Susanti Ndapataka, Si Anak Gembala Sapi, Perebut Medali Emas PON Papua, Ingin Kuliah

3832
Susan usai bertarung dan merebut Medali Emas dan ketika dijemput di Bandara eltari Kupang. Susan duduk di lantai pick up. Pelatihnya dengan kalung bunga di leher. Foto: ist/kolage tempus)

TEMPUSDEI.ID (6 OKTOBER 2021) – Susanti Ndapataka. Begitu nama atlet NTT peraih Medali Emas PON XX di Papua. Dia telah mengharumkan nama NTT melalui cabang olahraga Muaythai.

Tanggal 6 Oktober 2021 dia sudah kembali ke Kupang melalui Bandara Eltari. Jangankan terlihat suasana gegap gempita, kedatangannya pun tidak diketahui orang. Tidak ada tepuk tangan, apalagi sorak-sorai. Alhasil, hanya beberapa orang yang menjemput dengan sebuah mobil pick up. Susanti lalu duduk lesu di lantai pick up. Untunglah ada pemuda dari Laskar Timor Indonesia (LTI) yang ikut menjemput, lalu segera menuju ke rumah pelatihnya.

Susan bersama pelatihnya dan beberapa pemuda di mobil pick up yang biasa dipakai untuk angkut barang dan hewan.

Siapakah Susanti ini? Dia adalah atlet andalan NTT yang sarat prestasi walau miskin fasilitas. Dia adalah anak bungsu dari seorang gembala sapi di Kupang. Sebagai gembala, ayahnya tidak memiliki waktu untuk hal-hal lain, termasuk untuk menjemput sang buah hati. “Papa tidak menjemput karena harus gembalakan sapi,” aku Susan kepada tempusdei.id. Sedangkan ibunya sudah meninggal sejak tahun 2004.

Tahun 2017 dia menamatkan studinya dari sebuah SMA di Kupang, namun karena tidak memiliki biaya, dia tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. “Saya ingin sekali kuliah di bidang olahraga, tapi mau bilang apa….?” ujarnya melalui sambungan telepon.

Sebagai gembala, sang ayah tidak bisa membiayai kuliahnya. Ayahnya berasal dari Sumba Barat Daya yang sudah lama merantau ke Kupang.

Di tengah keterbatasan orang tua, Susan bertekad untuk meraih prestasi setinggi-tingginya agar bisa membanggakan hati papanya yang setiap hari bertarung di padang terbuka dengan panasnya matahari Kupang. “Saya ingin banggakan Papa di padang dan Mama di Surga,” ujarnya.

Sebelum sukses merebut Medali Emas di PON Papua, anak bungsu dari empat bersaudara ini sudah mengoleksi sejumlah prestasi membanggakan.

Sayangnya, Pemda NTT “lipat tangan” saja ketika Susan kembali dari medan laga. “Belum ada janji apa pun untuk saya dari Gubernur,” katanya singkat.

Tentang penjemputan dengan pick up, Susan berkata, “Tidak apa-apa. Saya terima saja. Kan ada juga teman-teman yang jemput. Biar saja, tidak apa-apa,” pungkasnya. (tD/EDL)

3 COMMENTS

  1. Proficiat Susan. NTT telah diberi nama olehmu melalui prestasi ini. Yakinlah”seseorang akan SURVIVE justru ketika ia ditempa oleh kesulitan”. Selamat utk PEMDA NTT juga karena tanpa sadar sudah turut ditenarkan oleh seorang anak gembala yg tak mendapat apresiasi terbuka. Proficiat SUSAN !