Sun. Mar 15th, 2026
Irwan Hidayat percaya penyelenggaraan ilahi - Providentia Dei

Oleh Irwan Hidayat, Strategic &  Business Director PT Industri Jamu dan Farmasi
Sidomuncul TBK

Di tengah semakin kompleksnya dunia ekonomi modern, ada satu keterampilan penting yang masih jarang diajarkan secara serius di sekolah: literasi investasi.

Banyak orang baru mengenal investasi ketika sudah dewasa, bahkan setelah memiliki penghasilan tetap. Padahal, kebiasaan mengelola uang seharusnya ditanamkan sejak dini—seperti halnya membaca, menulis, dan berhitung.

Belakangan ini, setelah sebuah wawancara dengan saya mengenai investasi saham dimuat pada 12 Maret 2026, muncul banyak pertanyaan dari masyarakat: saham apa yang layak dibeli, berapa modal awal yang dibutuhkan, bagaimana cara membelinya, serta apa saja risikonya.

Pertanyaan-pertanyaan ini menunjukkan satu hal penting: minat masyarakat ada, tetapi pengetahuan masih terbatas.

Karena itulah muncul gagasan yang patut dipertimbangkan serius: mengajarkan menabung dan berinvestasi saham sejak di bangku sekolah.

Investasi: Bukan Hanya Menabung, tetapi Mengembangkan

Selama ini, pendidikan keuangan di masyarakat sering berhenti pada anjuran menabung. Menabung memang baik, tetapi investasi memberikan peluang yang lebih besar untuk mengembangkan nilai uang.

Ada beberapa alasan kuat mengapa investasi saham patut dikenalkan sejak dini.

Pertama, saham adalah salah satu pilihan investasi yang potensial menguntungkan, di samping berbagai instrumen investasi lain.
Dengan pemahaman yang baik dan kesabaran, saham dapat memberikan keuntungan dalam jangka panjang.

Kedua, modal awal untuk berinvestasi sebenarnya tidak besar.
Dengan uang sekitar Rp200.000 saja, seseorang sudah bisa mulai membeli saham. Artinya, investasi tidak lagi menjadi dunia eksklusif bagi orang kaya.

Ketiga, meningkatkan jumlah investor domestik berarti memperkuat ekonomi nasional. Saat ini jumlah investor saham di Indonesia baru sekitar 7,5% dari total penduduk.

Bandingkan dengan Amerika Serikat yang mencapai sekitar 62%, sementara Jepang, Korea, dan negara maju lainnya memiliki angka di atas 40%.

Rendahnya jumlah investor domestik membuat pasar modal lebih bergantung pada modal asing.

Dengan semakin banyak masyarakat Indonesia yang berinvestasi, kepemilikan ekonomi nasional bisa semakin kuat di tangan rakyat sendiri.

Jangan Bermain Saham, tetapi Berinvestasi

Namun ada satu pesan penting yang sering disalahpahami masyarakat: saham bukan untuk dipermainkan, tetapi untuk diinvestasikan.

Banyak orang tertarik pada saham karena tergoda oleh praktik trading jangka pendek yang tampak menjanjikan keuntungan cepat. Padahal, pendekatan yang lebih sehat dan stabil adalah investasi jangka panjang.

Investor saham tidak hanya memperoleh keuntungan dari kenaikan harga saham, tetapi juga dari dividen, yaitu pembagian keuntungan perusahaan kepada para pemegang saham.

Perbedaannya dengan deposito cukup jelas. Deposito memberikan bunga tetap, tetapi saham memberi dua potensi keuntungan: dividen, dan kenaikan nilai perusahaan.

Tentu saja investasi saham juga memiliki risiko. Harga saham bisa turun. Namun sejarah menunjukkan bahwa dalam jangka panjang banyak perusahaan yang justru mengalami pertumbuhan signifikan.

Sebagai contoh: Saham Bank Central Asia pada tahun 2000 diperdagangkan sekitar Rp500 per lembar. Kini harganya berada di kisaran Rp6.875, bahkan pernah mencapai Rp10.995.
Saham Bank Rakyat Indonesia pada tahun 2003 berada di sekitar Rp815 per lembar, dan kini berada di kisaran Rp3.615, bahkan pernah menyentuh Rp6.400.

Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa waktu adalah sekutu terbaik dalam investasi.

Belajar Memilih Perusahaan yang Baik

Investasi saham bukan sekadar membeli angka di layar. Membeli saham berarti membeli sebagian kepemilikan perusahaan. Karena itu, investor perlu belajar memahami perusahaan yang mereka beli.

Beberapa prinsip dasar yang perlu dipahami antara lain:

Pertama, Memilih perusahaan dengan rekam jejak yang baik.

Kedua, Perusahaan yang sudah lama tercatat di bursa, Laba yang bertumbuh secara konsisten.

Ketiga, Perusahaan yang rutin membagikan dividen, Struktur keuangan yang sehat, Rasio utang terhadap modal (debt to equity ratio) yang baik

Keempat, Membeli saham pada harga yang relatif murah atau undervalue.

Serta kelima memahami laporan keuangan dan rencana bisnis perusahaan ke depan.

Semua prinsip ini pada dasarnya mengajarkan satu hal penting: investasi bukan perjudian, melainkan keputusan yang didasarkan pada analisis dan kesabaran.

Saatnya Literasi Investasi Masuk Sekolah

Karena itu, mengenalkan investasi sejak usia sekolah bukanlah ide yang berlebihan. Justru ini adalah investasi pendidikan bagi masa depan bangsa.

Bayangkan jika siswa sejak SMA sudah memahami cara mengelola uang, menabung, dan berinvestasi secara bijak. Mereka akan tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya konsumtif, tetapi juga produktif secara finansial.

Lebih dari itu, mereka juga akan memahami bahwa uang bukan sekadar alat belanja, tetapi alat untuk membangun masa depan.

Pada akhirnya, pesan paling penting dari investasi saham sederhana saja: membeli saham berarti membeli perusahaan, dan membeli masa depan perusahaan tersebut.

Jika generasi muda Indonesia memahami hal ini sejak dini, bukan tidak mungkin suatu hari nanti perekonomian nasional akan semakin kuat karena dimiliki dan didukung oleh investornya sendiri: rakyat Indonesia.*

Related Post