Sun. Jul 19th, 2026

Inilah Alasan Imam Selalu Mencium Altar Saat Misa

Di awal setiap Perayaan Ekaristi, ada satu gerakan yang berlangsung hanya beberapa detik, tetapi menyimpan makna yang sangat dalam. Setelah berarak menuju panti imam, imam—dan diakon jika hadir—membungkukkan badan, lalu mencium altar sebelum memulai Misa.

Bagi sebagian umat, tindakan ini mungkin terasa biasa karena dilakukan dalam setiap Misa. Namun, tidak sedikit pula yang bertanya-tanya: mengapa altar harus dicium? Bukankah altar hanyalah sebuah meja yang terbuat dari batu atau kayu?

Tradisi ini ternyata merupakan salah satu kebiasaan liturgi tertua dalam Gereja. Sejak abad ke-4, mencium altar telah menjadi bagian dari tata perayaan Ekaristi. Akar tradisi ini bahkan lebih tua lagi.

Dalam berbagai kebudayaan kuno, ciuman merupakan ungkapan penghormatan, kesetiaan, dan penghargaan terhadap sesuatu yang dianggap luhur atau suci. Ketika Gereja membangun tradisi liturginya, makna tersebut diadopsi dan diperkaya dengan pemahaman iman Kristiani.

Altar bukan sekadar perabot gereja. Di atas altar, misteri sengsara, wafat, dan kebangkitan Kristus dihadirkan kembali secara sakramental dalam Perayaan Ekaristi. Karena fungsi yang begitu luhur, altar didedikasikan secara khusus bagi Allah melalui ritus pengudusan yang dipimpin oleh uskup.

Dalam upacara tersebut, altar diurapi dengan minyak krisma, didoakan, dan ditutupi kain putih. Simbol-simbol ini mengingatkan pada pembaptisan seorang Kristen: diurapi, disucikan, lalu mengenakan pakaian putih sebagai tanda hidup baru. Sejak saat itu, altar dipisahkan dari penggunaan biasa dan dipersembahkan sepenuhnya untuk perayaan misteri keselamatan.

Karena itulah, ketika imam mencium altar, ia bukan sedang menghormati batu atau kayunya. Ia menghormati fungsi kudus altar sebagai tempat Gereja merayakan kurban Kristus yang menyelamatkan.

Tradisi Gereja juga melihat altar sebagai lambang Kristus sendiri. Santo Paulus menyebut Kristus sebagai “batu penjuru” Gereja (Efesus 2:20), dan para Bapa Gereja mengembangkan simbolisme ini dalam liturgi. Altar menjadi tanda kehadiran Kristus yang mempersatukan umat-Nya dalam perayaan Ekaristi.

Makna itu menjelaskan mengapa pada masa lampau imam juga mencium altar sebelum memberikan berkat penutup. Tindakan tersebut menegaskan bahwa berkat yang diterima umat berasal dari Kristus, bukan dari pribadi imam yang memimpin perayaan.

Ada pula makna historis yang memperkaya tradisi ini. Sejak Gereja perdana, Misa sering dirayakan di atas makam para martir. Ketika pembangunan gereja berkembang, relikui para kudus ditempatkan di dalam atau di bawah altar sebagai tanda bahwa kesaksian para martir menjadi fondasi kehidupan Gereja.

Maka, ciuman imam kepada altar sekaligus merupakan penghormatan kepada mereka yang telah memberikan hidup demi iman kepada Kristus.

Kini, di tengah ritme liturgi yang sering terasa akrab dan rutin, ciuman imam pada altar mengajak umat melihat lebih dalam. Gerakan sederhana itu mengingatkan bahwa setiap Misa bukan sekadar pertemuan umat, melainkan perjumpaan dengan Kristus sendiri yang mempersembahkan kurban kasih-Nya bagi keselamatan dunia.

Maka, lain kali ketika melihat imam mencium altar di awal Misa, kita dapat memandangnya dengan pengertian baru. Di balik satu gerakan yang singkat tersimpan penghormatan kepada Kristus, kepada misteri Ekaristi, dan kepada Gereja yang sejak berabad-abad setia merayakan iman yang sama.

Related Post