Cerpen Bonar Bona Boni Sianipar: Bianca

73
Bonar Bona Boni Sianipar

“Pukul 6 pagi waktunya lari!” Begitulah pikir seorang bujang 27 tahun yang baru selesai menyiapkan perlengkapan. Ia juga baru selesai mengucap syukur kepada Penciptanya, atau nama lainnya Salat.

Dia sudah lama tinggal sendiri jadi harus mandiri, bahkan terbiasa sendiri. Selesai lari paginya selama satu setengah jam lebih. Sampai di rumahnya dia menyiapkan sarapan sendiri. Dengan keahlian masak yang tercipta dari SMA, karena ditinggal jauh orang tuanya pergi bekerja, dia cukup pandai meracik makanan. Lidahnya menjadi peka terhadap rasa-rasa, semua rasa yang ada. Rasa sendiri pun ada.

Oh ya, rahasia dia semangat lari pagi karena termotivasi dengan udara segar. Tentu. Dan adegan segar seorang perempuan relawan yang membagikan sarapan pagi kepada mereka yang di pinggiran jalan, trotoar pejalan, dan kolong jembatan. Tua, muda, dan berkarya pun diberikan semuanya, juga kepada mereka yang meminta. Sang bujang selalu dapat bagian dan membuat dia berpikir,  “Apakah tampangku seperti mereka?”

Demikian pikirnya pertama, karena dia duduk di pinggir jalan untuk mengambil napas setelah lari. Lalu didatangi perempuan relawan ini: “Silahkan, mas, sarapan paginya”

Ini pertemuan pertamanya. Pertemuan selanjutnya mungkin pertemuan yang kelima, dia memberanikan diri untuk melakukan penolakan.

“Maaf, tapi saya bercukupan,” dengan mendorong halus makanan pemberian wanita relawan itu.

“Tidak apa, kamu sudah menerima yang sebelumnya… Mungkin.. hmm.. sudah lima kali… Mengapa sekarang menolaknya?” perempuan relawan itu lawan mendorong tangannya.

“Saya teralih paras dan suaramu saat itu. Tapi sekarang sudah sadar setelah lima kali perbuatanmu. Kali ini saya menolak. Tolong bagikan ke mereka yang lebih membutuhkan”

“Oh.. selama perbuatan saya sebelumnya. Apakah kamu memakannya?”

“Tidak, aku memberinya kepada mereka yang membutuhkannya. Maafkan saya”

BACA JUGA:  Puisi-puisi Simply da Flores tentang Sepenggal Doa dan Api yang Membakar Negeri

“Mengapa minta maaf? Kan kamu melakukan kebaikan. Mengapa sekarang tidak kamu lakukan seperti yang kamu lakukan sebelumnya?”

Perempuan relawan ini keras kepala pikir si bujang, paduan keras kepala dan kebaikan. Hal yang unik dimiliki seorang perempuan setelah ibu si bujang pastinya.

“Atau saya bisa menjadi anggota relawan kalian?”

Perempuan relawan itu tercenggang. Dia yakin sekali perempuan relawan itu tercenggang.

“Puji Tuhan Halleluyah, kamu mau, mas? Boleh saja, kami kekurangan anggota relawan sebenarnya.”

Kalimat ucapan syukur yang berbeda dari yang sering si bujang ucapkan. Dari saat itu pun runtuh pemikirannya untuk menyatakan perasaan kepada perempuan relawan. Maklum, 27 tahun menyendiri membuat dia berpikir ke depan dan tak mau main-main soal hubungan. Motivasi untuk menjadi relawan pun sedikit berkurang. Tetapi dia bukanlah seorang lemah yang hanya jatuh tergeletak karena hal tersebut. Hal tersebut tidak menghalanginya untuk membantu sesamanya.

“Baik, boleh sekarang saya lakukan?”

“Baik, terimakasih banyak, mas. Oh! Nama saya Bianca. Teman-teman relawan panggil saya Inka. Maaf terlambat memperkenalkan diri”

“Saya Latif. Maaf saya juga kurang peka untuk memperkenalkan diri”.

“Setidaknya kamu tidak kurang peka untuk membantu yang lain,” dengan tertawa sebagai penutup.

Perempuan ini benar-benar memanjakan hari si bujang, Latif. Tuhan Yang Maha Esa pertahankan ini lama-lama, pikirnya.

“Kamu pandai berkata-kata dan memotivasi orang lain, Inka”.

“Benarkah? Syukurlah. Apa itu yang kamu rasakan sekarang?”

“Ya.. terimakasih, Inka. Mari saya bantu membawa kardus makanannya.”

“Terimakasih, Latif”

Namaku disebut.

Sembari berjalan dan membagikan sarapan, mereka mengobrol banyak. Dan ternyata gerakan relawan Bianca ini adalah gerakan “Bitika untuk hari”, dan perusahaan Latif adalah pendananya.

BACA JUGA:  Pada Mata Air Meriba

“Bitika untuk hari!” Nama yang unik dan mungkin sebuah akronim. Pernah Latif dan sekretarisnya berlomba menebak-nebak kepanjangan dari Bitika.

“Bianca beretika?”

Ohh. Sekarang pembuka percakapan Bianca yang sebuah tawa.

“Tidak, Latif. Aku bukan pionir gerakan ini. Kamu mau menebaknya lagi? Atau menyerah?”

“Aku mau menebaknya lagi. Hmm..”

“Bianca untuk Latif, kanda?”

“Latif…”

Kali ini pembuka dan penutup dengan tawanya, serta namaku sebagai isinya. Pikir Latif. Memang Latif menjadi lelaki yang lemah terhadap itu semua.

“ Oh, maafkan saya tidak sopan memanggil hanya dengan nama”.

Tubuh Bianca dicodongkan 45 derajat, layaknya orang Jepang yang meminta maaf.

“Tidak apa, Bianca. Kalau boleh tahu berapa umurmu?”

“Kemarin aku genap 24 tahun,” ucapnya diselingi senyum kepada Latif di akhir kalimat. Berbicara soal angka, baru saja Latif teringat akan waktu. Sayang sekali manusia dibatasi akan waktu. Segera Latif memberitahu sekretarisnya dengan menelepon bahwa dia akan telat.

“Ini hal baru, Pak. Ulang tahun Ibu bos kan masih lama.”

“Berisik ini bukan soal ibu. Sudah ya”.

Sewaktu akan mematikan telepon, Latif terpikir rencana yang menurutnya baik. Dan harus segera dilakukan oleh sekretarisnya. Namun jangan dia kemukakan secara terang-terangan ke sekretarisnya. Pasti sang sekretaris akan segera memberi tahu Ibu Latif, dan ibunya akan ribut sendiri karena ini menyangkut perkara hubungan anaknya.

“Tolong datakan dan kirimkan tanda terimakasih kepada mereka”.

Latif kembali ke tempat Bianca. Dan Bianca pun berkata, “Tidak apa jika ingin pergi duluan. Toh makanan yang mau dibagikan sudah mau habis.”

Latif tidak suka melakukan sesuatu setengah-setengah. Dia tidak ingin pergi. Dia segera lanjutkan kegiatan yang mereka lakukan bersama itu.

BACA JUGA:  Puisi Simply da Flores tentang Ikhtiar Menulis Sastra

Di tempat kerja, Latif menyadari bahwa dia lupa mengucapkan Selamat Ulang Tahun kepada Bianca yang genap 24 tahun kemarin. Dia menyesal, namun tidak lama karena rencananya akan terlaksana besok. Kerjanya makin mengebu-gebu dan baik kepada karyawannya. Memang dasarnya dia baik kepada semua karyawannya. Namun hari itu beda, dan karyawan lain pun menyadari perbedaan bos mereka.

Di malam hari, Latif berpikir di tempat kerja. Dari awal mereka sudah berbeda. Dia tertampar kenyataan.

Bonar Bona Boni Sianipar, Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here