Surat Cinta Yoseph Yapi Taum untuk Istrinya yang Meninggal Karena Korona

2444
RIP, Katharina Sulistyawarni

Seperti tersambat petir pada menjelang tengah malam pada 3 Juli 2021, ketika Yoseph Yapi Taum, dosen Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta menerima berita duka kepergian istrinya. Istrinya Katharina Sulistyawarni yang baru beberapa hari dirawat di RS Hermina Bogor meninggal akibat terinfeksi virus korona.

Hidup bersama sang istri selama 33 tahun membuat Yapi sangat kehilangan dan berduka. Berikut isi hati untuk istri dan semua orang tercinta yang telah memberikan perhatian.

 

AKU PULANG SENDIRI: untuk Istriku Katharina Sulistyawarni

Ma, hari ini, Sabtu, 3 Juli 2021 (23.00), secara spontan saya menulis catatan ini dengan judul “Aku Pulang Sendiri”. Ya, hari ini Mama mengembuskan nafas terakhir di IGD RS Hermina Bogor setelah berjuang melawan covid-19 selama lima hari, sejak  Senin, 28 Juni 2021 (pkl. 13.19).

Ketika memasuki ruang IGD, Mama selfie dan menulis pesan menghibur, “Biar  kalian tenang, Mama pasti sembuh!” Mama yang saya kenal sebagai pejuang tangguh akhirnya menyerah dari keganasan virus yang sudah menyerang paru-paru dan ginjal.

Rasanya seperti petir di siang bolong ketika mendengar berita duka ini. Sebuah tirai bengis memisahkan suami-istri, keempat anak, dan ketiga cucu yang masih kecil-kecil dan sangat Mama sayangi.

Hari ini juga, Sabtu, 3 Juli 2021, Mama pulang sendiri ke Jogjakarta. Kali ini dengan menumpang ambulance, langsung dari IGD RS Hermina Bogor, pkl. 04.00. Di rumah kita di Kronggahan, Trihanggo, Sleman, Yogyakarta kami bersiap sejak Pkl. 00.30.

Budhe Harini luar biasa hebatnya. Pensiunan guru SD itu membangunkan warga untuk menemani kami di rumah dan menyiapkan segala sesuatunya untuk acara penguburanmu. Semua disipkan; Penggali kubur, kembang, salib, petugas ibadat, Satgas Covid-19 pemakaman, keduri dan umbu rampenya, sampai makan kami semua di rumah. Papa begitu kagum dengan kerja keras, ketekunan, dan kegigihan Budhe Harini. 

Pak Dukuh dan Pak RT 05 malam itu juga (pkl. 03.00) menemui Ketua Satgas Covid-19 Kabupaten Sleman meminta tenaga Satgas Covid-19 khusus pemakaman. Semuanya berjalan dengan mulus. Ketua RT 05, Mas Bambang Suharyanto, Ketua RW 03, Fransky Santosa, Kadus Kronggahan I Anjas Septiawan, dan Ketua Satgas Covid-19 Trihanggo. Mas Yulianto secara bulat hati menandatangani “Surat Keterangan Tidak Berkeberatan” menerima Mama sebagai warga Kronggahan. Surat ini memuluskan perjalananmu dari Bogor ke Yogyakarta. 

Supir ambulance dalam perjalanan terakhir Mama, Bang Yudi dan seorang rekannya, mengantarmu dengan baik, hingga tiba di Yogyakarta Pkl. 11.30. Papa, Dismas, Della, Richo, Ratna, dan Vino menjemput Mama ke Duwet. Ambulance dilewatkan di depan rumah kita, dan berhenti sejenak, seperti biasa Mama selalu mengabadikan momen-momen penting. Ambulance pun berhenti di Makam Nyai Ronggah, Kronggahan, Pkl. 11.45. Setelah menunggu Satgas Covid-19 Pemakaman, ibadat penguburan pun dilaksanakan, dipimpin Prodiakon Mas Andri.

Perpisahan itu luka. Mendung menggantung di langit. Kebersamaan selama 33 tahun bukan waktu yang singkat. Sekilas kaleidoskop perjalanamu tergambar jelas. Madiun, Yogjakarta, Dili, Flores, balik Yogya ambil S-2, ke Dili lagi, Timtim lepas, balik Yogya, ke Palu, ke Bogor….dan pulang sendiri.

Papa sangat lega, malam ini, 3 Juli 2021,  Mama sudah tidur di Yogyakarta. Semua urusan dan perjalanan begitu lancar. “Saya pasti pulang ke Yogyakarta,” begitu jawab Mama waktu papa masih sempat menanyakan kapan Mama pulang. Sebuah mukjizat, karena di tengah aturan pembatasan yang lebih ketat, jenazah terpapar covid dibawa dari Propinsi Jawa Barat melewati DKI Jakarta, Provinsi Jawa Tengah, sampai ke Yogyakarta.

Papa dan semua keluarga senang, Mama beristirahat di Kronggahan. Dekat rumah yang kita bangun dengan susah payah.  Ketika akhirnya kami kembali ke rumah, kekosongan menyeruak ke dalam dada. Rumah kita tak lagi punya tanda. Jejakmu memenuhi seluruh sudut rumah ini.

Begitu banyak ucapan belasungkawa, dukungan doa, dan karangan bunga dari rekan kerja, teman di lingkungan, wilayah, pedukuhan, organisasi profesi. Papa menjawab dengan nada yang sama kepada grup-grup WA sebagai berikut (terkadang diedit sesuai dengan kepentingan).

“Bapak,Ibu, saudara sekalian yang saya kasihi, saya mengucapkan terima kasih yang tulus atas semua doa dan dukungannya untuk arwah istri saya Ibu Katharina Sulistyawarni (54) yang meninggal karena Covid-19 di RS Hermina Bogor (7/3/2021 Pkl. 00.13 WIB). Jenazah istri saya sudah dikebumikan dengan sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya di Makam Nyai Ronggah, Kronggahan, Trihanggo, Yogyakarta Pkl. 13.30 WIB. Kami segera mengikhlaskan kepergiannya ke rumah Bapa di surga. Salam dan hormat saya pada Bapak, Ibu, saudara sekalian.”

Benar. Dibutuhkan beberapa waktu. Waktu adalah obat yang paling baik untuk menyembuhkan luka.(Yoseph Yapi Taum)

Yogyakarta, 3 Juli 2021.