Fri. Jun 19th, 2026
Menemukan persaudaraan di meje makan.

KOTA KINABALU – Siang itu suasana di Masjid Negeri Sabah terasa hangat. Bukan hanya karena keramahan tuan rumah yang menyambut tamunya dari jauh, melainkan juga karena perjumpaan itu menghadirkan sebuah kesadaran sederhana: kedekatan budaya dan kemanusiaan mampu menjembatani berbagai perbedaan.

Perasaan itulah yang dibawa pulang oleh Pater Markus Solo Kewuta SVD, Staf Dikasteri Dialog Antaragama Takhta Suci Vatikan, usai melakukan kunjungan silaturahmi ke Masjid Negeri Sabah di Kota Kinabalu, Rabu (17/6/2026).

Bagi imam asal Flores yang akrab disapa Padre Marco itu, kunjungan tersebut menjadi pengalaman yang mengingatkannya pada Indonesia.

“Ketika berada bersama saudara-saudari Muslim di Masjid Negeri Sabah, saya merasa seperti berada dengan saudara-saudari Muslim di Indonesia,” ujarnya.

Menurut Padre Marco, ada karakter yang sangat mirip antara umat Islam di Indonesia dan umat Islam di Sabah, Malaysia. Keduanya sama-sama dikenal ramah, terbuka, santun, dan menjunjung tinggi tradisi silaturahmi.

Kunjungan tersebut berlangsung di sela-sela kehadirannya sebagai utusan Takhta Suci Vatikan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-3 Para Tokoh Agama Sedunia di Kuala Lumpur, yang diselenggarakan melalui kerja sama Liga Muslim Dunia yang berkedudukan di Riyadh, Arab Saudi, dan Pemerintah Kerajaan Malaysia.

Bahasa yang Menyatukan

Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya justru datang dari hal yang sederhana: bahasa.

Saat memasuki ruang pertemuan, sambutan awal diberikan dalam bahasa Inggris. Namun suasana segera berubah ketika para tuan rumah mengetahui bahwa tamu Vatikan tersebut berasal dari Indonesia.

“Mereka langsung beralih ke bahasa Melayu. Saya memulai dengan sapaan bahasa Arab, sedikit bahasa Inggris, lalu kami berbicara sepenuhnya dalam bahasa Indonesia-Melayu. Mereka sangat antusias karena memahami bahasa Indonesia dengan baik,” tuturnya.

Menurut Padre Marco, bahasa Melayu yang digunakan masyarakat Sabah memiliki kemiripan yang lebih kuat dengan bahasa Indonesia dibandingkan dengan dialek Melayu yang umum digunakan di wilayah Semenanjung Malaysia.

Kesamaan bahasa itu membuat percakapan berlangsung cair dan akrab. Tak ada sekat formalitas yang berlebihan. Dialog, sesi tanya jawab, diskusi tentang berbagai persoalan sosial, hingga peluang kerja sama berlangsung dalam suasana kekeluargaan.

“Kami disambut resmi dengan sangat ramah. Ada dialog, diskusi berbagai persoalan bersama, pembahasan rencana kerja sama, lalu ditutup dengan makan siang bersama,” katanya.

Persaudaraan di Meja Makan

Namun bagi Padre Marco, momen yang paling menyentuh bukanlah forum diskusi atau pidato resmi. Justru sebuah tradisi yang sangat akrab dalam budaya Nusantara: makan bersama.

Tanpa diduga, ia dan rombongan diajak menikmati hidangan bersama para pengurus dan anggota komunitas Masjid Negeri Sabah. Mereka duduk mengelilingi meja bundar, berbagi makanan dan minuman yang sama, saling menyapa dan bercengkerama.

“Semua duduk bersama dalam suasana kekeluargaan yang sangat menyentuh,” kenangnya.

Baginya, tradisi makan bersama memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar memenuhi kebutuhan fisik.

Dalam budaya Melayu dan Nusantara, makan bersama merupakan ruang perjumpaan kemanusiaan yang mampu mempererat hubungan antarmanusia, bahkan melampaui batas agama dan identitas.

“Berbeda, tetapi masih bisa tetap semeja makan. Kasih menemukan jalannya melalui makanan dan minuman,” ujarnya.

Pengalaman itu mengingatkannya bahwa dialog antaragama tidak selalu harus berlangsung melalui forum-forum besar atau diskusi teologis yang rumit. Kadang-kadang, dialog yang paling efektif justru terjadi ketika orang-orang duduk bersama, berbagi makanan, dan saling mendengarkan sebagai sesama manusia.

Hadiah Sebuah Sarung

Menemukan persaudaraan di bawah langit Kinabalu

Sebelum meninggalkan Kota Kinabalu, Padre Marco menerima sebuah hadiah sederhana dari pihak Masjid Negeri Sabah: sehelai sarung.

Bagi sebagian orang, sarung mungkin hanyalah sepotong kain. Namun bagi Padre Marco, hadiah itu menjadi simbol kuat tentang kedekatan budaya yang dimiliki Indonesia dan Malaysia.

Sarung, katanya, merupakan bagian dari identitas budaya bersama yang menghadirkan rasa hangat, diterima, dan dirangkul.

“Simbol budaya ini sangat powerful. Musim panas di Italia justru membutuhkan kain sarung. Akan saya coba,” katanya sambil tersenyum.

Dari Vatikan, kenangan tentang Kuala Lumpur dan Kota Kinabalu akan tetap dibawanya sebagai pengingat bahwa hubungan antarumat beragama dapat tumbuh subur ketika ditopang oleh penghormatan, keramahan, dan persahabatan.

Agenda Bersama

Selain melakukan kunjungan ke Sabah, Padre Marco juga menjadi salah satu peserta dalam KTT ke-3 Para Tokoh Agama Sedunia di Kuala Lumpur.

Dalam forum tersebut, ia berbicara mengenai tema “Youth Empowerment” atau pemberdayaan kaum muda.

Menurutnya, para pemimpin agama dari berbagai negara mencapai kesepahaman bahwa generasi muda harus diberi ruang lebih besar untuk terlibat dalam pembangunan masyarakat dan bangsa.

Kaum muda, kata dia, perlu dipersiapkan secara utuh melalui pendidikan, pembentukan moral, dan penguasaan ilmu pengetahuan agar mampu menjadi pemimpin masa depan.

“Mereka harus diberikan kesempatan untuk memperoleh pengalaman dan belajar mengambil tanggung jawab,” ujarnya.

Forum itu juga menyoroti tantangan baru yang dihadapi generasi muda, termasuk penyalahgunaan teknologi dan kecerdasan buatan yang berpotensi merusak kehidupan sosial apabila tidak digunakan secara bertanggung jawab.

Karena itu, pendidikan dan pendampingan generasi muda dinilai sebagai tugas bersama seluruh komunitas keagamaan.

KTT tersebut dihadiri berbagai tokoh penting dunia, antara lain Sultan Perak, Perdana Menteri Malaysia, Sekretaris Jenderal Liga Muslim Dunia, serta para pemimpin agama dari berbagai negara. Dari Indonesia hadir pula perwakilan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan PERMABUDHI.

Di tengah dinamika dunia yang kerap diwarnai ketegangan identitas dan perbedaan keyakinan, pengalaman sederhana yang dialami Padre Marco di Kota Kinabalu menghadirkan pesan yang menyejukkan: bahwa persaudaraan sering kali lahir dari hal-hal yang paling manusiawi—sapaan dalam bahasa yang sama, keramahan yang tulus, dan kebersamaan di meja makan. (tD/*)

Related Post