Hidup Setelah Mati

227
Eleine Magdalena

Oleh Eleine Magdalena, Penulis buku Kekasih Tuhan dan Kekasih Suami

“Muda hidup foya-foya, tua kaya-raya, mati masuk surga.” Begitu kalimat yang cukup populer, sering kita dengar. Rupanya semua orang sadar bahwa kehidupan kita tidak berakhir di dunia. Ada kehidupan setelah kematian.

Kita pun sadar bahwa hidup kita di dunia terkait dengan hidup kita setelah mati. Bagaimana menjalani hidup kita di dunia menentukan keadaan kita kelak sesudah mati. Kita semua tentu mengharapkan surga.

Jika mendengar ada kenalan yang meninggal, yang terlintas di benak saya adalah kualitas hubungannya dengan Tuhan semasa hidup. Apakah dia sudah dibaptis atau belum; apakah dia sungguh-sungguh memercayakan diri kepada Tuhan atau tidak, apakah dia baik terhadap orang lain atau tidak dan apakah dia sempat menerima sakramen rekonsiliasi atau pengurapan orang sakit atau tidak di saat akhir hidupnya.

Bila ia sudah dibaptis dan selama hidup tetap percaya akan Penyelenggaraan Ilahi dan mencintai Tuhan di atas segalanya, maka kita bisa yakin bahwa ia menerima anugerah hidup kekal yang Allah janjikan itu.

Kita percaya bahwa ada kehidupan setelah kematian (Luk 20:27-38). Bagaimana bentuknya, kita tidak tahu pasti. Tuhan sendiri menjelaskan bahwa kehidupan setelah kematian itu berbeda dengan kehidupan kita di dunia ini.

Hidup bersama Allah di surga kelak, tidak lagi memikirkan soal kawin, makan, uang ataupun pekerjaan. Hidup di surga kelak adalah untuk memuji-muji Allah, menyembah-Nya dan selalu berada bersama-Nya.

Oleh karena itu, kita juga perlu mulai “membiasakan” diri dan mengarahkan hati kepada perkara-perkara surgawi. Kita perlu memikirkan Allah, apa yang dikehendaki-Nya dan apa yang menyenangkan hati-Nya.

Kita perlu senang berada bersama Allah dan menyembah-Nya karena hidup di surga kelak adalah bersatu dengan Allah, siang-malam memuji dan menyembah-Nya.

Di dunia ini kita tentu tetap perlu bekerja dan menjalankan tanggung-jawab masing-masing baik sebagai suami, istri, anak atau menantu.

Namun, kita melakukan semua itu bukan semata-mata demi uang, demi bos atau demi kesenangan saja, melainkan demi melakukan kehendak-Nya dan untuk menyenangkan hati-Nya.

Jika kita dipenuhi cinta akan Tuhan dalam apa pun yang kita lakukan, kita tidaklah jauh dari hidup kekal itu.

Seorang pastor pernah berkata: “Kalau kita tidak suka berdoa, tidak suka ke gereja, tidak suka bertemu Allah dalam Ekaristi, buat apa kita ingin masuk surga? Bukankah di sana kelak pekerjaan kita setiap saat adalah memuji-muji Tuhan dan menyembah-Nya seperti para malaikat?”.

“Wah, benar juga perkataan pastor ini” pikir saya dalam hati.

Nah, sekarang bagaimana dengan kita. Apakah kita senang bersama dengan Allah dan mencintai-Nya sehingga kita pun layak mendapatkan tempat dalam kehidupan di surga?