Sat. Mar 7th, 2026

Pelatihan Eco Enzym Lansia Santa Clara: Langkah Kecil Menjaga Bumi

Pelatihan pembuatan eco enzyme di Paroki Bekasi Utara, GerejaSanta Clara. Romo Ramses memberi kata sambutan. (EDL)

KOTA BEKASI – Pagi itu, Sabtu, 7 Maret 2026, Aula Santo Fransiskus Asisi di Gereja Santa Clara, Paroki Bekasi Utara, sudah ramai sejak matahari belum tinggi.

Kursi-kursi terisi oleh para ibu, bahkan banyak pula oma-oma yang datang dengan wajah cerah dan semangat yang tak kalah dari generasi muda (OMK).

Mereka bukan datang untuk arisan atau pertemuan biasa. Mereka datang untuk belajar menyelamatkan bumi—dimulai dari dapur rumah mereka sendiri.

Pelatihan pembuatan eco enzyme yang diadakan oleh Kelompok Kategorial Lansia Gereja Santa Clara itu menghadirkan suasana yang hangat sekaligus penuh harapan.

Di tempat yang dinamai menurut Santo Fransiskus Asisi—sang santo pecinta alam dari Ordo Fransiskan—para peserta seperti menemukan kembali panggilan sederhana untuk merawat ciptaan.

Panitia berikhtiar menjaga bumi, rumah kita bersama. (EDL)

Ketua Lansia Gereja Santa Clara, Florentinus Muji PS mengapresiasi kehadiran para peserta yang sebagian besar adalah ibu-ibu, para lansia dan OMK yang bersemangat belajar hal baru.

“Justru dari ibu-ibu inilah perubahan bisa dimulai,” katanya.

Muji mengingatkan bahwa kota Bekasi pernah dilanda banjir. Menurutnya, salah satu penyebabnya adalah rendahnya kesadaran manusia dalam mengelola dan mengolah sampah.

“Sampah ada di mana-mana. Sungai Bekasi bahkan seperti menjadi tempat sampah raksasa,” ujarnya dengan nada prihatin.

Karena itu, ia menegaskan bahwa upaya mengolah sampah harus dimulai dari rumah tangga. Salah satunya melalui pembuatan eco enzyme—cairan hasil fermentasi limbah organik seperti kulit buah dan sayuran yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan ramah lingkungan.

“Prinsipnya, pengolahan sampah dimulai dari rumah masing-masing,” kata Muji.

Pelatihan ini menghadirkan narasumber Yohanes Parsunu dari Paroki Jatiwaringin, Gereja Santo Leo Agung. Dengan bahasa yang sederhana namun penuh semangat, Yohanes mengajak umat untuk ambil bagian dalam gerakan menjaga bumi.

Baginya, eco enzyme bukan sekadar teknik mengolah sampah, tetapi juga sebuah gerakan kesadaran.

“Ini cara kecil yang bisa kita lakukan untuk berkontribusi menjaga bumi yang Tuhan percayakan kepada kita,” ujarnya.

Berpraktik membuat eco enzyme dengan semangat dan gembira. (EDL)

Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari Dewan Paroki Harian. Mewakili DPH, Henricus Teguh Mardiuntoro menegaskan bahwa pelatihan eco enzyme merupakan bagian dari pelaksanaan program Arahan Dasar Keuskupan Agung Jakarta.

Ia pun mengapresiasi antusiasme para peserta yang mengikuti pelatihan dengan penuh kegembiraan.

“Kita sudah melakukan dosa terhadap bumi yang kita diami ini. Karena itu kita perlu segera melakukan pertobatan ekologis,” katanya mengingatkan.

Suasana aula semakin hidup ketika para peserta mulai memahami bahwa sampah yang selama ini dianggap tidak berguna ternyata bisa diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Para peserta langsung praktik membuat eco enzyme.

Namun Pastor Ramses Nainggolan, OFM Cap, yang turut hadir, memberikan penegasan penting agar semangat ini tidak disalahpahami.

“Prinsipnya kita mengurangi sampah,” katanya.

“Jangan sampai kita berpikir menghasilkan sampah supaya ada yang bisa diolah. Itu salah kaprah.”

Bagi Romo Ramses, langkah kecil seperti ini adalah bagian dari tanggung jawab iman untuk merawat rumah bersama—bumi yang diberikan Tuhan kepada manusia.

Hari itu, di aula yang dinamai menurut Santo Fransiskus Asisi, para oma, ibu-ibu dan OMK belajar sesuatu yang tampak sederhana: mencampur kulit buah, gula, dan air dalam sebuah wadah.

Namun dari kesederhanaan itulah tumbuh sebuah harapan besar—bahwa perubahan bagi bumi bisa dimulai dari tangan-tangan yang setia bekerja di dapur rumah.

Dan mungkin, dari tangan para ibu dan oma-oma itulah, bumi menemukan sahabat-sahabatnya yang paling setia. (tD/EDL)

Related Post