J.E Sahetapy di Mata Ahmad Syafii Maarif

203
Mendiang JE Sahetapy/detik.com
Ahmad Syafii Maarif (paling kiri) saat menjadi pembicara dalam peluncuran buku “Orang-orang Hebat; dari Mata Kaki ke Mata Hati” beberapa tahun lalu di Gedung Dewan Pers Jakarta. Foto: Genthong)

TEMPUSDEI.ID (24 SEPTEMBER 2021)

Ketika Mendiang J.E Sahetapy (JES) berulang tahun yang ke-80 pada 2012, melalui Harian Republika (8 Mei), Ahmad Syafii Maarif secara khusus menulis tentang JES. Maarif yang mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu membuka tulisannya dengan mengatakan, “Jika kultur Indonesia (Mandar, Sulsel) Islam telah melahirkan seorang Lopa atau nama lengkapnya Profesor Dr Baharuddin Lopa (27 Agustus 1935-31 Juli 2001) sebagai pakar hukum dengan nyali rajawali, dari rahim kultur Indonesia (Saparua) Kristen telah muncul seorang Sahetapy dengan nama lengkap Prof Dr Jacob Elfinus Sahetapy, SH, MA (6 Juni 1932 –)”.

Lebih lanjut tulisnya, Lopa yang lebih muda telah pergi untuk tidak kembali dalam usia 66 tahun, sementara Sahetapy dalam usia menjelang 80 tahun masih tetap menerjang segala bentuk kebobrokan hukum dan politik Indonesia sampai detik ini. Kedua pakar hukum ini adalah manusia saleh menurut agamanya masing-masing.

Menurut Maarif, JES mempunyai karier cemerlang di ranah hukum dan politik, tetapi di atas itu semua, JES adalah seorang pendidik bangsa yang lurus, konsisten, dan tak punya rasa takut dalam menyampaikan pandangan dan pendapatnya. “Banyak orang yang bermuka merah akibat tonjokan Sahetapy, tentu semuanya itu adalah urusan mereka yang terkena tembak, bukan urusan si penembak,” tulis Maarif.

Tentang masalah korupsi yang sudah menggurita tulis Maarif, JES pernah mengatakan, “Jangan menggunakan nama Tuhan [dalam melakukan korupsi]. Ada pepatah mengatakan, meskipun kebohongan lari secepat kilat, sewaktu-waktu kebenaran akan mengalahkannya. Ini bisa dilihat tahun 2014 atau tahun-tehun berikutnya.“  Bagi Sahetapy kebenaran tak mungkin dikalahkan selama-lamanya oleh kekuatan apa pun.

JES meninggal dunia pada Selasa (21/9), pukul 06.57 WIB pagi. Guru besar ilmu hukum Universitas Airlangga, Surabaya itu lahir pada 6 Juni 1932 di Saparua. Setelah lulus SMA di Surabaya ia melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum Universitas Airlangga. Ia kemudian meneruskan studinya di University of Utah, Amerika Serikat pada 1962. Sepulangnya dari kuliah di negeri Paman Sam itu, ia dituduh sebagai mata-mata CIA dan baru bisa mulai mengajar pada tahun 1979.

Tak hanya mengajar di Universitas Airlangga, ia juga memiliki karier akademis di Universitas Diponegoro dan Universitas Indonesia. (tD)