Dari Seminar Orang Muda Katolik di Medan: Hati-hati dengan Aksi Merusak Jiwa Sejati Politik

69
Orang Katolik jangan hanya bermain di "lapangan sendiri".

Orang Katolik harus tetap ambil peran dalam kondisi apa pun. Jangan hanya bermain di “lapangan sendiri”.

Politik sejatinya adalah arena perjuangan mulia untuk memperjuangkan hak dan kewajiban seluruh manusia.

Politik bukan sesuatu yang kotor. Namun, jika ada politikus yang bergerak hanya untuk kebaikan pribadi atau partai, itu sebuah aksi merusak jiwa sejati politik.

Politik harus diletakkan pada posisinya sebagai sesuatu yang beradab. Di sinilah pendidikan politik dibutuhkan.

Butir-butir pemikiran tersebut ditegaskan oleh Uskup Agung Medan, Mgr Kornelius Sipayung ketika memberi sambutan secara daring pada seminar nasional bertema “Politik Kaum Muda Katolik Ditinjau dari Perspektif Gereja” di Catholic Center, Kota Medan, Sumatera Utara (3/11/22).

Seminar yang diadakan oleh Kaum Muda Katolik Keuskupan Agung Medan itu, dibuka oleh Walikota Medan Bobby Nasution dan dihadiri 600-an orang dari kalangan biarawan/biarawati, tokoh-tokoh Katolik, dan para mahasiswa di Medan dan sekitarnya.

Orang Katolik harus tetap berkontribusi.

Romo Antonius Benny Susetyo (Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila) dan Yunarto Wijaya (Direktur Eksekutif Charta Politika) menjadi narasumber, dengan moderator Parulian Silalahi.

Benny mengatakan, “2024 akan menjadi tahun politik magis, yang penuh kekerasan, manipulasi agama, memecah belah masyarakat dan mengancam keutuhan negara serta eksistensi Pancasila sebagai dasar negara Indonesia.”

Mencermati dinamika dalam tubuh Gereja Katolik, Benny mengatakan, belakangan, terutama sejak Orde Baru umat Katolik hanya bermain di “lapangan sendiri”.

Dulu, katanya, banyak pemuda yang masuk dalam gerakan kemerdekaan Indonesia, seperti Yos Sudarso. “Terasa kemudian, umat Katolik sibuk sendiri dengan urusan altar, dan tidak masuk ke dalam massa. Orang Katolik berubah menjadi pragmatis,” ujar Benny.

Menurut Benny, kaum Katolik harus tetap mengambil peran dalam kondisi apa pun. “Anda percaya kepada Yesus, maka anda harus berani memanggul salib sampai Kalvari. Anda harus melakukan panggilan menjadi terang dan garam dunia, menghadirkan Kerajaan Allah di dunia ini,” tandas Benny menantang.

Tambah Benny lagi, “Tahun politik di Indonesia ini merupakan momentum yang sangat baik untuk melakukan panggilan itu di dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.”

Benny juga menekankan pentingnya mempertahankan Pancasila dan nilai-nilainya. “Pancasila cerminan hubungan manusia dengan Allah dan manusia dengan sesama manusia. Saat manusia beriman dan mencintai Tuhan, dia akan mencintai sesamanya. Karena mencintai sesamanya, dia akan menghargai hak dan kewajiban sesamanya. Ini menciptakan persatuan dan keadilan sosial. Ini adalah habituasi Pancasila,” kata Benny. (EDL/tD)