Jubir Tikam Gubernur Lukas Enembe dari Belakang

1199
Gubernur Lukas Enembe

JAYAPURA, TEMPUSDEI.I, 22 AGUSTUS 2021

Atas penggantian drg. Aloysius Giyai, M. Kes dari jabatannya sebagai Direktur RSUD Jayapura (20/8/21), pengamat birokrasi yang juga Dosen Hubungan Internasional Universitas Cendrawasih Marinus Yaung dengan sangat keras menilai Juru Bicara Gubernur Rifai Darus telah menikam Gubernur Lukas Enembe dari belakang akibat berbagai pernyataannya. Hal itu tertuang dalam surat yang ditulis Marinus di media sosial facebook kepada Lukas Enembe, Gubernur Provinsi Papua, Sabtu (21/08/2021).

“Rifai Darus, seorang politisi dan bukan ASN Pemda Papua, muncul pernyataan manipulatif dan pembohongan. Pernyataan Rifai Darus tentang pencopotan pejabat eselon II di Pemprov Papua sudah salah karena pernyataan atau komentar mengenai evaluasi kinerja seorang Aparatus Sipil Negara (ASN) adalah tugas pejabat Sekertaris Daerah Papua. Apalagi untuk jabatan eselon II,” tulis Marinus.

Oleh karena itu, lanjut Marinus, Gubernur Lukas harus meninjau kembali keputusan pergantian pejabat yang telah dilakukannya, tidak hanya Aloysius Giyai tetapi juga Christian Sohilait, Kepala Dinas Pendidikan dan Arsip Daerah yang juga ikut dicopot. Sebab kedua pimpinan OPD ini sangat bagus kinerjanya mendukung pemerintahan Gubernur Lukas.

“Keputusan Bapak Gubernur mencopot mereka berdua, bisa menjadi bumerang politik terhadap platform politik Bapak Gubernur Enembe ke depan. Karena itu, saya berharap Bapak Gubernur meninjau kembali keputusannya,” tulis Marinus.

Praktisi Hukum Aloysius Renwarin, SH.MH menilai, proses pergantian Direktur RSUD Jayapura ini menyalahi prosedur karena tanpa mekanisme yang seharusnya. Apalagi Aloysius Giyai tidak melanggar hukum.

“Saya mendengar, direksi rumah sakit yang dilantik ada yang tidak memenuhi kepangkatan atau golongan dalam jenjang karir ASN. Ini bisa dibawa ke ruang Pengadilan Tata Usaha Negara oleh pihak, baik oleh pejabat yang diganti maupun kelompok masyarakat yang merasa dirugikan akibat pergantian itu karena mempengaruhi kualitas pelayanan publik,” ujar Renwarin melalui telepon selelurnya, Minggu (22/08/2021).

Ia menyayangkan seorang Aloysius yang dengan rekam jejak karya di bidang kesehatan yang luar biasa, diganti secara tidak terhormat tanpa alasan yang jelas. Dan ini menimbulkan pertanyaan publik di Tanah Papua.

“Jujur saja, ini malah membuat elektabilitas Aloysius naik karena dia dikenal di seluruh Papua sampai Papua Barat sebagai tokoh kesehatan. Semua orang menyayangkan pergantian ini,” tegas Renwarin.

Ketua Ikatan Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat Uncen, Yulianus Dwaa, SKM menilai pergantian drg. Aloysius Giyai, M. Kes dari jabatannya sebagai Direktur RSUD Jayapura tanpa indikator penilaian kinerja yang jelas.

“Tentu kita pertanyakan indikator apa yang menjadi alasan pergantian drg. Aloysius Giyai. Padahal kita tahu, dia sedang berjuang mengubah wajah RSUD Jayapura yang kumuh selama ini dan sekarang jadi bagus,” ujar Yulianus Dwaa via telepon seluler, Jumat (20/08/2021). “Gubernur hanya mendengar dari para pembisik atau pihak tertentu,” tambah Yulianus.

Yulianus juga menyayangkan pernyataan dari Juru Bicara (Jubir) Gubernur Papua, M.  Rifai Darus terkait dengan pergantian Direktur RSUD Jayapura yang menilai kinerja direksi RSUD Jayapura hanya mementingkan proyek dibandingkan aspek pelayanan kepada pasien.

“Pernyataan saudara jubir adalah pembohongan publik dan tidak bisa kami terima. Seorang ASN berprestasi seperti Aloysius Giyai dinilai berkinerja rendah. Ini kan lucu  namanya,” ujarnya.

Menurut Yulianus, pernyataan jubir ke media terkait kinerja Aloysius lebih mementingkan proyek infrastruktur itu tidak tepat. Jubir seharusnya berbicara soal indikator utama yang dinilai oleh Gubernur  atau pergantian pejabat dalam rangka rotasi jabatan.

“Pembangunan infrastruktur rumah sakit juga bagian dari pemenuhan kebutuhan pelayanan rumah sakit,  jadi saling berkaitan. Rumah sakit yang baik butuh gedung dan fasilitas kesehatan yang lengkap. Selama ini bertahun-tahun pasien dirujuk ke luar Papua. Karena itu, saudara Jubir jangan sampaikan pernyataan yang ambigu kepada publik,” tegasnya.

drg. Aloysius Giyai: Gubernur Enembe dengar Sepihak

Sementara itu drg. Aloysius Giyai, M.Kes mengaku ia menghormati kewenangan Gubernur Lukas yang melakukan pergantian ini sebagai hal yang lumrah dalam birokrasi. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Gubernur Lukas yang telah memberi kepercayaan kepadanya menjabat Kepala Dinas Kesehatan Papua selama 5 tahun dan Direrktur RSUD Jayapura selama 1,5 tahun.

“Hanya saja sebagai manusia dan orang yang sangat dekat dengan Gubernur Lukas, yang punya hubungan emosional dengan beliau dan sudah terbangun berpuluh-puluh tahun, tentu saya kecewa. Kalau ada isu atau laporan yang masuk tentang saya yang kurang baik, entah tentang pelayanan rumah sakit atau apa, sebaiknya Bapa Gubernur panggil saya, peringatkan saya sehingga kalau ada kekurangan segera kami bisa perbaiki. Ini kan tidak sama sekali. Dengar hanya sepihak, tiba-tiba ganti, seakan saya bikin kesalahan fatal di rumah sakit,” kata Aloysius.

Putra Mee ini juga  membantah pernyataan Jubir Gubernur Rifai Darus yang mengatakan bahwa Gubernur melakukan Sidak. Sebab jika itu dilakukan, pasti seorang dirinya selaku Direktur RSUD Jayapura akan mendampingi selama sidak itu.

“Kalau beliau nilai pelayanan di rumah sakit buruk, di ruangan mana dan di aspek apa? Ini kan membingungkan. Biarkan masyarakat yang bicara sebelum kami pimpin dan sesudah kami pimpin, mana yang lebih baik,” tuturnya.

Aloysius juga mengklarifikasi pernyatan Jubir soal lebih mementingkan proyek. Seharusnya, para pembisik atau orang dekat Gubernur memahami sistem pelayanan di sebuah rumah sakit. Mutu pelayanan di rumah sakit itu terdiri dari berbagai aspek. Aspek pertama ialah pelayanan medis dan keperawatan. Tetapi ini akan berjalan jika ditunjang dengan fasilitas ruang pelayanan yang memadai dan peralatan kedokteran yang canggih.

“Kami satu setengah tahun ini genjot bangun dan perbaiki rumah sakit yang hancur itu jadi lebih baik. Mengenai proyek, ya semua pembangunan fisik kan harus lewat proyek. Apalagi ini kami bangun dari berbagai sumber dana yang kami perjuangkan lewat APBN demi memenuhi keinginan Gubernur Lukas menjadikan RSUD Jayapura sebagai rumah sakit yang bermutu dan berteknologi lengkap,” tegas Aloysius. (tD)