Cerpen Gita Indriani: Terlantarnya Asa

169
Gita Indriani

Gita Indriani, Mahasiswi Fakultas Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

 

TEMPUSDEI.ID (4 JUNI 2021)

Dalam hidup, suka-duka sudah sepaket, tak terpisah. Roda hidup terus berputar, kadang di atas, kadang di bawah. Namun, mengapa aku merasa roda hidupku tak pernah berputar. Aku pernah mencoba mengakhiri semuanya, dengan memutus nadi yang mulanya tersambung rapi.

Tuhan berkehendak lain, dibiarkannya aku hidup lebih lama. Sungguh aku tak tahu harus berterima kasih atau marah. Sebutlah aku tak tahu diri, tetapi cobalah pahami keadaanku saat ini. Berjuang seorang diri bukanlah perkara mudah. Cacian, makian, hinaan, silih berganti menghampiri.

Keluarga? Aku bahkan tak pernah merasakannya, meski ada. Seperti ada tapi tiada, itulah aku. Pernah sekali waktu aku bertanya, mengapa mereka tak pernah memandangku barang sedetik saja. Jawabannya berhasil buatku rasakan pilu.

“Kau adalah sebuah kesalahan yang tak seharusnya ada!”

Begitulah jawabnya dengan menudingkan telunjuknya tepat di wajahku. Kebencian terpancar jelas di kedua netranya. Dinginnya kata yang menjejali telinga, buatku ternganga.

Setelah kejadian itu, tak pernah sekalipun kutanya mengenai alasan lain mereka berlaku seperti ini padaku. Cukup sadar diri dan berterima kasih, setidaknya mereka masih mau menampungku.

Lalu, hari di mana aku diselamatkan Tuhan. Hanya luapan amarah yang kudapat, tak ada yang bertanya mengenai keadaanku. Mereka terlalu bersemangat untuk menghakimi dan menyalahkanku. Tak segan mereka melontarkan kata-kata yang membuat jantungku terhenti beberapa saat.

“Padahal kami berharap kau tak selamat, agar tak lagi menyusahkan.”

Suaraku tercekat, menatap mereka dengan tak percaya. Kemudian disusul luruhnya air mata yang tak mereka hiraukan. Mereka pergi meninggalkanku. Nyeri di dada terasa lagi, kali ini makin menjadi.

“Jika memang aku tak ada guna, mengapa Tuhan menyelamatkanku?” tanyaku lirih dengan mata yang kembali memanas.

***

“Mama,” panggilku pada wanita paruh baya di depanku.

Beliau menoleh, diberikannya aku tatapan sinis. Tak ada jawaban dari panggilanku, hanya dua lembar uang Rp5.000 yang dijejalkan ke tanganku. Tangannya mengibas, seakan menyuruhku enyah dari hadapannya.

Aku ingin mencium tangannya, tetapi Mama malah meninggalkanku sendiri, tanpa menatapku. Menuju pada anak keduanya yang kini sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah juga.

Tatapannya berbeda, kali ini penuh dengan kelembutan dan kasih sayang. Bahkan Mama tak segan untuk mengelus puncak kepalanya dengan perhatian. Memberi kecupan manis di kedua pipinya.

Kapan terakhir kali Mama melakukan itu padaku? Jawabannya, tidak pernah. Sedari bayi aku diasuh oleh baby sitter, Mbok Rum. Beranjak kanak-kanak, aku pun masih diasuh Mbok Rum. Teman-teman sekolahku pun mengira aku adalah anak Mbok Rum.

Mbok Rum adalah sumber kekuatan, penopang, sekaligus tempat paling nyaman bagiku. Dengan adanya beliau dalam hidupku, aku tak lagi merasa kesepian. Sayangnya Tuhan memanggilnya terlebih dahulu, enam bulan yang lalu.

Di saat itu, separuh jiwaku seolah menghilang. Semangatku memudar karena sumber kekuatanku sirna. Bangkit. Satu kata yang teramat sulit untuk kulakukan, mengingat tak ada lagi orang yang menyayangi dan menopangku seperti Mbok Rum.

Aku kelam, bayang hitam menyelimuti. Dua bulan aku menjadi kehilangan harapan, sebelum memutuskan bangkit demi mewujudkan keinginan Mbok Rum yang belum tercapai. Kesuksesanku.

“Kalau kamu melamun, kapan sampai ke sekolah?” tanya Mama, berhasil membuyarkanku dari lamunan.

“Iya Ma, ini Rena mau berangkat kok. Rena pamit dulu.”

Belum sempat memegang gagang pintu, Mama kembali memanggilku dan menawarkan sesuatu yang mampu membuatku menerbitkan senyuman.

“Bareng kita aja, udah jam 06.45. Jangan gede rasa, Mama cuma nggak mau dipanggil karena kamu telat lagi.” Aku mengangguk semangat, mengikuti mereka berdua.

Bolehkan aku menaruh harap? Apa Tuhan sudah mulai mengabulkan satu permohonanku? Mataku memanas. Rasa haru menyeruak dalam dada. Sepele memang, tapi percayalah terkadang hal sesepele apa pun bisa membuat seseorang merasakan seperti berada di atas awan.

Satu minggu ini sikap Mama berubah, aku tak memungkiri bahwa kepakan kupu-kupu selalu menggelitik perut. Setiap kali beliau memperhatikanku, saat itu pula asaku yang hampir terputus kembali terajut.

Tak pernah kubayangkan hal ini akan terjadi. Di mana aku merasa kehadiranku memang ada. Aku dibutuhkan.

Sayang, semua lenyap seketika saat adikku terjatuh dari tangga. Semua menyalahkanku karena saat ia terjatuh, kebetulan aku berada tepat di atas tangga. Sungguh bukan aku, sudah kukatakan ribuan kali pada Mama. Tak ada yang percaya, adikku bahkan bungkam tak angkat suara.

Mama kembali melontarkan kata-kata yang menghunus jantungku. Beliau mengurungku di gudang belakang, tempat yang tak pernah tersentuh sejak satu tahun terakhir. Kotor. Satu kata yang terlintas dalam benakku.

Mau tak mau aku harus membersihkannya karena aku tak tahu sampai kapan aku akan tinggal di sini. Lalu, aku melihat sesuatu yang membuatku terkejut. Hasil tes DNA yang menyatakan aku bukan anak Papa.

Aku terduduk lemas, potongan-potongan puzzle seakan tersusun. Kata-kata yang keluar dari mulut mereka bukan tanpa alasan. Ditambah perlakuan mereka padaku selama ini.

Tetes demi tetes air yang keluar dari mata tak bisa ditahan. Dadaku terasa sendat.

Kau adalah sebuah kesalahan yang tak seharusnya ada!

Kini aku mengerti ucapan Mama. “Mbok Rum, bolehkan aku menyusulmu? Aku lelah bertahan sendirian.”

Mengapa takdir begitu kejam mempermainkan hidupku. Seolah-olah semua ini memang pantas untukku. Asaku yang hampir terputus, lalu dirajut semua sia-sia. Karena asaku kembali terlantar di dalam duka.