Hadiah Tak Terduga dari Tuhan

138
Eleine Magdalena

Eleine Magdalena, Penulis buku-buku renungan best seller

TEMPUSDEI.ID (11 OKTOBER 2021)-Sejak dua tahun terakhir Ibu Maria menyimpan kerinduan sangat dalam untuk berziarah ke Yerusalem. Namun, mereka tidak mempunyai cadangan dana untuk berziarah sekeluarga. Ibu ini berdoa terus memohon dalam kerinduan agar diberi kesempatan berziarah bersama suami dan kedua anaknya.

Tepat dua bulan sebelum liburan sekolah, ada orang yang menyewa rumah mereka selama 3 tahun. Akhirnya, tahun 2010 yang lalu mereka bisa berangkat. Dana yang dibutuhkan untuk pergi bersama suami dan kedua anaknya sekitar 100 juta rupiah. Itulah jumlah yang diterima suami Ibu Maria dari hasil mengontrakkan rumah mereka yang tidak ditempati.

Ibu Maria bersyukur sekali bahwa akhirnya diberi kesempatan mengunjungi tanah suci Yerusalem bersama keluarganya. Tuhan mendengarkan doa umat-Nya.

Lain lagi pengalaman Ibu Vero. Sudah empat bulan ia tidak mempunyai pembantu rumah tangga. Semua pekerjaan di rumah dikerjakan sendiri. Kedua anak laki-lakinya sudah duduk di SMA. Mereka banyak disibukkan pekerjaan dan kegiatan sekolah. Anak perempuannya baru berusia 5 tahun.

Ketika liburan tiba Ibu Vero mengajarkan kepada kedua anak remajanya untuk lebih mandiri mengurus kebutuhan sendiri di rumah. Mulai membersihkan kamar tidur, menyiapkan makan dan mencuci piring setelah makan. Anak-anak ini biasanya menghindar jika diminta ibu mereka membersihkan kamar dengan alasan bahwa setelah dipakai kamar akan berantakan lagi jadi percuma dibereskan. Jika diminta mencuci piring setelah makan, mereka biasanya cepat-cepat mau pergi dengan alasan sudah ditunggu teman. Tidak mudah meminta anak-anak membantu pekerjaan di rumah. Apalagi jika sudah diajak oleh teman-teman ke mall, nonton, makan, atau bermain ke rumah teman.

Mendengar alasan anak-anak untuk menghindar dari tanggung jawab dalam membantu pekerjaan rumah tangga, Ibu Vero tidak putus asa. Ibu Vero menasihati, mengajak bicara, dan tetap meminta mereka melakukan bagian yang ditugaskan kepada mereka di rumah.

Ibu Vero tidak putus asa mengingatkan anak-anak membiasakan diri mencuci piring sendiri, membereskan kamar tidur, dan mencuci mobil. Demikian juga meminta mereka membaca Kitab Suci dan berdoa Rosario. Walaupun awalnya anak-anak merasa berat dan banyak protes. Namun, pelan-pelan karena Ibu Vero terus menasihati pentingnya mandiri dan tidak tergantung pada pembantu rumah tangga, akhirnya kedua anak remajanya mulai bisa menerima tanggung jawab di rumah dan membantu ibunya.

Biasanya pekerjaan ini ditangani Ibu Vero seorang diri. Namun, sejak anak-anak libur dan banyak waktu di rumah, mereka menyiapkan makan pagi bersama. Terjadi komunikasi dan interaksi yang lebih sering lewat pekerjaan sehari-hari yang harus mereka kerjakan selama tidak ada pembantu rumah tangga. Akibatnya anak-anak pun lebih terbiasa berusaha dan tidak hanya terima jadi.

Hingga saat ini keluarga Ibu Vero sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga sendiri. Komunikasi di antara keluarga juga makin baik lewat pekerjaan-pekerjaan rutin yang mereka kerjakan bersama-sama.

Pengalaman ibu Theresia lain lagi. Suatu ketika Ibu Theresia bertanya tentang kegiatan positif apa yang sebaiknya ditawar-kan untuk anaknya selama liburan sekolah. Ibu ini khawatir melihat anaknya hanya berkeliling ke mall, main games, tidur lebih banyak, atau bermain ke rumah teman selama liburan sekolah. Liburan ke tempat wisata atau keluar kota tidak bisa dilakukan bersama karena orangtua bekerja.

Saya menganjurkan ibu ini mengikutsertakan putranya dalam camping rohani siswa selama satu minggu di Pertapaan Karmel. Akhirnya dengan semangat si ibu menyampaikannya kepada putra tunggalnya Paulus. Paulus berangkat bersama temannya, Daniel.

Hari pertama sampai dengan hari ketiga mereka ingin pulang. Namun ketika masuk dalam sesi penyembuhan batin mereka semua tersentuh dan bisa melepaskan rasa sakit hati yang selama ini disimpan sendiri. Daniel merasakan kelegaan setelah bisa mengampuni ayah yang menceraikan ibunya. Daniel mau mencoba mengampuni ayahnya. Paulus juga merasa lebih bersemangat untuk berdoa dan membaca Kitab Suci setelah mengikuti camping rohani.*