Wawancara dengan Wakil Presdir BCA, Armand W. Hartono : Pemimpin Bukan soal Jabatan atau Title

263
Arman W. Hartono, Wakil Presdir BCA

TEMPUSDEI.ID (24 SEPTEMBER 2021)

Sejatinya, seorang pemimpin adalah pelayan. Dan pemimpin terbaik adalah yang melayani dengan contoh terbaik. Dan tipe pemimpin semacam ini tidak muncul secara tiba-tiba. Jejak hidup dan pengalamannya sangat berperanan membentuk dirinya. Hal ini juga yang terjadi dan menjiwai Armand W. Hartono dalam menjalani panggilannya sebagai Wakil Presiden Direktur Bank Centra Asia (BCA). Bagaimana pola kepemimpinan itu terbentuk dalam dirinya? Bagaimana ia menjalani pola kepemimpinan itu, dan dari mana ia dapatkan? Ikuti perbincangan Emanuel Dapa Loka, wartawan tempusdei.id  dengan pria yang selalu tampil sederhana, bahkan pernah menghebohkan karena mengenakan sepatu yang dibalut isolasi karena sudah jebol. Jangan lupa, dia adalah putra mahkota Robert Budi Hartono sang pemilik BCA.

Arman Wahyudi Hartono dengan sepatunya yang jebol dan dibalut dengan isolasi. (ist)

Bagaimana sikap seorang pemimpin yang Anda inginkan?

Pemimpin bukanlah jabatan atau title, pemimpin adalah siapa pun juga yang ada pengikutnya, tidak peduli umur atau status.  Tidak ada pemimpin jika tidak ada pengikutnya.  Di sebuah acara makan, ada seorang anak kecil yang membereskan piring dan mengambil makanan yang jatuh berserakan, lalu saudaranya ikut membantu. Orang tuanya turut membereskan meja. Tidak lama kemudian seluruh orang di meja turut membereskan dan membersihkan meja. Contoh lain adalah flashmob di mana hanya butuh 1-2 orang yang mulai goyang berdansa, tidak lama kemudian orang lain akan ikut berdansa.

Tidak soal style kepemimpinannya, jika itikad adalah untuk membangun, menambah nilai, dengan etika yang baik, selalu mau memperbaiki diri dari sisi karakter dan skill maka dia bisa menjadi pemimpin.

Ada yang mengatakan, jika seorang pemimpin terlalu rendah hati dan membaur dengan orang-orang yang dipimpinnya, nanti tidak dihargai atau kehilangan wibawa. Bagaimana pengamanan Anda?

Di pengalaman saya, hampir semua pemimpin saya adalah orang-orang yang rendah diri, bergaul.  Tidak melihat atasan bawahan, tetapi melihat dirinya sebagai team leader, leader as coach dan servant leadership, di mana team leader adalah salah satu team member, yang dipandang untuk memulai inisiatif, untuk menjadi contoh, support timnya untuk menuju tujuan yang sama.

Nah! Bagaimana Anda menempatkan diri sebagai seorang pemimpin (Wakil Presiden Direktur BCA) di hadapan karyawan?

Di BCA, mulai dari Presdir, Pak Jahja sangat menyatu dengan tim, memberi contoh bagi kita untuk juga menyatu dengan tim, sehingga team leader lain untuk demikian.

Bagaimana Anda memandang para bawahan langsung Anda?

Saya tidak memiliki bawahan langsung, yang ada adalah mitra kerja dekat.  Di mata saya, nasabah ada di puncak organisasi, lalu front liners, yang disokong oleh team leaders dan management.  Kita senantiasa di sisi tim dan nasabah.

Dari mana Anda mengadopsi pola kepemimpinan atau prinsip yang Anda terapkan?

Kita adalah satu tim yang berbagi tugas, tanggungjawab, memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing sehingga harus bersinergi saling mendukung.  Kita belum pernah bertemu dengan “Superman” yang bisa semua, adanya manusia normal saja yang memutuskan diri untuk bekerjasama. Pola kepemimpinan yang saya jalankan tentu paling banyak karena didikan orang tua di rumah.  Prinsip-prinsip yang diterapkan seperti yang diajarkan Ki Hajar Dewantara, Ing ngarso sung tulodho, Ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.  Hukum sebab akibat dan pelajaran dari agama: Apa yang kita tanam adalah apa yang akan kita tuai. So in everything, do to others what you would have them do to you, for this sums up the Law and the Prophets (Matthew 7:12). Remember your leaders, who spoke the word of God to you. Consider the outcome of their way of life and imitate their faith (Hebrews 13:7). Do nothing out of selfish ambition or vain conceit. Rather, in humility value others above yourselves, not looking to your own interests but each of you to the interests of the others (Philippians 2:3-4).

Bagaimana cara Anda mengadopsi dan menerapkan perbuatan melayani dari Yesus seperti mencuci kaki murid-muridNya, dan diterapkan dalam keseharian Anda baik di kantor maupun di rumah?

Kita tidak perlu memandang siapa jabatan apa, kita harus saling menghormati, membantu, melayani sesama manusia, makhluk hidup lain, dunia dan alam semesta yang telah diciptakan Sang Pencipta.

Apa yang khas dari pola kepemimpinan di BCA? Dan bagaimana BCA membangun persaudaraan dan kekeluargaan di dalam?

Yang diterapkan di BCA, prinsip Ki Hajar Dewantara, servant leadership di mana pemimpin menjadi contoh pelayanan, mendampingi tim, membantu timnya sukses, menjalin teamwork yang solid untuk mencoba yang terbaik dan support tim dari belakang.  Leaders as coach, pemimpin adalah bagian dari tim yang berperan untuk memberi visi, inspirasi, pelatihan, dorongan agar tim bisa menjadi lebih baik dalam mencapai tujuan bersama.

Apa nikmatnya menjadi seorang pemimpin?

Nikmatnya sebagai pemimpin, coach, guru adalah ketika murid-murid menjadi orang-orang yang lebih baik, mendapatkan pencerahan, tambah maju, mampu bekerjasama dengan teman-teman, menjadi orang tua yang baik.  Coach atau guru paling bahagia ketika melihat murid atau timnya sukses.  Setiap hari kita belajar banyak dari interaksi bersama tim, leader yang selalu banyak mendapatkan inspirasi dari timnya, dan semoga tim juga merasa demikian dari team leader-nya.*

1 COMMENT