Kado Tahbisan Uskup Padang Mgr Vitus Rubianto SX: Meracik Rendang Sabda di Ranah Minang

740
Mgr. Vitus S. Rubianto, SX

Simply da Flores, Alumnus Confortian

TEMPUSDEI.ID (7 OKTOBER 2021) – Keuskupan Padang bersukacita mendapat Uskup baru, Mgr. Vitus Solihin Rubianto, SX.  Mgr Vitus sebelumnya adalah dosen Kitab Suci di STF Driyarkara. Ia terpilih untuk menggantikan alm. Mgr. Martinus Dogma Situmorang, OFMCap.

Hari pentahbisan yang tertunda dan jatuh pada tanggal 7 Oktober, bertepatan dengan Pesta Santa Maria Ratu Rosario, Bunda Ratu para Imam dan Bunda Segala Bangsa.

Bagi saya, Pentahbisan Uskup Padang ini istimewa, karena Pastor VS Rubianto, SX adalah uskup pertama dari Regional Misi Xaverian Indonesia, sekaligus menjadi Uskup di Ranah Minang. Karena itu, saya membuat tulisan ini, sebagai ucapan selamat kepada beliau, dan ‘kado kecil’ dari angkatan pertama Indonesia, calon imam Xaverian.

Uskup Vitus Rubianto, SX, Uskup Padang

Meracik Rendang Sabda

Secara umum, rendang sudah sangat dikenal sebagai makanan khas dari masakan Padang. Daging sapi yang diolah dengan racikan bumbu khas ibu-ibu Minangkabau. Dan kekhasan itu sulit ditiru daerah lain. Rendang menjadi identik dengan masyarakat pemiliknya dan lokalitas adat budaya daerahnya.

Serikat Xaverian sudah 70 tahun hadir di Indonesia, sebagai wilayah karya misinya. Dan wilayah pertama adalah di Keuskupan Padang, Ranah Minang, meliputi area yang begitu luas; propinsi Sumatera Barat, sampai Bagansiapiapi dan kepulauan Mentawai.

Para Xaverian asal Italia, yang sebagian besar pindah dari daerah misi di China, datang ke Padang memulai karya misinya. Setelah 70 tahun, sekarang sudah memiliki anggota konggregasi asal Indonesia, sudah mengirim imamnya bermisi ke Afrika, Jepang dan Amerika Latin. Sekarang satu anggota Xaverian asal Indonesia, terpilih sebagai Uskup, justru di wilayah awal misinya, yakni Keuskupan Padang.

“Meracik Rendang Sabda” menjadi ungkapan yang saya pilih untuk menyatakan dua hal.  Pertama adalah relasi khusus Xaverian dan wilayah Minangkabau, Keuskupan Padang dalam karya misioner selama 70 tahun.

Kedua, adalah soal konteks. Bagaimana Xaverian berkarya membawa Sabda Allah, Yesus Kristus ke tengah wilayah adat budaya Minangkabau, untuk melayani umat Katolik yang berasal dari berbagai penjuru Indonesia. Umat yang berasal dari adat budaya Nias, Batak, Mentawai, China, Jawa, Toraja, Dayak, Flores, dan lainnya.

Sabda Allah dialami dan diwartakan dengan cita rasa “rending” – rasa kelokalan Minangkabau, sebagai konteks. Salah satu motto Xaverian: Membawa Kristus kepada dunia, dan membawa dunia kepada Kristus. Kristus, Sabda dalam konteks dunia Keuskupan Padang – Ranah Minang. Semangat gereja berbasis lokal, gereja kontekstual dan gereja inkulturatif.

Uskup Dr. Vitus Rubianto SX

Menjadi Gembala di Ranah Minang

Dengan menjadi Uskup Keuskupan Padang, Mgr. VS Rubianto, SX menjadi pelayan dan gembala yang melayani umat di area adat budaya Minangkabau – di Ranah Minang, Sumatera Barat. Dan yang digembalakan adalah umat Katolik dari berbagai latar adat budaya, yang bukan orang Minangkabau. Masyarakat Minang mayoritas beragama Islam.

Konteks tugas  kegembalaan ini menjadi istimewa bagi Sang Gembala. Mengapa ? Pertama, adat budaya Minangkabau adalah ibarat kolam ikan bagi umat gereja Keuskupan Padang; yang berasal dari berbagai latar belakang budaya luar Minangkabau. Maka, perjuangan menjadi umat Katolik di satu pihak, dan saat yang sama harus membawa diri menjadi sesama di lingkungan sosial masyarakat yang majemuk, dengan dominan adat budaya Minangkabau yang beragama Islam.

Sang Gembala dituntut mengenal domba-dombanya dan area penggembalaannya. Kedua, kehidupan berbangsa dan bernegara. Baik masyarakat Minangkabau dengan latar belakang adat budaya dan agamanya, maupun umat Katolik Keuskupan Padang yang majemuk, dibingkai dalam kesamaan sebagai warga negara kesatuan republik Indonesia. Dalam praktik keseharian, masyarakat Minangkabau yang mayoritas dalam urusan administrasi dan jabatan pemerintahan. Kebijakan pemerintahan dan pembangunan berlaku bagi semua warga, termasuk umat Katolik. Dalam konteks ini, Mgr. VS Rubianto, SX. menjalankan tugas kegembalaan, mewartakan Sabda dan memimpin pastoral Keuskupan Padang. Menggembala di tengah keragaman sosial, budaya, ekonomi dan politik.

Ketiga, jangkauan luas wilayah, dengan tenaga imam yang terbatas. Dalam kondisi demikian, kemajuan zaman dengan dominasi teknologi digital mewarnai tugas kegembalaan ke depan. Mgr. VS Rubianto, SX diandalkan bisa menggembalakan umatnya, agar tidak tercerai belai oleh serigala zaman. Dengan motto tahbisan Uskup, Missericodia Motus – tergerak oleh belaskasihan, kiranya Uskup Padang ini bisa mengahadapi kenyataan, membaca tanda zaman dan mampu membuat kebijakan pastoral yang smart untuk umatnya. Kekuatan Cinta Kasih dari Yesus Sang Raja Cinta, Allah Sumber Kasih, pasti akan menjadi andalan tunggalnya. Bekal pengetahuan Kitab Suci dengan aneka konteks dan kemampuan seni karikaturnya, kiranya menjadi alat handal melakukan tugas kegembalaan bagi gereja zaman milenial digital ini.

Keempat, deretan harapan umat berbagai latar belakang dan umur, sebagaimana dipublikasi Komsos dan media sosial, adalah realitas kehidupan gereja zaman now di Keuskupan Padang. Konteks dinamika sosial ekonomi politik Indonesia dan dunia, kiranya sudah direkam dan dibawa dalam doanya Uskup Vitus untuk mengemban tugas kegembalaan.

Pengalaman selama studi Kitab Suci di Roma, juga perjumpaan dengan begitu banyak pihak dari aneka latar belakang adat budaya, akan menjadi guru dan buku sumber bagi Mgr. VS Rubianto, SX untuk membaca dan memahami dinamika kehidupan umat gereja di Keuskupan Padang dan konteks area kegembalaannya.

Kelima,  Mgr. VS Rubianto, SX tetap berjiwa misioner Xaverian, maka tugas kegembalaan ini adalah juga tugas misionernya sebagai Imam Xaverian. Motto Pendiri Xaverian, St. Guido Maria Conforti dan pelindung konggregasi Xaverian – St. Fransiskus Xaverius, kiranya selalu menjadi napas dan detak jantung Mgr Vitus dalam tugas kegembalaan. Doa pribadi, hubungan istimewa dengan Sang Imam Agung, Sang Gembala Utama dan abdi para abdi – servus servorum Dei– adalah sumber kekuatan beliau. Itulah yang dinyatakan dalam Motto  Missericodia Motus. Beliau justru “tergerak oleh belaskasihan”, maka siap untuk melayani, menggembalakan umat, dan meracik “Rendang Sabda Allah” bagi aneka umat Katolik di Keuskupan Padang.

Selamat menjalankan tugas pelayanan kepada Mgr. Vitus Solihin Rubianto, SX. Proficiat, In Omnibus Christus – Kristus dalam segalanya, selalu memberkati dan menyertaimu, karena Dialah yang memilih dan mendorongmu menjadi abdi-Nya.

1 COMMENT