Cerpen Nelly Anjani Br Sembiring: Malaikat Kecilku Telah Hilang di Tanganku Sendiri

119

TEMPUSDEI.ID (10 JUNI 2021)

Malam itu gelap memeluk sepi. Ia memegang aku erat dalam duka dan menenggelamkanku dalam bayang-bayang janji. Gelapnya malam menjadi saksi atas ketakutan yang selama ini terjadi karena sulit kuhindari.

Aku terus berjalan di gelap malam tanpa peduli kakiku lelah berjalan. Wajahku pucat bagai mayat. Tubuhku gemetar dalam jalan yang sepi. Aku mencoba terus berjalan, namun aku tak sanggup. Aku masih tidak percaya dengan apa yang kulihat beberapa jam yang lalu. Hanya dalam beberapa menit harapan yang kutata rapi hancur seketika.

Sinar mentari pagi masuk ke dalam celah jendela kamarku. Aku bingung kenapa aku sudah berada di kamar ini. Aku bangkit dari kasurku yang empuk dan bergegas mencari siapa yang membawaku pulang ke kos tempatku tinggal.

“Eh, kamu udah bangun?” tanya Tina yang berbarengan keluar kamar denganku.

“Iya Tin, entah kenapa aku bisa sampai di kos,” jawabku.

“Oh itu, semalam kamu tergeletak di jalan menuju kos. Aku baru balik dari kampus dan melihatmu. Aku rasa kamu sedang sakit atau kamu ada masalah, tanpa pikir panjang aku segera memanggil Pak Satpam dan membantu membawamu ke kos,” jelas Tina. “Wah terima kasih Tin, kamu sudah menolongku,” ucapku.

“Sama-sama, aku mandi dulu ya, kamu istirahat,” ucap Tina sembari berjalan menuju kamar mandi.

Aku mencari ponsel gengamku di dalam tas dan segera menekan nomor yang ingin kutuju. “Hallo, kita ketemu di danau, ya. Ada yang ingin kubicarakan denganmu!” ucapku dan langsung memutuskan sambungan.

Untuk kesekian kalinya aku kembali menguatkan hati, bagaimanapun hati yang hancur harus bisa kusatukan kembali. Aku mencoba menenangkan diri lalu bergegas pergi untuk menemuinya.

BACA JUGA:  Puisi-puisi Yoseph Yapi Taum dari Yogyakarta

Aku duduk di tepi danau, memandang pohon tepat pada ujungnya. Pohon itu hanya sendiri di sana, namun ia tetap kokoh berdiri. Tak ada teman dan hidup sendiri sepertiku di perantauan ini.

Demi cita-cita aku berangkat ke tanah orang, tapi sekarang aku tidak yakin dengan cita-cita itu. Aku tidak bisa membahagiakan orang tuaku sebagaimana dulu aku inginkan.

“Kamu sudah lama,” suara itu membuyarkan lamunanku, kembali kumenenangkan hatiku.

“Duduklah, aku ingin berbicara!” perintahku.

“Aku tidak ingin basa-basi, aku harap kau menepati janji yang kau ucapkan dulu. Aku harap kau jadi laki-laki yang bertanggu jawab. Semalam aku test pack dan aku hamil,” lanjutku.

Dia membisu, aku bisa melihat ketakutan dimatanya. “ Kau gugurkan saja,” ucapnya ragu.

Seketika emosiku memuncak. “Apa? Kau gila, ya! Ini anakmu dan kau harus bertanggung jawab! Ingat janjimu sebulan yang lalu bahwa kau akan menanggung risiko, tapi kenapa sekarang kau berkhianat?”

“Aku masih ingin melanjutkan mimpiku. Itu urusanmu jika kau tidak ingin kena masalah, maka gugurkannya,” ucapanya.

“Hah! Bagamaina dengan mimpiku? Apakah aku harus menguburnya dalam-dalam hanya untuk mimpimya yang terwujudkan? Kau begitu egois!” ucapku dengan amarah menggebu-gebu.

“Aku ingin kita putus,” ucapnya tak merasa bersalah sedikit pun sembari bergegas meninggalkanku. Ia meninggalkan duka yang harus kutanggung sendiri. Aku hanya bisa menangis terus-menerus. Badanku sudah lemas, aku tidak berdaya. Bayang wajah orang tuaku kini memenuhi kepalaku.

Mereka rela banting tulang untuk pendidikanku, namun sekarang aku mengkhianati mereka, aku telah berhianat. Aku begitu hina, aku tak layak hidup. Aku bahkan melupakan janjiku untuk menjaga diriku di perantauan, ternyata aku gagal. Aku tidak tau diri, aku lupa dengan tujuan awal yang menjadi alasanku di kota ini.

BACA JUGA:  Puisi-puisi Agust G. Thuru dari Denpasar untuk Hari Pendidikan Nasional

Aku menyeret langkahku masuk ke dalam kamar yang sepi. Tidak ada gunanya putus asa dengan keadaanku. Aku kembali mengingat kedua orang tuaku yang sudah tua di desa. Tujuanku merantau untuk membahagiakan mereka, tapi sekarang tanpa mereka tahu aku kini telah menyayat hati dan mengkhianati harapan mereka. Apakah aku harus menggugurkan kandungan ini? Dia yang tidak berdosa haruskah kulenyapkan? Aku begitu benci diriku, aku begitu hina. Aku hanya bisa menangis meratapi dukaku yang pilu.

Sudah satu minggu aku tidak masuk kuliah tanpa sepengetahuan orang tuaku. Setiap hari aku selalu menyapa mereka melalui ponsel genggamku, namun kali ini aku tidak berani. Aku hanya terus mengunci diriku dan menyiksa tubuhku. Keputusanku sudah bulat untuk menggugurkan kandungan ini. Di satu sisi, aku tahu ini adalah dosa yang besar. Di sisi lain aku tidak ingin mengkhianati orang tuaku.

Aku menatap kosong air yang tenang di hadapanku, begitu tenang mengalir tak bertujuan.

Bungkusan janin sudah berada di tanganku yang bergetar, air mata mengalir deras membahasi pipiku. Aku telah menjadi seorang pembunuh, pembunuh malaikat kecil yang seharusnya menjadi malaikat di hidupku. Malaikat kecil yang tidak bersalah harus kehilangan nyawa sebelum merasakan kehidupan di bumi.

Aku meletakannya pada air yang mengalir yang membawanya secara perlahan.

“Maafkan aku, nak. Seharusnya kau kubahagiakan, tapi aku harus membahagiakan orang tuaku terlebih dahulu.”

Kulirik layar ponselku kemudian mengetik sebuah nama di sana dan menghubungkannya ke dalam panggilan.

“Hallo,” sapa seseorang dari seberang sana.

Aku membisu, lidahku kelu. “Ibu, aku merindukanmu”

Nelly Anjani Br Sembiring, Mahasiswi Program Studi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

 

BACA JUGA:  Puisi-puisi Simply da Flores untuk Palestina dan Israel, dan tentang Memahat Cinta

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here