Pengamat Politik Yunarto Wijaya: Politik Identitas Masih Laku

335
Yunarto: Jangan ciptakan polarisasi

Lewat Pemilu ini kita tidak boleh membawa perpecahan serta mencetak politisi yang memakai politik identitas (Yunarto Wijaya).

Ketika berbicara dalam seminar nasional bertema “Politik Kaum Muda Katolik Ditinjau dari Perspektif Gereja” di Catholic Center, Kota Medan, Sumatera pada Utara (3/11/22), Yunarto Wijaya (Direktur Eksekutif Charta Politika) menegaskan bahwa “politik identitas” masih laku di Indonesia.

Kata Yunarto, situasi politik kian memanas. “Gereja harus tahu dan berani mengambil sikap dengan dengan situasi dan kenyataan ini,” katanya.

Menurut Yunarto, dari hasil survei, ada tiga fakta yang patut dicermati, yakni Pertama, sampai sekarang, polarisasi dan keterbelahan itu masih ada dan berpengaruh ke mana-mana. Kedua, karena adanya polarisasi, politik identitas masih sangat laku dijual di Indonesia. Ketiga, saat politik identitas itu laku, maka akan ada calon-calon pemimpin yang menggunakan politik identitas juga.

Yunarto pun mengingatkan kepada peserta seminar. “Sebagai warga negara Indonesia, kita harus bersikap. Kita bebas memilih, tetapi lewat Pemilu ini kita tidak boleh membawa perpecahan serta mencetak politisi yang memakai politik identitas,” tandasnya.

Seminar yang diadakan oleh Kaum Muda Katolik Keuskupan Agung Medan tersebut dibuka oleh Walikota Medan Bobby Nasution dan dihadiri 600-an orang dari kalangan biarawan/biarawati, tokoh-tokoh Katolik, dan para mahasiswa di Medan dan sekitarnya.

Selain Yunarto, hadir juga Romo Antonius Benny Susetyo sebagai narasumber. Seminar dipandu Parulian Silalahi sebagai moderator.

Ketika memberikan sambutan secara daring, Uskup Agung Medan Mgr Kofrnelius Sipayung mengatakan bahwa sejatinya politik adalah arena perjuangan mulia untuk memperjuangkan hak dan kewajiban seluruh manusia.

Politik bukan sesuatu yang kotor. Namun, jika ada politikus yang bergerak hanya untuk kebaikan pribadi atau partai, itu sebuah aksi merusak jiwa sejati politik.

“Politik harus diletakkan pada posisinya sebagai sesuatu yang beradab. Di sinilah pendidikan politik dibutuhkan,” kata Uskup.

Pada salah satu bagian, Romo Benny menantang orang Katolik dengan mengatakan, “Orang Katolik, mau jadi apa? Pragmatis dan diam serta senang bermain sendiri, atau bergerak dan melakukan panggilannya di Indonesia, menjaga Pancasila dan NKRI? Hanya mau menjadi bisu dan meratapi diri sebagai minoritas? Jangan kita menyembunyikan talenta kita karena kita minoritas. Mari usahakan talenta tersebut demi perdamaian dan keadilan sosial di Indonesia,” tantang Benny. (EDL/*)