Puisi Weinata Sairin tentang Ritus-ritus Demetrius

55
Weinata Sairin

RITUS-RITUS DEMETRIUS

Ritus-ritus demetrius bagi dewi artemis
mendekati titik kepunahan
Dewi artemis tak bisa lagi mengalami pemujaan
lewat ritus-ritus
dan seremoni
berbau sakral
Manusia semakin eling dan paham
berhala itu buta,
hanya hidup dalam imajinasi
dan halusinasi manusia naif
dicekam amnesia

Ritus-ritus demetrius bagi dewi artemis
adalah transaksi ekonomi
yang digerakkan mekanisme pasar
dan dikemas dalam diksi agama
atribut, kemasan, roh agama
agar manusia
dicerahkan
dan punya masa depan

Demetrius bukan
pejabat agama
yang paham abcd-nya agama
ia juga bukan petinggi majelis agama
yang mengerti politik agama
ia seorang ekonom otodidak
yang tahu skema dan fluktuasi
aspek finansial

Ia pengusaha kuil-kuilan dewi artemis dari perak
yang sejak lama memproduksi
benda-benda itu
sebagai instrumen
pemujaan sang artemis

Dalam galau dan lilitan paranoid
ia kumpulkan para
perajin kuil-kuilan perak
Ia tegaskan bahwa produksi kuil-kuilan perak
membawa kemakmuran
bagi demetrius dan mitra kerjanya
Kehadiran agama baru akan menghancurkan perusahaan
sekaligus memunahkan kebesaran artemis
yang disembah oleh dunia yang beradab

Produk-produk ekonomi manusia
Tak boleh menghidupkan
pikiran demonis-ateistik
non ilahi dalam mindset manusia fana

Kasus demetrius
mengajar umat
untuk lebih memberi ruang
bagi pertumbuhan nilai-nilai agama
ketimbang produk eknomi yang muaranya
menghancurkan nilai-nilai agama
Ritus-ritus demetrius bagi dewi artemis
bagian dari sejarah kelam
abad yang lewat
Ia adalah sebuah memori
dan berhenti sebagai memori!

Jakarta, 29 Mei 2021/-pk 3.25