Menjadi Pelayan yang Tulus

97

Oleh Eleine Magdalena, Penulis buku-buku renungan best seller

“Kerendahan hati adalah perhiasan para malaikat dan ketinggian hati adalah ciri khas setan-setan,” kata William Jenkyn.

TEMPUSDEI.ID (11/1/22)-Sering kita ingin menjadi kaya, berkuasa dan mendapat kedudukan terhormat. Kita iri hati bila ada orang lain lebih hebat, lebih disukai bos, lebih banyak teman, atau lebih banyak uang. Inilah tabiat manusia yang sering menimbulkan pertengkaran.

Dalam Injil Markus 9:33-37 para murid Yesus bertengkar memikirkan diri mereka masing-masing. Mereka berambisi untuk menjadi yang paling hebat dan mendapatkan tempat tertinggi.

Sering kita memikirkan kerajaan Yesus seperti kerajaan dunia yang menilai seseorang dari jabatan atau kekayaan. Oleh karena itu, kita mengejar posisi tertentu supaya dihormati. Kita melayani supaya dipuji orang. Tentu ini bukanlah motivasi yang tepat untuk melayani Tuhan.

Yesus mengajar para murid untuk menjadi pelayan yang rendah hati bagi sesama. Yesus mengajarkan juga untuk tidak iri hati dan terbuka menerima orang lain jika mau berkenan kepada Tuhan. Hal ini kontras dengan sikap para murid yang mencegah orang lain melayani dalam nama Yesus karena orang itu bukan termasuk kelompok mereka (ay 38).

Umumnya kita mudah membela teman walaupun salah, tetapi sukar mendukung orang lain di luar kelompok kita walaupun ia benar. Mau menjadi teman orang kaya dan orang penting tapi sulit memberi perhatian, waktu dan tenaga buat orang miskin. Bahkan kita sering melihat yang kuat menindas yang lemah, orang kaya mempermainkan orang miskin. Petani terpaksa menjual rugi hasil panenan karena tidak mempunyai posisi tawar. Peraturan kerap memihak pemilik modal. Hukum bisa diatur oleh uang. Orang miskin dan lemah menjadi korban.

Bagi orang-orang yang lemah dan tidak berdaya, inilah kita dipanggil untuk memberi hati, waktu, tenaga dan diri kita. Yesus mengingatkan kita untuk menerima dan mengasihi orang yang tidak berdaya dan tidak mempunyai kedudukan di masyarakat. Melayani dan berkorban untuk orang-orang miskin dan tidak berdaya sama dengan melayani Yesus sendiri.

Marilah kita melayani orang yang lemah dengan tulus hati bukan untuk mengejar pujian atau posisi terhormat.