I Remember Flores

188
Aku Terkenang Flores

Dr. Yoseph Yapi Taum, Dosen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

I Remember Flores (1957) atau Aku Terkenang Flores adalah judul buku yang ditulis Kapten Tasuku Sato, Komandan Angkatan Laut Jepang di Pulau Flores. Buku ini berisi kenangan-kenangan Sato “yang tidak pernah dapat dilupakannya” tentang Pulau Flores.

Ketika diberangkatkan dari Jepang di tahun 1943, Sato naik pesawat bersama tiga orang “misterius” yang kemudian diketahuinya bernama Uskup Ogihara dari Hiroshima, Uskup Agung Yamaguchi dan sekretarisnya Pater Iwanaga dari Nagasaki.

Ketika mulai bertugas di Flores, Kapten Sato harus menawan orang-orang Belanda. Di antara orang yang harus ditawan itu adalah Mgr. Hendrik Leuven, Uskup Flores yang bertempat tinggal di Ndona, yang sangat dicintai orang Flores. Pemerintah Jepang mengumumkan mengangkat Uskup Yamaguci sebagai Uskup Flores dan menahan imam-imam Belanda lainnya. Pengumuman pergantian uskup sangat mencemaskan Kapten Sato yang menduga bakal terjadi pemberontakan.

Detik-detik menegangkan pergantian misi pun terjadi. Uskup dan beberapa imam Belanda diantar ribuan umat Katolik ke pesawat Jepang untuk “dibuang”. Ribuan umat pun berlutut,  mengatupkan tangan sambil menangis terisak-isak, dan menerima berkat terakhir dari Uskup Leuven. Sato mengira, umat akan melakukan pemberontakan terhadap Jepang. Tetapi adegan berikutnya membuat Kapten Sato terkesima.

Umat Katolik Flores menyambut dengan meriah kedatangan Uskup Yamaguchi yang baru keluar dari pesawat yang sama. Uskup Yamaguchi bercakap-cakap dengan ramah dan mesra, seperti seorang ayah pada anak-anaknya. Penduduk mengerumuni Uskup yang mengenakan ikat pinggang ungu dan salib emas berkilat tergantung pada lehernya. Ada yang berlutut mencium tangannya, yang lain lagi mengangkat rumbai jubahnya lalu menciumnya. Yang lain lagi bahkan menangis, dan setiap orang berbicara dengan penuh kegembiraan, rasa bahagia, dan damai.

Tak Terlupakan

“Inilah sebuah adegan yang sulit saya lupakan, sukar dipercaya, dan sukar untuk dilukiskan. Adegan yang lebih indah bahkan dibandingkan terbitnya matahari yang memantulkan cahayanya di kolam di pinggir lapangan,” tulis penguasa Jepang yang ketika itu sama sekali tidak mengenal iman Katolik dalam sub-judul “Suatu Paradoks: Damai di Tengah-tengah Amukan Perang.”  Pengalaman kontak dengan rohaniwan dan umat Katolik Flores sangat membekas di relung jiwanya.

Setelah perang berakhir, di tahun 1946 Kapten Sato dikirim kembali ke Jepang. Dalam suatu permenungan sentimentalnya akan Flores, Kapten Sato memutuskan untuk dipermandikan. Dia mengakhiri bukunya dengan sebuah refleksi yang menyentuh. “Tidak sulit melihat tangan Tuhan dalam penempatan saya di Pulau Iman selama tahun-tahun perang. Bekas-bekas jari-Nya masih membekas di banyak tempat di mana saya dibimbing-Nya dengan lemah lembut dan diselamatkan-Nya dari banyak bahaya. Untuk itulah saya bersyukur kepada Tuhan. Dan untuk itu pulalah  maka “I remember Flores!” 

2 COMMENTS