Cerpen Bachtiar Dian Nugraha: Gaun Magenta Delia

221
Bachtiar

TEMPUSDEI.ID (12 JUNI 2021)

Waktu sudah menunjukkan pukul 23.30 WIB, malam masih panjang. Terang bulan malam itu menemani Delia yang baru saja memulai aktivitasnya.

Delia, seorang gadis berparas ayu, mirip dengan penyanyi Alda Risma. Dia tinggal seorang diri di kosan, dekat dengan tempatnya bekerja.

Ia sepertinya tak pernah merasa sendiri sebab setiap pulang bekerja, ada saja pria yang menemani kesendiriannya. Sebelum memulai aktivitasnya, Delia selalu bersolek, memupur parasnya, serta mengenakan pakaian yang sungguh menawan. Ini mengisyaratkan bahwa ia akan pergi ke pesta dansa. Nampaknya ia memiliki jadwal tersendiri saat mengenakan kostum favoritnya pada tiap malam.

Malam itu, gaun berwarna magenta terlihat menghiasi seluruh tubuh, bersama pernak-pernik yang menempel. Delia penuh senyum sumringah, sama seperti malam-malam sebelumnya. Ia  mendatangi tempat kerjanya, bak penyanyi yang ingin melaksanakan konser.

Di sudut lorong tempat kerjanya, terdapat beberapa sofa kecil. Delia, terduduk di salah satu sofa tersebut. Ia mulai membakar sebatang rokok kesukaanya. Ah…! Delia menikmati tiap hisapan rokok tersebut, sesekali membayangkan betapa santainya pekerjaan yang ia jalani. Ia tak lupa bertegur sapa dengan setiap rekan satu kerjanya saat lewat di hadapannya.

Tak terasa sudah tepat dini hari. Tiba-tiba datang beberapa lelaki paruh baya yang mendekatinya, mereka saling bercakap dengan Delia. Kemudian, ia bersama para lelaki itu masuk ke salah satu ruangan yang berada di tempat kerja Delia.

Suara detak jam terus berputar, hingga menunjukkan pukul 02.30 WIB. Delia bersama para lelaki keluar dari ruangan itu. Nampak paras memerah tak karuan, terlihat dari raut mereka. Delia, mendapat sejumlah uang sebagai imbalan atas pekerjaannya. Nampak pekerjaanya hari itu sudah selesai. Kemudian Ia berjalan pulang menuju kosan. Dengan sedikit sempoyongan, langkah kakinya yang sudah letih melangkah, dan sepertinya ia sudah tidak sabar merebahkan diri di atas kasur usang miliknya.

Berbeda dengan malam-malam sebelumnya, ketika ia pulang bekerja. Malam itu Delia hanya pulang seorang diri tanpa seorang yang menemani perjalanan pulangnya. Mungkin saja karena sudah letih, dan ingin segera beristirahat. Mungkin juga karena ia berpikir jika pulang bersama orang lain akan banyak menghabiskan waktu untuk mengobrol.

 Ketika melangkah, saat menyusuri lorong di sebuah gang, ia bertemu beberapa pria. Para pria itu, sama seperti orang-orang yang ia temui di tempat kerjanya. Benar saja, salah satu pria mendekatinya, kemudian menyolek pipi kiri Delia seraya berkata, “Hai, cantik. Kita bertemu kembali, siapa namamu? Apakah kau bersedia menemani kami kembali hingga fajar terbit?” Sontak Delia terkejut. Perasaannya menjadi tidak enak. Raut muka memerahnya kini berubah. Ia sadar, bahwa akan terjadi sesuatu pada dirinya. Ia menjawab, “Tidak! Pekerjaanku telah usai, kini aku akan pulang dan beristirahat. Aku akan menikmati kesendirianku hari ini!”

Para lelaki itu nampak tidak suka dengan jawaban yang terlontar dari bibir ranum Delia. Beberapa pria mendekatinya, sembari menarik gaun magenta Delia.”Dasar pelacur tak tahu malu! Kau tadi mau menemani kami. Kami sudah membayarmu lebih dari sekadar bernyanyi bersama! Sekarang waktunya kau membayar!” Bak sambaran petir di sepertiga malam. Delia mulai panik, binar bola matanya menyala. Ia benar-benar merasa sendiri di antara pria yang akan melakukan kejahatan padanya. “Tidak! Akan kukembalikan uang kalian! Tetapi mohon, izinkan saya lewat untuk pulang!”

Sialnya para lelaki itu nampak sudah kesetanan. Beberapa mulai menggerayangi tubuh Delia. Mulutnya sudah disumpal dengan tangan dan melucuti gaun yang Delia kenakan. Ia tak mampu berteriak, selain dalam hati tentunya. Terlambat sudah. Tak ada yang bisa menolongnya, kecuali keajaiban. Delia pun sepertinya tak memercayai adanya keajaiban. Ia merasa bahwa pekerjaan yang dijalaninya ia  dapatkan dengan cara yang tidak mudah. Sebagai perantau, ia sadar mencari pekerjaan tidaklah mudah. Bekerja pada pagi hari hingga matahari terbenam sudah menjadi hal biasa dan banyak dilakukan oleh orang-orang. Ia sudah memikirkan pekerjaan yang tepat untuk dirinya.

Setiap pekerjaan mempunyai risiko masing-masing. Delia sangat paham akan hal itu. Ia bekerja untuk dirinya sendiri, tak ada yang ia pikirkan ketika pulang ke kampung halamannya. Ia sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi.

Sebelum merantau ke kota, Delia hidup dengan kebosanan. Menjadi anak tunggal, dari kedua orang tua yang hidup serba berlebihan. Ia mungkin terusik dengan kenyamanannya tersebut. Suatu hari, ia mendapat kabar dari tetangganya bahwa kedua orangtuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan. Hal itu menjadi salah satu alasannya bertekat untuk merantau ke kota. Tak ada orang yang bisa mempertimbangkan jalan hidupnya, kecuali ia sendiri.

Delia tak pernah menyesali apa yang pernah ia lakukan. Ia selalu percaya pada keputusannya. Anggap saja itu bagian dari strategi kehidupan. Tak sempat membayangkan masa lalunya. Delia hanya bisa pasrah, menangis, meratapi kesialannya pada pagi buta itu.

Untuk pertama kali, dalam dua tahun bekerja, ia benar-benar dihadapkan dengan risiko pekerjaannya.

Naas, pagi itu. Sesampainya fajar terbit. Ia tak juga terbangun. Ia tergeletak tak bernyawa di lorong gang. Gaun magenta sudah tidak menghiasi tubuhnya. Begitu pula pernak-pernik yang sudah tidak menempel lagi. Ia kini benar-benar sendiri, dan kesepian. *

Bachriar Dian Nugraha, Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta