
TANGERANG – Senja perlahan turun di Pasar Kemis, Tangerang, Minggu, 15 Maret 2026. Cahaya matahari yang mulai meredup menimpa halaman Kapel Santo Petrus dan pepohonan, tempat ratusan orang berkumpul dengan suasana yang hangat dan bersahabat. Tidak ada sekat agama, tidak ada jarak sosial—yang ada hanya perjumpaan dan persaudaraan.
Sekitar 800 umat Muslim, termasuk kaum dhuafa dan anak-anak yatim, duduk berdampingan menanti waktu berbuka puasa.

Mereka datang dari berbagai sudut wilayah, memenuhi ruangan kapel darurat dan halaman dengan wajah-wajah yang penuh harap.
Di tengah suasana itu, hadir sosok yang selama ini dikenal konsisten merawat semangat kebangsaan dan kemanusiaan: Sinta Nuriyah Wahid.
Dalam tausiah yang disampaikannya menjelang matahari benar-benar tenggelam, istri mendiang Gus Dur itu mengajak seluruh hadirin merenungkan makna Indonesia.
“Kita adalah Indonesia, dan wajah Indonesia adalah persaudaraan dan keberagaman,” ujarnya dengan suara lembut namun tegas.
Ia lalu melemparkan pertanyaan sederhana kepada ratusan orang yang hadir.
“Kalau kita bersaudara, bolehkah kita saling berantam, bermusuhan, saling menyakiti?”
Serempak para hadirin menjawab lantang, “Tidak!”
Jawaban itu menggema di dalam kapel sederhana—sebuah jawaban sederhana yang terasa begitu kuat di tengah kerinduan banyak orang akan kehidupan bersama yang damai.
Kapel yang Menjadi Ruang Persaudaraan

Kedatangan Shinta Nuriyah bersama putrinya Yenny Wahid dan rombongan disambut hangat oleh Pastor Paroki Santo Agustinus, Romo Stefanus Suwarno OSC, Romo Harry Sulistyo Pr, Juswanto Prananto dan panitia yang sejak awal acara terlihat menyapa para tamu dengan penuh sukacita.
Bagi Romo Suwarno, kegiatan ini bukan sekadar buka puasa bersama, tetapi perjumpaan yang memperlihatkan wajah Indonesia yang sesungguhnya.
“Persaudaraan sebagai bangsa adalah dambaan kita bersama,” katanya dalam sambutan singkat.
Di tempat yang biasanya digunakan untuk Misa, berdoa dan aneka kegiatan umat Katolik setempat, sore itu berlangsung sebuah perayaan kebersamaan lintas iman. Kapel Santo Petrus menjadi ruang terbuka bagi siapa saja yang ingin merawat persaudaraan.
Musik, Haru, dan Kebangsaan

Suasana semakin menghangat ketika seorang penyanyi bernama Fransisca membawakan lagu Ibu. Suaranya yang lembut membuat banyak hadirin terdiam, larut dalam lirik yang menyentuh tentang kasih seorang ibu.
Momen berikutnya juga tak kalah berkesan ketika Yenny Wahid, putri sulung Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid, menyanyikan lagu Pancasila dalam bahasa Jawa.
Lagu itu terdengar sederhana, namun terasa sangat kuat: mengingatkan kembali bahwa dasar negara ini lahir dari semangat hidup bersama dalam keberagaman.
Berbagi Sebelum Berbuka

Menariknya, kegiatan hari itu tidak hanya tentang tausiah dan buka puasa. Sejak siang, rangkaian kegiatan sosial sudah dimulai.
Sebuah program bakti sosial memberikan pelayanan pemeriksaan mata sekaligus pembagian kacamata bagi masyarakat yang membutuhkan. Banyak warga terlihat mencoba kacamata baru mereka dengan wajah sumringah.
Di sudut lain, berlangsung pula demonstrasi pembuatan kue yang disponsori oleh PT Interflour. Aroma adonan yang dipanggang menambah suasana akrab, membuat ibu-ibu yang hadir sesekali mendekat dengan penuh rasa ingin tahu.
Kerja Bersama untuk Kebaikan
Acara buka puasa bersama ini terselenggara berkat kerja sama berbagai pihak: BPK PKK KAJ, Perduki, dan Yayasan Puan Amal Hayati.
Kolaborasi ini memperlihatkan bahwa ketika berbagai kelompok mau bekerja bersama, sekat-sekat identitas justru berubah menjadi jembatan kemanusiaan.
Indonesia yang Diharapkan
Ketika azan magrib akhirnya berkumandang, ratusan orang yang sejak tadi menanti berbuka mulai menikmati hidangan sederhana yang telah disiapkan. Percakapan ringan terdengar di mana-mana. Tawa anak-anak pecah di antara kerumunan.
Di tengah suasana itu, pesan Shinta Nuriyah terasa semakin jelas: Indonesia bukan sekadar nama negara. Ia adalah cara hidup.
Sebuah cara hidup yang dibangun di atas persaudaraan, penghormatan terhadap perbedaan, dan keberanian untuk saling merawat satu sama lain.
Lalu lagu-lagu islami yang dibawakan oleh paduan suara menyudahi acara yang ditutup dengan santam malam bersama dengan lauk lele goreng dari kolam di kompleks kapel. (EDL)

