Orang Yahudi Salah Paham, Bagaimana Kita?

188
Eleine Magdalena

Oleh Eleine Magdalena, Penulis buku-buku renungan best seller

TEMPUSDEI.ID (31 MEI 2021)

Dalam Injil Yohanes, Yesus sering memakai lambang atau kiasan untuk melukiskan diri-Nya sendiri atau untuk mengajar. Gaya bahasa Yohanes sering menunjukkan kesalahpahaman para pendengar Yesus tentang lambang atau kiasan yang dipakai Yesus. Mereka hanya menangkap makna harafiahnya. Tetapi kesalahpahaman ini justru digunakan untuk menjelaskan gagasan Yesus secara lebih mendalam lagi.

Demikian juga ketika Yesus mengatakan: “Akulah roti yang turun dari surga…dan roti yang Kuberikan itu adalah tubuh-Ku…”.

Mereka bertengkar karena tidak mengerti ungkapan Yesus. Seringkali pemahaman kita terhadap segala peristiwa dalam hidup ini cenderung pada yang lahiriah semata, sehingga sulit untuk menangkap makna rohani yang mau Tuhan komunikasikan dengan kita.

Mungkin kita tidak lebih paham dibandingkan orang-orang Yahudi yang bertengkar itu. Walaupun, mungkin isi pertengkaran mereka kedengaran konyol dan lucu bagi kita. Namun sudahkah kita juga berusaha memahami dan melihat apa yang kita alami tidak hanya dengan mata jasmani? Ucapan-ucapan Yesus ini merupakan teologi tentang sakramen Ekaristi yang sungguh mendalam. Di dalamnya kita ambil bagian dalam kehidupan Kristus sendiri.

Seperti jenis makanan yang masuk ke dalam tubuh memengaruhi fisik dan kesehatan badan kita, demikian juga makanan rohani memberi pengaruh pada roh kita. Kalau orang sering makan kacang-kacangan dan jeroan bisa terkena asam urat tinggi. Kalau suka makan daging kambing, tekanan darah bisa naik. Sebaliknya, orang yang suka makan sayur dan buah, pencernaanya menjadi lancar, dan sebagainya.

Jelas sekali bagi kita bahwa makanan yang kita makan sehari-hari memengaruhi berat badan dan kesehatan badan kita. Demikian juga, kalau kita menyantap Tubuh Kristus yang adalah makanan rohani, Tubuh Kristus akan mengubah kita menjadi semakin rohani. Semakin menyerupai Kristus dalam cara merasa, cara berelasi, cara memandang orang lain, dan dunia.

Dengan menyadari, mengakui dan menghayati bahwa Komuni Kudus yang kita terima adalah sungguh Tubuh dan Darah Kristus, maka kita disatukan dengan Kristus sendiri, kita tinggal di dalam Dia. Kristus mengisi hati, pikiran, kehendak dan seluruh diri kita. Kristus membarui semangat hidup kita dengan hidup-Nya sehingga kita dipenuhi oleh hidup Allah sendiri. Tubuh Kristus adalah benar-benar Makanan dan Darah Kristus adalah benar-benar Minuman karena keduanya memberi kita hidup yang sesungguhnya. Hidup kekal dan juga hidup di dunia ini pada saat ini.

Menyadari bahwa Hosti Kudus adalah betul-betul Tubuh dan Darah-Nya, maka sudah sepantasnya kita menyambut-Nya secara istimewa, yaitu penuh hormat, syukur, dan rindu. Ibarat menerima tamu agung dalam rumah, kita pun perlu menyiapkan hati kita bagi Kristus. Kita perlu bertobat penuh kerendahan hati setiap kali mau menerima Hosti. (Mata Iman, 2017)