Peka dengan Bahasa Kasih dalam Keluarga

68

Oleh Eleine Magdalena, Penulis buku-buku renungan best seller

TEMPUSDEI.ID (27/12/21)-Seorang istri mengeluhkan sikap suaminya. Setiap hari ia memasak makanan kesukaan suaminya, menyiapkan keperluan suami ke kantor. Ia seorang istri yang rajin mengatur rumah sehingga setiap kali suaminya pulang dari kantor, rumah dalam keadaan bersih dan rapi. Anak-anak juga selalu sudah wangi ketika suaminya pulang ke rumah. Ia tidak mengerti mengapa suami menganggapnya sebagai istri yang kurang pengertian.

Ada pula suami yang bingung karena istrinya selalu saja merasa kurang dicintai. Padahal ia tidak pernah lupa menghadiahi istrinya setiap kali dari tugas keluar kota atau keluar negeri. Apalagi di hari ulang tahun istrinya, ia selalu memberi hadiah yang cukup mahal harganya.

Menurut Dr. Gary Chapman dalam bukunya The Five Love Languages kita perlu mengetahui bahasa cinta kita dan bahasa cinta pasangan kita sehingga ia merasa dicintai. Jika masing-masing merasa dicintai, maka ia pun mampu membagikan cinta.

Dr. Gary Chapman dalam bukunya menyampaikan lima cara mengutarakan dan mengerti cinta.

Kata-kata yang menguatkan

Ini adalah cara kita mencintai dengan memberikan pujian positif yang tulus. “Cantik sekali kamu menggunakan gaun ini”; “Terimakasih sudah menjadi suami yang baik” dst.

Waktu Bersama

Bila pasangan atau anggota keluarga kita adalah orang yang bahasa cinta utamanya adalah waktu bersama, maka ia akan sangat merasa dicintai jika ditemani, mempunyai percakapan yang berkualitas atau aktivitas yang diminati bersama dalam keluarga.

Hadiah

Bagi orang-orang tertentu simbol cinta yang bisa dilihat nyata lewat hadiah, sesuatu yang sangat penting. Orang seperti ini akan sangat menghargai pemberian. Hadiah itu tidak perlu mahal.

Pelayanan

Pada dasarnya yang mempunyai bahasa cinta primer pelayanan, mereka membutuhkan perhatian seperti membuatkan minum, menyiapkan vitamin, pakaian dll. Jika hal ini dilakukan maka mereka akan merasa dicintai.

Sentuhan Fisik

Sentuhan fisik sangat dibutuhkan bagi orang ini. Ia akan sangat senang bila dipeluk atau dibelai jika sedang sedih. Tanpa sentuhan fisik orang seperti ini merasa kurang dicintai.

Agar keluarga kita merasa dicintai kita perlu mengenali bahasa kasih mereka. Kita pun perlu mengenali bahasa kasih kita dan menyampaikannya kepada pasangan kita.

Bagi kita yang telah mengalami cinta Tuhan, sangat diharapkan untuk melayani dan memahami pasang-an dan anggota keluarga kita lebih dahulu. Tangki cinta kita setiap hari dipenuhi oleh kasih Tuhan jika kita meminta-Nya untuk memenuhi hati kita dengan kasih.

Seorang teman pernah berkata: “Setiap hari aku memohon kepada Tuhan untuk mengisi hatiku dengan cinta-Nya. Tanpa cinta Tuhan aku tidak mampu merasakan kehadiran-Nya”.

Suaminya yang jahat pelan-pelan menjadi baik dan mengasihinya. Kasih Tuhan dalam hatinya mengubah sang suami.

Dengan cinta-Nya kita mampu mengasihi dan melayani lebih dahulu. Jika pasangan dan anggota keluarga kita mengalami dan menerima cinta maka mereka pun pada gilirannya akan mampu mengasihi, mengampuni, dan melayani.

Menurut St. Fransiskus dari Sales, kita dapat mencintai secara afektif dan efektif. Dengan cinta afektif kita dapat berpaut pada Allah dengan segala yang berkenan kepada Allah. Dengan cinta afektif ini kita dipenuhi kesenangan, kebaikan, aspirasi, keinginan, kerinduan, dan semangat rohani sehingga roh kita semakin menyatu dengan-Nya. Cinta afektif membuat kita senang kepada Allah.

Sedangkan cinta efektif memampukan kita melayani Tuhan dan melakukan apa yang diperintahkan-Nya. Cinta ini melahirkan niat teguh, tekad bulat, ketaatan kokoh dalam diri kita untuk melaksanakan kehendak-Nya walaupun harus menderita. Cinta ini memampukan kita menerima kehendak-Nya. Cinta efektif membuat kita senang pada diri kita.

Pasangan suami-istri, orangtua-anak, menantu-mertua, kakak-adik dalam keluarga setiap hari berjuang untuk saling memahami. Perasaan tidak dicintai menjadi benih perselisihan. Marilah kita mencintai lebih dulu sebelum menuntut dicintai agar kita disembuhkan dan menyembuhkan. Tetap setia sampai akhir, rahmat Tuhan cukup bagi kita.*