Pandemi Korona Menggugat Kesadaran Diri dan Spiritualitas Kita

184
Simply da Flores

Oleh Simply da Flores, Alumnus STF Driyarkara Jakarta

TEMPUSDEI.ID (6 JULI 2021)

Fakta Pandemi Covid-19 melanda manusia seantero dunia adalah hal yang tidak bisa dibantah. Yang terpapar dan korban meninggal tidak pandang umur, ras, suku, adat budaya, jabatan, profesi, agama dan negara. Para medis pun terpapar dan banyak yang meninggal. Berbagai upaya mencegah dan mengobati sudah dan sedang dilakukan. Namun pandemi makin mengganas dengan melahirkan varian baru.

Bersamaan dengan Pandemi Covid-19, lahir juga banyak anomali dan kejahatan. Ada bisnis obat dan Alkes, ada berita hoaks dan info menakutkan sebagai teror sosial, ada praktik penipuan administrasi dan info obatnya, ada reaksi negatif melawan pejabat negara karena perbedaan haluan politik, ada korupsi dana penanganan pandemi, dan ada juga bisnis jenazah demi keuntungan pihak tertentu. Ada yang karena takut, akhirnya sakit trauma dan mati, lalu dicap korban pandemi. Ada manipulasi data di rumah sakit, sehingga yang mati bukan karena pandemi, dijadikan korban pandemi agar dana penanganan Covid bisa terpakai pihak manajemen.

Gugatan Kesadaran Diri

Dalam kajian ilmu pengetahuan, ditemukan bahwa rasa ingin tahu manusia tidak terbatas. Lalu kemampuan intelektual manusia berbeda-beda setiap orang, dan umumnya terbatas dibanding rasa ingin tahunya. Sedangkan sumber informasi dan fakta pengalaman serta realitas adalah membanjir dan tidak terbatas. Apalagi zaman informasi dengan teknologi digital saat ini.

Masalah muncul ketika perbedaan kemampuan akal budi mencerna dan memahami banjir informasi yang datang setiap saat. Jika kemampuan mencerna dan memahami terbatas atau minim, maka ada peluang besar untuk salah paham, gagal paham dan kegagalan bersikap serta memilih tindakan. Hal ini terjadi dalam memilih produk untuk berbagai keperluan, membangun relasi serta memberi reaksi terhadap informasi. Jika ada pihak yang dengan sengaja menyebar info hoaks dan menyesatkan orang, demi kepentingan politik, dagang dan terorisme, maka akibatnya bisa sangat merugikan bagi masyarakat yang gagal paham karena keterbatasan kemampuan mencerna informasi.

Dalam konteks pandemi Covid-19, sudah terjadi semacam penyakit dan virus ganas, karena “ketakutan”. Ketakutan yang bersumber dari gagal paham, juga karena booming hoaks untuk aneka kepentingan dari penyebarnya, telah membawa akibat buruk serta merugikan kepada masyarakat sederhana. Sangat banyak yang bingung, ketakutan, salah bersikap dan memilih tindakan menghadapi pandemi Covid-19. Lalu, lahir perilaku yang keliru dan merugikan kesehatan serta keselamatan diri. Ada yang bertindak salah dan menolak Prokes atau upaya pencegahan dengan vaksin. Ada yang demo dan bertindak brutal terhadap petugas kesehatan.

Kesadaran diri diharapkan dimiliki setiap orang, agar berpikir waras, mengelola emosi dan menjaga keteguhan nurani dan jiwa dengan imannya. Namun, booming informasi yang didukung teknologi digital sudah menjadi “pandemi zaman now” bagi kehidupan masyarakat sederhana di segenap pelosok negeri. Kemajuan informasi dan teknologi digital pada masa Pandemi Covid-19, ternyata ada sisi negatif dan bahayanya karena ada banyak pihak yang menyalah-gunakannya, demi kepentingan pribadi dan kelompoknya.

Gugatan Spiritual

Menurut saya, hadirnya Pandemi Covid-19 yang melanda dunia, adalah teguran dari Sang Pencipta. Pandemi Covid-19 menggugat dimensi spiritual manusia, yang mutlak tergantung pada sesama dan alam lingkungan semesta.

Pertanyaan pada tataran nilai kehidupan, prinsip relasi antar pribadi dan relasi manusia dengan alam lingkungannya. Lalu gugatan terhadap kesadaran manusia tentang relasi dengan Sang Asal, Penyelenggara dan Tujuan kehidupan.

Khasanah adat budaya di seluruh pelosok negeri ini mewariskan nilai spritual dalam kehidupan manusia, generasi penerusnya. Apakah masih dihargai, digunakan dan dihidupi sebagai aspek yang luhur dan penting. Ataukah, karena biasa dialami dan dilihat, maka dijadikan hal yang biasa saja. Bahkan ada manipulasi dan pergeseran demi kepentingan bisnis dan politik, lalu ada uang ditinggalkan karena dianggap kuno?

Hal ritual dan spiritual dalam khasanah adat budaya Nusantara, hanya bisa dijawab oleh para pemangku adat dan komunitas pemiliknya. Termasuk, apakah digunakan sebagai kekuatan perlindungan kehidupan dalam menghadapi wabah Pandemi Covid-19? Adakah pertanyaan dan refleksi dalam konteks kearifan dan spiritualitas adat budaya terhadap Pandemi Covid-19 yang semakin ganas merenggut nyawa ?

Sekali lagi, bagaimana  peran dan tanggunggugat pemangku adat budaya di masing-masing komunitas adat.

Tentang lembaga agama dan organisasi pemangku keagamaan, Pandemi Covid-19 adalah ancaman serius atas kehidupan dan gugatan terhadap keimanan serta praktik hidup keagamaan selama ini. Apakah aktivitas keagamaan sungguh keluar dari kesadaran religiositas dan spiritualitas pribadi, atau yang terjadi hanya rutinitas dan pelembagaan tradisi, yang justru saat ini diuji oleh Pandemi Covid-19? Bagaimana keimanan pribadi, seberapa mengakar dan penting dalam totalitas hidup pribadi maupun komunal dan sosial,  selama ini?

Fakta Pandemi Covid-19 justru menggugat fakta relasi spiritual setiap pribadi, komunitas, para tokoh agama dan kepercayaan dengan Sang Maha Esa, Allah Pencipta – Penyelenggara – Tujuan kehidupan manusia. Saat ada ancaman pandemi yang sudah merenggut jutaan jiwa, maka gugatannya adalah soal hidup mati manusia. Apakah kekuatan spiritual masih disadari dan dihidupi oleh kita selama ini?

Kata Ebiet G Ade dalam lagunya “Berita Kepada Kawan” dan “Untuk Kita Renungkan”, kiranya menjadi satu pesan penting bagi kita menghadapi pandemi covid19 sekarang ini.

“… Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita, yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa kita. Atau alam mulai enggan, bersahabat dengan kita. Coba kita bertanya pada diri….Kita mesti telanjang, dan benar-benar bersih….

Saat tragedi Pandemi Covid-19, sangat diharapkan petuah dan teladan para tokoh agama, yang mengalir dari mata air jiwanya, datang dari pengalaman spiritual dan lumbung imannya, karena dekat berkaul akrab dengan Sang Pencipta. Tokoh agama diandalkan menjadi teladan iman, tempat berlindung dan penuntung bijak kepada Sang Maha Agung, bagi segenap umat yang dipimpinnya.

Karena itu, jika ada tokoh dan pemimpin agama yang menyebar kebencian, mengajak umat melawan Pemerintah, meyakinkan umat untuk tidak Prokes dan tidak usah peduli dengan wabah Pandemi Covid-19; maka sungguh menjadi pertanyaan. Apakah itu teladan dan tuntunan spiritual yang benar dan suci? Apakah hal itu mengalir dari mata air iman dan lumbung spiritualitas yang diberkahi Sang Maha Suci, sembahan dalam setiap keyakinan dan agama?

Hemat saya, Pandemi Covid-19 adalah wabah penyakit, tetapi juga gugatan Sang Pwncipta terhadap keimanan dan spiritualitas pribadi maupun komunal setiap kelompok keyakinan dan agama yang ada. Apakah Allah Sang Maha Suci masih mendapat tempat dalam aktivitas keagamaan dan keyakinan para tokoh – pemimpinnya serta penganutnya selama ini.

Mari kita masing-masing, masuk dalam kamar pribadi dan ruang jiwa, menjawab dengan jujur kepada Allah Sang Maha Melihat. *