Paus Fransiskus: Bunda Maria Ajar Kita Dengarkan Suara Mereka yang Tidak Bersuara

471
Paus Fransiskus di halaman patung Bunda Maria dan Kanak-kanak Yesus di Santiago - Chili

TEMPUSDEI.ID (10 SEPTEMBER 2021)

Vatikan merilis pesan dari Paus Fransiskus pada hari Rabu saat Gereja merayakan Kelahiran Perawan Maria yang Terberkati.

“Sukacita sejati yang datang dari Tuhan selalu memberi ruang bagi suara-suara yang terlupakan, sehingga bersama mereka kita dapat membangun masa depan yang lebih baik,” kata Paus Fransiskus dalam pesan yang diterbitkan 8 September.

“Maria, dalam keindahan mengikuti Injil dan dalam pelayanannya untuk kebaikan bersama umat manusia dan planet ini, selalu mengajarkan kita untuk mendengarkan suara-suara ini, dan dia sendiri menjadi suara dari yang tak bersuara.”

Paus mengirim pesan kepada para peserta Kongres Mariologis Internasional ke-25, yang berlangsung online pada 8-11 September.

“Misteri yang tertutup dalam pribadi Maria adalah misteri Sabda Allah yang berinkarnasi,” katanya.

Paus Fransiskus mengutip nasihat apostolik Benediktus XVI Verbum Domini, di mana paus emeritus mendorong para sarjana untuk mempelajari hubungan antara Mariologi dan teologi Sabda.

“Kami melihat betapa betahnya Maria dengan Sabda Allah, dengan mudah dia bergerak masuk dan keluar darinya. Dia berbicara dan berpikir dengan Firman Tuhan; Firman Tuhan menjadi firmannya, dan firmannya keluar dari Firman Tuhan. Di sini kita melihat bagaimana pikirannya selaras dengan pikiran Tuhan, bagaimana kehendaknya menyatu dengan kehendak Tuhan,” katanya, mengutip Benediktus.

“Karena Maria sepenuhnya diilhami oleh sabda Tuhan, dia mampu menjadi Bunda Sabda yang menjelma.”

Kardinal Gianfranco Ravasi, presiden Dewan Kepausan untuk Kebudayaan, membacakan pesan paus dengan lantang pada awal kongres Maria pada 8 September.

Paus Fransiskus menandatangani pesan itu pada 22 Agustus, pesta Ratu Surga. “Bunda Tuhan memiliki kehadiran istimewanya sendiri: dia adalah Bunda semua, terlepas dari etnis atau kebangsaan,” kata Paus.

“Dengan demikian, sosok Maria menjadi acuan bagi budaya yang mampu mengatasi sekat-sekat yang dapat menciptakan perpecahan. Oleh karena itu, dalam perjalanan budaya persaudaraan ini, Roh memanggil kita untuk menyambut sekali lagi tanda penghiburan dan harapan pasti yang memiliki nama, wajah dan hati Maria: wanita, murid, ibu, dan sahabat.” (tD/Catholic News Agency)