
JAKARTA – Komisi Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Agung Jakarta (KKP KAJ) kembali menegaskan komitmennya terhadap pelestarian lingkungan hidup dan kepedulian sosial melalui kegiatan bertajuk “Temu Koordinasi dan Inspirasi SKP se-KAJ” yang diselenggarakan pada Sabtu, 4 Juli 2026.
Mengusung tema “Laudato Si’ Bersemi di Paroki, Beraksi di Bantargebang: Menggali Nilai Fransiskan dalam Menjaga Bumi dan Sesama”, kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang koordinasi dan diskusi, tetapi juga menghadirkan refleksi yang diwujudkan melalui aksi nyata sebagai implementasi ensiklik Paus Fransiskus, Laudato Si’, tentang perawatan rumah bersama.
Semangat tersebut telah terasa sejak pagi. Pukul 08.00 WIB, para penggerak Seksi Keadilan dan Perdamaian (SKP) dari berbagai paroki di KAJ berkumpul di Gereja Katedral Jakarta. Sebagai bentuk komitmen terhadap gaya hidup ramah lingkungan, seluruh peserta mengenakan pakaian berwarna hijau sebagai simbol kepedulian terhadap alam serta membawa tumbler pribadi untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Dari Katedral, rombongan memulai perjalanan yang memadukan refleksi spiritual dengan aksi ekologis. Tujuan pertama adalah Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, salah satu pusat pengelolaan sampah terbesar di Indonesia.
Di lokasi tersebut, peserta mengikuti dua agenda utama. Kegiatan diawali dengan Aksi Amal Kasih berupa pembagian makanan kepada para pemulung yang sehari-hari menggantungkan hidup di kawasan TPST. Aksi ini menjadi wujud nyata kepedulian terhadap sesama, khususnya mereka yang hidup dalam kondisi rentan.
Selanjutnya, peserta mengikuti sesi edukasi mengenai sistem pengelolaan sampah modern di TPST Bantargebang, termasuk operasional Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Melalui kunjungan ini, peserta memperoleh pemahaman bahwa teknologi dapat menjadi solusi dalam mengatasi persoalan lingkungan apabila didukung oleh kebiasaan masyarakat dalam memilah sampah sejak dari sumbernya.
Peserta juga belajar bahwa sampah yang dipilah dengan baik dapat diolah lebih cepat dan efisien sehingga memerlukan lahan yang lebih sedikit. Sebaliknya, sampah yang tercampur membutuhkan proses pengolahan yang lebih lama serta area penampungan yang jauh lebih luas.
Ketua Komisi Keadilan dan Perdamaian KAJ, Romo Agustinus Heri Wibowo, Pr., yang memimpin langsung kegiatan tersebut, menegaskan bahwa aksi ini merupakan perwujudan spiritualitas Santo Fransiskus Asisi dalam merawat ciptaan.
“Melalui acara ini, kami ingin menghidupkan kembali semangat Santo Fransiskus Asisi dalam merawat bumi sebagai rumah bersama dan melayani sesama yang paling rentan. Kita tidak hanya berdiskusi di ruang paroki, tetapi juga turun langsung ke lapangan untuk melihat realitas ekologis yang kita hadapi,” ujar Romo Heri.
Setelah memperoleh pembelajaran di Bantargebang, perjalanan dilanjutkan menuju Paroki Harapan Indah, Bekasi. Di sana, peserta berziarah ke Taman Doa Santo Fransiskus Asisi yang berada di kompleks Gereja Santo Albertus untuk berdoa dan merefleksikan pengalaman yang telah dijalani sepanjang hari.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan kunjungan ke area perkebunan yang dikelola secara mandiri oleh umat di sekitar gereja. Peserta memperoleh inspirasi mengenai pengelolaan lahan secara produktif melalui budidaya sayuran dan ikan lele yang berkelanjutan sebagai bentuk nyata kepedulian terhadap lingkungan sekaligus pemberdayaan masyarakat.
Sebagai penutup, seluruh peserta menikmati makan siang bersama di area perkebunan yang hijau dan asri. Momen kebersamaan tersebut menjadi simbol bahwa kepedulian terhadap bumi dapat diwujudkan melalui langkah-langkah sederhana yang dilakukan secara bersama.
Melalui perjumpaan, doa, dan aksi nyata ini, para penggerak SKP se-KAJ diharapkan membawa pulang semangat Fransiskan untuk terus dihidupi dan disemai di paroki masing-masing, demi terwujudnya bumi yang lebih lestari serta kehidupan bersama yang semakin adil, damai, dan sejahtera. (tD/*)

