
Oleh Emanuel Dapa Loka, Tinggal di Bekasi
Apa makna patung dalam Gereja Katolik? Sebenarnya, upaya menjawab pertanyaan seperti pada judul ibarat hanya memutar ulang lagu yang sudah sering kali diputar.
Lagu dengan lirik yang sama sudah diputar oleh banyak orang untuk diperdengarkan kepada mereka yang perlu dihibur atau sekadar mau mendengarkan musik berikut liriknya.
Dan biasanya, orang yang hanya mau mendengar dan tidak melibatkan daya serapnya—logika dan daya estetikanya—akan selalu meminta lagi agar kepadanya diputarkan lagu itu. Atau bisa juga, justru karena melibatkan semua itu, maka dia mau mendengarkannya lagi. Seperti itulah posisi tulisan ini.
Bagi Gereja Katolik, setidaknya ada dua alasan utama menempatkan aneka patung di gereja, di pelataran, di rumah, atau di berbagai tempat strategis nan terhormat.
Sebagai Pengingat
Pertama, sebagai pengingat akan sesuatu atau banyak hal tentang sosok yang digambarkan melalui patung itu. Dengan melihat patung tersebut, pikiran dan daya imajinasi seseorang terbawa atau diantar kepada sosok tertentu beserta gambaran dirinya, kualitas pribadinya, jejak kehidupannya, dan peran yang telah ia torehkan sehingga memberi nilai bagi kehidupan.
Taruhlah patung Santo Fransiskus dari Asisi. Santo ini telah meninggalkan rekam jejak kehidupan yang sangat memesona: bagaimana latar keluarganya, kehidupan pribadinya, keputusan-keputusan yang ia ambil, karya-karyanya, dan pengaruhnya.
Banyak hal istimewa tentang dirinya, seperti cintanya kepada alam ciptaan, kedekatannya dengan binatang, sampai diriwayatkan bahwa ia dapat berkomunikasi dengan binatang seperti anjing, harimau, dan sebagainya.
Hal yang sama berlaku pada ribuan sosok yang digambarkan melalui patung-patung itu, bahkan juga pada patung Yesus, Bunda Maria, para malaikat, dan sebagainya. Manusia dengan rendah hati mengakui keterbatasannya sehingga ia memerlukan sarana.
Lalu, kalau ada yang merasa tidak memerlukan sarana-sarana itu, silakan saja. Namun, jangan karena mereka tidak membutuhkannya, lalu orang lain juga harus seperti itu, sambil membawa ayat-ayat Kitab Suci yang sesungguhnya tidak berbicara seperti yang mereka pikirkan. Itu hanyalah hasil penafsiran pribadi.
Tuhan tidak pernah melarang pembuatan patung. Yang Tuhan larang adalah membuat patung untuk disembah. Tidak ada orang Katolik yang menyembah patung.
Jangankan patung orang kudus, patung Yesus atau patung Bunda Maria saja tidak disembah. Kalaupun ada gerakan tertentu di depan patung itu, gerakan tersebut tidak ditujukan kepada patung itu, melainkan kepada Dia yang dihadirkan melalui patung itu beserta segala yang menyertainya.
Coba baca Ulangan 5:8–9 ini: “Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya….”
Yang tidak boleh dibuat adalah patung untuk disembah. Gampang sekali dipahami, tanpa harus mengerahkan ilmu tafsir tingkat tinggi.
Kitab Keluaran 20:4–5 juga mengatakan hal yang sama: “Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu….”
Alasan Estetika
Alasan kedua menyangkut estetika. Patung, lukisan, dan sketsa adalah buah daya estetika manusia yang dianugerahkan Tuhan kepadanya. Orang yang memiliki kemampuan tersebut menghargai talenta yang Tuhan berikan melalui kemampuannya membuat patung, lukisan, sketsa, dan sebagainya.
Sang pematung mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menghasilkan karya itu sebagai bentuk pertanggungjawaban atas talenta yang Tuhan berikan kepadanya.
Tak perlu khawatir berlebihan terhadap orang Katolik yang di dalam gerejanya terdapat banyak patung. Jangan mengira bahwa karena patung-patung itu, perhatian, hati, dan perasaan mereka akan tertuju kepada patung-patung tersebut. Tidak! Fokus mereka tetap kepada Yesus dalam Sabda dan Ekaristi.
Malah, sebagai orang Katolik, yang muncul saat masuk ke dalam gereja yang memiliki gambar dan patung yang indah adalah kata-kata atau gumaman: “Wow! Tuhan luar biasa.”
Jadi, mana soalnya? Kalau sungguh jadi soal bagimu, ya kamu saja. Jangan ajak-ajak kite-kite.

