Doa dan Kesombongan

136

Eleine Magdalena, Penulis buku-buku renungan best seller

Kalau ditanya bagaimana pandangan kita tentang Allah, mungkin cukup banyak orang yang akan menggambarkan Allah sebagai Tuhan yang keras, menuntut dan suka menghukum. Banyak dari kita menjalankan kewajiban agama karena takut pada hukuman.

St. Theresia dari Lisieux selalu percaya pada Bapa-Nya yang “super” baik. Ia lebih banyak mengarahkan pandangannya kepada kebaikan Allah daripada kerapuhannya sendiri. Daripada terus-menerus mengeluh karena ketidaksempurnaan diri yang dapat menimbulkan reaksi berlawanan dari kodrat dan menimbulkan keputusasaan, St. Theresia dari Lisieux memilih mengakui kelemahannya dan memberi kesempatan Allah memuliakan diri dalam kekecilannya.

Injil Luk 11:5-13 mau berbicara mengenai Allah yang memberikan yang terbaik yang kita butuhkan, yaitu Roh Kudus.

Gambaran mengenai ayah yang tidak akan memberikan ular atau kalajengking kepada anaknya, mau meluruskan pandangan salah mengenai Allah yang kejam.

Setiap dari kita boleh meminta, mencari dan mengetuk pintu kerahiman Tuhan untuk memperoleh apa yang kita perlukan.

Bapa yang Mahatahu akan memberikan apa yang baik dan yang kita perlukan. Dan terutama Ia tahu kita sangat membutuhkan Roh Kudus untuk menguasai dan membimbing kita.

Dengan bercerita tentang sahabat yang sudah tidur namun bangun untuk melayani tamunya, Yesus mau kita memohon dengan tekun tanpa jemu-jemu dan bertahan dalam doa tanpa menjadi lelah.

Bukan karena Tuhan suka membuat kita menunggu, melainkan karena kita perlu menyelaraskan permintaan kita dan kehendak-Nya. Hati kita yang sekeras batu itulah yang membutuhkan doa yang berulang-ulang dan terus-menerus untuk dapat mendengarkan sapaan lembut Roh Kudus dalam hati kita, mengenali apa yang baik dan yang kita perlukan.

Doa yang digerakkan oleh Roh Kudus dari kedalaman hati inilah yang dapat “menaklukkan” hati Allah karena sesungguhnya berasal dari hati-Nya sendiri.

Manusia perlu mematahkan kesombongan dari dalam dirinya sebelum doa-doanya dikabulkan Tuhan. Setelah egoisme dibuang jauh-jauh maka Allah pun dapat memberikan banyak tanpa bahaya kita menjadi sombong atau makin terikat pada egoisme kita. Aman untuk mengabulkan permintaan orang yang rendah hati dan mau hidup benar di hadapan-Nya karena Allah tahu bahwa anugerah dan rahmat yang dicurahkan-Nya pada orang rendah hati tidak akan menghancurkannya tetapi membawa pada kebaikan.