau beli telor satu kilo gram”.

Sebaliknya, kata bajingan berarti sangat positif di Indonesia bagian timur, padahal di Pulau Jawa, bajingan berkonotasi buruk.

Kalau kata telor diucapkan pada umumnya di Indonesia bagian timur, sang pengucapnya pasti dianggap kurang ajar. Namun, telor terasa sedikit lebih halus dibanding mengatakan lasu. Untuk beberapa daerah (atau semua?), di Indonesia bagian timur, lasu berarti batang zakar.

Sebaliknya, kalau kata bajingan diucapkan di Indonesia bagian barat, khususnya di pulau Jawa, maka bisa sangat berbahaya. Sang pelafalnya pasti dianggap tidak sopan atau sedang marah.

Sesungguhnya, bajingan adalah sebutan untuk “supir” gerobak yang ditarik sapi. Tapi dalam perkembangannya, bajingan dilekati sifat negatif.

Pada zaman moda transportasi masih sangat terbatas, gerobak sapi menjadi salah satu alat transportasi di Jawa.

Karena ditarik sapi yang memang  berjalan pelan, untuk sampai ke tujuan dibutuhkan waktu yang sangat lama. Dan konon, dalam perjalanan yang memakan waktu lama itu, sering kali sang bajingan mencuri barang-barang yang dibawa dengan gerobak itu. Begitu ketahuan bahwa yang mencuri adalah sang bajingan, lalu muncul umpatan “dasar bajingan!”.

Andai, sekali lagi andai. Jika seorang istri dari seseorang yang berprofesi sebagai masinis mengumpat suaminya yang ketahuan berselingkuh dengan ungkapan “Dasar masinis!” atau “Dasar pelaut!”, sangat mungkin pada kedua profesi tersebut kemudian melekat makna atau cap negatif.

Arti positif bajingan

Di Indonesia Timur, kata bajingan justru bernilai positif. Di sana, kata ini berarti hebat, jago, dan aneka arti yang bermakna mengungguli yang lain. Begitu “positifnya”, kata ini bisa dilekatkan pada siapa pun, juga kepada tokoh-tokoh terhormat.

Misalnya, seseorang berkata “Gubernur kita sangat bajingan,” setelah menyaksikan sang Gubernur begitu peduli dengan rakyatnya.

Atau, dengan penuh decak kagum seseorang bisa berkata, “Pendeta kami memang bajingan main gitar”. Atau, “Pak Ustaz itu paling bajingan di kota ini untuk urusan ceramah” setelah menyaksikan sang ustaz mampu memberikan siraman rohani yang menyejukkan atau berkesan.

Contoh lain, kalau di lapangan sepak bola, seorang Pastor muda berhasil mencetak goal indah, penonton akan berkata penuh kagum, “Pemain yang paling bajingan, Pastor itu sudah!”

Antara telor dan telur

Bagaimana dengan kata “telur”? Di Indonesia bagian timur dibedakan antara telor dan telur. Telor mengandung arti: buah pelir laki-laki. Sehingga, mengucapkan telor berarti memaki, sebab menyebut bagian dari kemaluan laki-laki. Dan mengucapkan kata telor dalam konteks marah, bisa melahirkan pertikaian besar.

Di beberapa tempat di Indonesia bagian timur, seseorang baru dianggap sedang memaki jika dia mengumpat dengan menyebut kemauan baik kemaluan laki-laki maupun perempuan.

Kalau hanya mengumpat tanpa menyebut kemaluan, ini kurang dianggap sebagai tindakan memaki. Hanya tergolong marah atau sekadar marah-marah.

Di Indonesia bagian timur, justru kata telur dipakai untuk menyebut “sesuatu” yang oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) didefinisikan sebagai benda bercangkang yang mengandung zat hidup; bakal anak yang dihasilkan oleh unggas.

Anehnya, definisi inilah yang dikenakan pada kata telor dalam pergaulan di Indonesia bagian barat.

Padahal, menurut KBBI juga, kata telor tidak ada hubungan sama sekali dengan telur. Telor  (dengan e pepet)  justru berarti “tidak dapat mengucapkan kata-kata dengan lafal yang betul, misalnya melafalkan kata orang menjadi olang atau kurang menjadi kulang dan sebagainya.

Sangat mungkin, pembalikan arti bajingan dilakukan secara iseng oleh seseorang yang datang ke Jawa pada sebuah masa, kemudian pulang kampong sambil membawa serta arti yang sudah ia plesetkan.

Karena dipakai berulang-ulang, kata bajingan berikut arti plesetan itu kemudian terpakai secara umum dan terus-menerus. Lalu dianggap, memang seperti itulah artinya.

Barangkali, gejala semacam ini senada dengan teori dari Menteri Propaganda Nazi Paul Joseph Goebbels yang mengatakan, “sebuah kebohongan yang diulang terus-menerus akan menjadi kebenaran”.

Jadi perlu berhati-hati dalam menggunakan kedua kata tersebut. Ingat baik-baik, Anda sedang berada di mana dan sedang berbicara dengan siapa, jika tidak mau dituding lancang atau malah kurang ajar.*