Doa Melahirkan Cinta

49
Eleine Magdalena

Oleh Eleine Magdalena, Penulis buku-buku renungan best seller

TEMPUSDEI.ID (5 JULI 2021)

Berdoa melahirkan cinta. Cinta kepada Tuhan mengilahikan perbuatan sehari-hari.

Berdoa adalah kebutuhan dasar manusia. Seperti udara yang kita perlukan setiap saat, demikianlah kita memerlukan Tuhan. Tanpa Tuhan kita tiada. Tanpa doa, rohani kita kering lalu mati. Doa menyatukan kita dengan Tuhan Sang sumber kehidupan.

Bertahun-tahun Vivi berjuang untuk bisa berdoa setiap hari. Awalnya tidak mudah meluangkan tiga puluh menit sehari untuk berdoa. Apalagi ketiga anaknya masih kecil. Rasa mengantuk dan lelah setelah sepanjang hari mengurus keluarga adalah salah satu yang membuatnya sulit berdoa. Ia juga kadang dilanda rasa malas dan jenuh untuk berdoa.

Jika rasa lelah melanda, Vivi tetap memaksakan diri untuk berdoa. Kadang-kadang ia mengalami kasih Tuhan dan masuk dalam keheningan batin. Namun sering pula ia tidak merasakan apa-apa. Doanya terasa kering. Tetapi Vivi tetap berkomitmen untuk berdoa apa pun yang ia alami dan rasakan dalam doa. Bagi Vivi, hiburan rohani atau perasaan damai dalam berdoa bukanlah tujuan yang dikejar. Ia berdoa untuk menyenangkan-Nya dan melakukan perintah-Nya. Yesus mengatakan: “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah” (Mat. 26:41).

Bagi Vivi, segala-galanya dia lakukan demi cinta kepada Tuhan. Doa adalah persembahan waktu dan cintanya kepada Tuhan. Cinta pada Tuhan melahirkan tekad kuat untuk mengalahkan rasa lelah dan tetap berdoa.

Cerita lain datang dari seorang bernama Maria, ia selalu berdoa. Biasanya saat yang paling menyenangkan buat berdoa adalah setelah misa harian pagi. Namun kewajiban untuk menemani anak sebelum pergi sekolah membuatnya menunda doa pribadinya.

Bagi Maria, berdoa adalah saat yang paling me-nyenangkan. Itulah saat ia benar-benar bisa masuk dalam hati Tuhan. Melepaskan segala kepenatan pikiran dan memeroleh kekuatan baru. Saat doa adalah saat penuh rahmat yang selalu dirindukannya. Maria juga pernah mengalami kekeringan dalam doa. Namun hal itu tidak dihiraukannya. Jika ia tetap berdoa, maka kekeringan itu juga berlalu.

Maria dengan jujur mengatakan bahwa berdoa adalah hobinya. Dalam berdoa, Maria menerima semua rahmat yang ia butuhkan. Maria tidak pernah malas berdoa. Hanya saja ia berjuang setiap hari untuk berdoa satu jam di tengah pelbagai kesibukannya mengurus keluarga, pekerjaan, dan pelayanan. Caranya, Maria menetapkan waktu doa sebagai prioritas. Berdoa adalah keharusan yang tidak dapat ditawar-tawar.

Komitmen dan kedisiplinan Maria membuahkan hasil. Tugas-tugasnya dapat berjalan baik dan seimbang. Waktu satu jam yang dipersembahkan untuk Tuhan, digantikan berlipat-lipat. Hidup Maria berbuah, ia bisa melakukan banyak hal baik bagi keluarga dan sesama. Bagi Maria, berdoa membuat hidupnya bahagia.

Seperti Maria, Hendra setiap hari berdoa. Setiap kali ia merencanakan untuk berdoa di pagi hari, mendadak pekerjaan menumpuk pagi itu. Demikian pula jika ia merencanakan berdoa siang atau sore hari, tiba-tiba saja banyak hal yang mendesak untuk diselesaikan. Hal seperti ini berulang kali terjadi sehingga Hendra tidak “berani” berpikir atau merencanakan kapan ia mau berdoa. Begitu ada waktu, ia langsung berdoa. Kalaupun “serangan” pekerjaan tiba-tiba menghampirinya, Hendra memilih untuk mengabaikannya. Ia meninggalkan pekerjaan yang penting itu dan segera masuk ke dalam kamar untuk berdoa.

Hambatan lain adalah pikiran yang berputar-putar pada pekerjaan. Jika ada beban pikiran, Hendra sulit mengarahkan hati kepada Tuhan. Ia mengalami kesulitan untuk berdoa dengan tenang apabila ingin segera menyelesaikan suatu hal. Namun, karena membiasakan diri berdoa dalam keadaan apa pun, pelan-pelan Hendra bisa menenangkan hati dan pikiran walaupun pekerjaan sedang menunggunya. Kuncinya adalah, berani meninggalkan pekerjaan sejenak untuk berdoa.

Berdoa layak untuk diperjuangkan. Pekerjaan lain tidak dapat menggantikan doa. Pekerjaan yang bagi kita penting mungkin tidak bernilai bagi Allah jika tidak didasari cinta kepada-Nya. Berdoa melahirkan cinta. Cinta kepada-Nya mengilahikan perbuatan sehari-hari. Mari kita tetap berdoa dalam situasi apa pun agar hidup kita berkenan kepada-Nya. (Kisah Kasih Tuhan, 2015)