Santo Nimatullah Kassab al-hardini, Orang Suci dari Libanon

1057

TEMPUSDEI.ID (15/12)-Santo Nimatullah adalah seorang rahib dari Gereja Maronit yang dikanonisasi oleh Paus Yohanes Paulus II. Gereja Maronit adalah salah satu dari Gereja-Gereja Katolik Timur yang berada dalam persekutuan penuh dengan Tahta Suci Roma

Youssef Kassab al-hardini lahir pada tahun 1808. Ayahnya bernama Gewagis Kassab dan ibunya Maryam Raad. Dia masuk sekolah untuk para rahib St. Anthonios di Houb dari tahun 1816 hingga 1822.

Pada bulan november 1828 ia masuk biara St. Anthonios Ishaia di Batrun Libanon dan mengambil nama biara Nimatullah. Selain belajar, tugasnya sehari-hari di dalam biara adalah menjilid buku. Kaul pertamanya diucapkannya pada tanggal 14 November 1830 dan setelah menyelesaikan studi teologinya, ia ditahbiskan menjadi imam pada hari natal 25 Desember 1833 oleh Uskup Seiman Zwain.

Pater Nimatullah menjalani hidup membiara dengan cara yang sangat suci. Ia adalah seorang pendoa, secara total “disemangati oleh Tuhan”. Siang dan malam dijalaninya dengan meditasi, doa dan adorasi kepada Ekaristi. Santa Perawan Maria menjadi suri teladannya dengan devosi Doa Rosario.

Pribadinya sangat sederhana, sabar dan penuh kerendahan hati. Ia sungguh menghayati kaul hidup membiara yaitu “ketaatan, kemurnian dan kemiskinan” demi kesempurnaan. Bahkan saat ia masih hidup, para rahib sahabatnya dan orang-orang yang mengenalnya selalu menyebutnya dengan sebutan “Mor Soliha” atau “Orang kudus”. Salah satu murid pater Nimatullah adalah Santo Charbel Makhlouf.

Beatifikasi Nimatullah al-Hardini oleh Paus Yohanes Paulus II diselenggarakan di Basilika Santo Petrus di Roma pada hari Minggu 10 Mei 1998. Gereja Maronit memperingatinya tiap tanggal 14 Desember. Santo Nimatullah dikanonisasikan pada hari Minggu, 16 Mei 2004 oleh Sri Paus Yohanes Paulus II di Basilika Santo Petrus, Roma.

Santo Nimatullah, hidup suci dan penuh mukjizat

Mukjizat-mukjizat Santo Nimatullah

Seumur hidupnya, Pater Nimatullah melakukan banyak mukjizat oleh kehidupan rohaninya yang dalam, jasa-jasanya yang besar dan jiwanya yang bersinar menyatu dengan Khaliknya melalui doa. “Orang Kudus dari Kfifan” ini memiliki karunia bernubuat dan karena itu dikenal sebagai “orang yang memperoleh penglihatan.”

Suatu ketika tatkala mengajar murid-muridnya sambil menghadap ke tembok besar di luar biara Kfifan, dia memperoleh firasat bahwa tembok itu akan segera runtuh. Karena itu dia menyuruh murid-muridnya pindah dari tempat itu tak lama sebelum tembok itu benar-benar runtuh, sehingga mereka selamat dari cedera.

Pada kesempatan lain, Pater Nimatullah memperoleh firasat bahwa kandang ternak milik biara Kfifan akan runtuh menimpa sapi-sapi di dalamnya (pada masa itu sapi dianggap sebagai aset vital biara). Pater Nimatullah meminta rahib yang bertanggung jawab atas kandang tersebut untuk memindahkan sapi-sapi itu. Mula-mula si rahib ragu-ragu, tetapi Pater Nimatullah bersikeras memaksa si rahib untuk melakukannya. Begitu sapi-sapi selesai dipindahkan, atap kandang benar-benar runtuh dan tak satu pun sapi yang mati.

Kesembuhan Putera-Altar

Pada kesempatan lain, Pater Nimatullah hendak merayakan misa hariannya namun putera-altar yang biasa membantunya belum tiba di gereja pada waktunya. Pater Nimatullah kemudian pergi ke kamar anak itu dan menyuruhnya bangun untuk melayani misa. Si putera-altar tidak dapat bangun karena terserang demam tinggi. Pater Nimatullah lalu menyuruh anak itu bangkit berdiri, dan memerintahkan demam itu “Pergi darinya…” Dengan segera, anak itu sembuh dan pergi melayani misa yang dirayakan Pater Nimatullah dengan suka cita dan penuh semangat.

Lumbung

Pater Nimatullah pernah berdoa dan memberkati lumbung (berisi gandum dan berbagai bahan pangan) biara El-Kattara yang sudah sangat berkurang isinya. Beberapa saat kemudian, lumbung itu penuh dan tumpah-ruah. Semua orang takjub dan memuji Allah atas apa yang mereka saksikan.

Saat masih hidup, rekan-rekannya sesama rahib serta masyarakat yang mengenalnya menganggap Pater Nimatullah seorang santo. Mereka kerap mendatanginya untuk minta didoakan bahkan memintanya memberkati air yang digunakan untuk ladang dan ternak mereka. Kehadirannya senantiasa membangkitkan rasa hormat, suasana takzim dan khusyuk.

Moussa Saliba

Sesudah wafatnya, Allah mengaruniakan banyak kesembuhan dan mukjizat melalui perantaraan-doa si “Orang Kudus dari Kfifan.” Salah satu kesembuhan itu dikaruniakan kepada seorang pria Orthodox tuna-netra, Moussa Saliba, dari kota Btegrin (El-Maten).

Moussa Saliba mengunjungi makam Nimatullah, berdoa dan meminta berkatnya. Moussa Saliba kemudian tertidur nyenyak, dan Pater Nimatullah tampak padanya dalam mimpi lalu menyembuhkan matanya, sehingga dia dapat melihat dengan jelas.

Mickael Kfoury

Mukjizat lainnya dialami oleh seorang pria Katolik Melkit, Mikael Kfoury dari kota Watta El-Mrouge. Sejenis penyakit tak tersembuhkan menyerang kedua tungkainya hingga mengering, tinggal kulit membungkus tulang, dan melengkung hingga membuatnya tak dapat melakukan apa-apa. Para dokter yang merawatnya telah kehilangan segala harapan untuk dapat menyembuhkannya.

Setelah mendengar mukjizat yang dilakukan Pater Nimatullah, pria ini berziarah ke makam Romo Nimatullah di Kfifan dan meminta kesembuhan darinya. Malam itu dia tidur di biara, dan dalam mimpinya tampak padanya seorang rahib tua yang berkata: “Bangkitlah dan pergilah membantu para rahib mengangkut buah-buah anggur dari kebun anggur.”

Dia langsung menanggapi: “Tidakkah kau lihat bahwa saya lumpuh, bagaimana mungkin saya berjalan dan mengangkut buah-buah anggur itu?” Si rahib menjawab: “Ambillah sepasang sepatu ini, kenakanlah dan berjalanlah.”

Pria itu mengambil sepatu yang ditunjukkan padanya dan mencoba meluruskan kaki kanannya, dan dengan penuh keheranan dia dapat melakukannya! Dia terbangun dan mulai merasa kedua kakinya kembali berbalut darah dan daging, dan sesudah dia berdiri dia mendapati dirinya sepenuhnya sembuh.

Masih banyak lagi mukjizat Tuhan melalui Santi Nimatullah. Santo Nimatullah, doakanlah kami. (dbs/tD)