Ketika Sikap Keras Kepala Kolosal Melanda Negeri

171
Emanuel Dapa loka
Tampak tenda darurat di halaman RSUD Kota Bekasi untuk tampung pasien Covid-19. (ist)

Oleh Emanuel Dapa Loka, wartawan dan penulis biografi

Indisiplin dan inkonsistensi bisa membunuh anda dan saya saat ini dan ke depan. Mengapa? Karena kedua sikap tersebutlah, jumlah korban terjangkit Virus Korona dan varian baru Delta meningkat sangat tajam.

Di mana-mana, rumah sakit kewalahan, bahkan sejumlah rumah sakit sudah menjadikan selasar sebagai ruang perawatan. Tenda-tenda darurat pun dibangun di halaman rumah sakit untuk menampung pasien Covid-19. Ini jelas situasi horor dan menakutkan. Kondisi ini sungguh lebih parah dari gelombang awal datangnya korona.

Sejak awal para ahli virus sudah mengatakan bahwa virus ini tidak bisa dianggap remeh, namun tidak perlu terlalu dikhawatirkan juga. Yang selalu diingatkan oleh para ahli virus dan Pemerintah, agar masyarakat taat pada protokol kesehatan atau Prokes.

Berkali-kali disosialisasikan penerapan protokol kesehatan dengan baik dan disiplin agar masyarakat terhindar dari keterpaparan. Sayangnya, masih terlalu banyak yang abai, bahkan ada yang tidak mengenakan masker sama sekali. Kalaupun mengenakan, lebih banyak dipasang didagu. Ketika virus varian Delta yang disebut-sebut lebih mudah menyebar muncul, sehingga terbit anjuran untuk mengenakan masker berlapis, memang banyak orang memakai dua masker, namun banyak yang hanya memasang di dagu. Oi…! Dagumu tidak perlu dilindungi!

Lebih parah dari itu, tanpa peduli, banyak orang masuk dalam aneka kerumunan tanpa peduli Prokes. Di tengah sudah begitu banyaknya korban berjatuhan, tidak sedikit orang yang secara terbuka menyatakan tidak percaya adanya Covid, malah menyebutnya sebagai konspirasi. Ada pula orang yang sudah pernah terpapar Covid dan pernah memberikan testimoni tentang itu, kemudian berbalik mengatakan secara tidak malu-malu, tidak percaya adanya Covid. Lebih sadis, orang ini memvonis Pemerintah menggunakan Covid untuk membunuhi rakyatnya sendiri secara massal. Duh! Logika semacam apa yang dipakai oleh orang species ini? Huhg!

Setuju atau tidak, gelombang baru Covid ini datang setelah tingkat mobilitas orang yang tinggi pada masa liburan lalu. Banyak orang yang tetap nekad pulang kampung dengan berbagai cara. Imbauan Pemerintah disiasati sedemikian rupa agar bisa sampai ke kampung halaman. Larangan Pemerintah dianggap sebagai “kejahatan”. Mereka bahkan menempuh jalan-jalan tikus untuk mengelabui para polisi atau petugas yang menyegat.

Setelah itu di mana-mana terjadi kumpul-kumpul dengan keluarga—yang kemudian menjelma menjadi klaster baru. Sudah begitupun, masih banyak yang abai terhadap Prokes. Prokes dianggap sebagai beban dan mengada-ada. Mereka rupanya belum percaya kalau belum merasakan secara pribadi cengkeraman Covid itu.

Keras Kepala Kolosal

Maaf, ini namanya keras kepala kolosal nan tanpa batas. Inilah keras kepala atau kopig yang bisa membunuh secara kolosal pula.

Perilaku-perilaku tersebut sungguh hanya menunjukkan bahwa banyak anggota masyarakat kita yang tidak disiplin dengan perilaku, pikiran dan mulutnya. Berkesadaran rendah dan tidak peduli.

Kondisi saat ini semakin darurat. Dan untuk membatasi pergerakan manusia, Pemerintah sendiri telah menetapkan PPKM Darurat di Jawa dan Bali. Ini langkah strategis kesekian yang diambil Pemerintah untuk menyelamatkan masyarakat dari keterpaparan, sambil tetap menjaga geliat ekonomi.

Program ini pun akan berhasil jika ada kerjasama yang konsisten antara Pemerintah dan masyarakat. Keduanya harus dengan tertib dan disiplin tingkat tinggi menjalankannya. Masyarakat umum pun harus patuh terhadap Prokes kapan dan di mana pun.

Dalam urusan Covid ini berlaku prinsip “Tidak disiplin berarti mati”; dan kematian di sini bersifat “berantai”. Karena itu, amat penting dan berdasar jika Pemerintah mengambil sikap teramat tegas menghukum mereka yang tidak disiplin. Pemerintah dan penegak hukum di masyarakat juga tidak boleh mencla-mencle. Jika mencla-mencle, akan tiba saatnya, semua orang termasuk Pemerintah, petugas di lapangan, juga mereka yang tidak percaya adanya Covid menjadi korban Covid. Lalu, siapa mengurus siapa, atau lebih ekstrem lagi, “siapa menguburkan siapa?”

Inilah saatnya sikap keras kepala itu dikendalikan. Kalau tidak bisa dikendalikan dengan persuasif, kendalikan dengan tangan besi. Mereka yang tidak mau selamat atau mau mati sia-sia hanya sedikit. Kalaupun kematian yang sia-sia itu datang menimpa mereka, persoalan tidak selesai. Covid justru berjangkit dari mereka.

Ayolah, Pemerintah ambil sikap tegas dan tegakkan disiplin. Kita masyarakat harus mau bekerja sama. Saat inilah secara konkret dan terang benderang bahwa sikap disiplin itu menyelamatkan nyawa. Ayo, kita bisa!