Cerpen Adriana Susanti Talu: We’e Kapodi

154
Adriana Susanti Talu
Wanita-wanita Sumba dalam balutan kain tenun Sumba (Foto: Bobby Wungo)

Bhali

Aku sedang menunggu bus yang bakal melewati kampungku. Desa Karakata, Kecamatan Wewewa Barat, pulau Sabana, Sumba. Desa kecil yang jauh dari listrik dan samar, bahkan kendaraan roda berapapun tidak begitu berani melewati medannya, tetapi begitu mengentak seluruh rasa rinduku. Kutarik napas dengan sedikit kesal, entah berapa lama lagi aku harus menunda rindu. Bhali.

Tiba-tiba kudengar seseorang berteriak dari jarak sekitar 50 meter di depanku memberitahu bahwa bus ke arah kampungku sudah datang. Aku bersiap dan segera masuk ke dalam bus kecil dan sempit itu. Sebuah bus kampung dengan aneka aroma. Ada aroma keringat para petani dan pedagang, ada aroma parfum murahan yang hanya digosokkan di badan, dan yang paling tercium adalah aroma napas sirih pinang yang keluar dari mulut setiap orang yang ada di dalam bus itu semakin kental di dekatku.

“Mau ke mana, Ina? (1)” mama yang duduk di sampingku menyapa dengan senyum tipisnya. Kulihat senyum manisnya yang tulus itu. Tampak sebaris gigi hitam di sana.

“Iya mama, saya mau pulang kampung!” Saat saya bersapaan dengan mama itu, saya mengamati sekilas seluruh isi bus itu. Hampir semuanya   berisi mama-mama dengan sarung yang digulungkan di pinggang mereka. Rambut mereka digulung jadi satu ke atas. Kupastikan mereka   berasal dari daerah asalku. Perhatikan juga gigi yang mulai kehitaman yang tampak saat mereka tertawa. Inilah momen yang luar biasa bagiku karena mamaku juga seperti mereka. Hanya saja mamaku jarang memakai sarung dan giginya masih agak bersih.

Ina mau turun di mana?” tanya kondektur bus kepadaku.

“Saya turun di depan sana, ka’a (2), dekat kios bapa Marten!

BACA JUGA:  Puisi-puisi Weinata Sairin untuk Koster Katedral Makassar yang Terluka dan Tentang Seorang Ibu

Aku mulai memasuki perkampungan yang sudah begitu lama aku rindukan. Sepanjang masa sekolah, sejak SD sampai SMP yang aku lewati di luar kampung kelahiranku. Aku bersekolah di kota dekat dengan bandara. Perjalanan cukup jauh. Dari perempatan jalan kios bapa Marten, aku masih harus berjalan kaki melewati dua kampung, kampung Karakata dan kampung Mangeda. Teman-teman sekolahku di kota barangkali tidak akan mampu menjalani kehidupan seperti di kampungku, tetapi bagiku perjalanan ini begitu menyenangkan bahkan emosional.

“Owh ata dawa (3) pulang kampung eh!” sergah seorang mama yang sedang memetik sayur ubi di kebunnya. Pasti untuk makan malam karena memang waktu sudah sore dan senja sebentar lagi akan menghilang seiring dengan bayanganku yang semakin mengecil.

“Eh iya, mama. Bagaimana kabar, petik sayur sore-sore pasti enak!” kataku berbasa-basi dan menunjukkan simpati.

“Owh ata dawa, mama sehat saja mai li umma (4), kita makan sama-sama!”

Begitulah keramahan khas orang kampung yang kudapatkan setiap pulang  kampung. Aku tidak begitu mengenal mereka. Bahkan beberapa dari mereka sudah tidak kukenali lagi. Enam tahun meninggalkan kampung bukan waktu yang singkat. Akan tetapi mereka begitu mengenalku.Anak perempuan satu-satunya di desa ini yang menuntut ilmu di  ibu kota. Aku dihargai dan selalu disapa oleh mereka yang berpapasan denganku di jalan karena aku adalah bunga kampung. Aku adalah anak perempuan yang keluar dari kampung, cucu dari Rato (5) dan anak dari kepala adat yang berjasa dan membantu mereka pada masa sulit mereka dulu. Mereka selalu berucap terima kasih padaku.

****

SAKOLAH WU

Aku mulai ngos-ngosan sebab jalan menanjak dan sudah mulai malam, tetapi di atas salah satu kubur di kampung orang tua mamaku duduk sekumpulan anak-anak kecil.

BACA JUGA:  Puisi-puisi Simply da Flores tentang Minggu Palem dan Paskah 2021

“1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, a kabullu keila (6) yang pulang ke sarang ini sore!” ucap seorang anak berbaju merah lusuh.

“Ia padahal kemarin sore hanya ada 7 ekor eh!” sahut gadis kecil sahabatnya sambil menaikkan bajunya yang sudah robek yang jatuh setengah bahu. Kuamati tingkah laku keduanya. Aku senang sebab mereka adalah generasi muda kampung yang begitu polos dan jujur. Kusapa mereka dengan bahasa daerah. Mereka melompat menghampiriku dari atas kubur. Anak-anak di kampungku sering bermain di atas kuburan yang biasanya terletak di  depan rumah. Mereka berteriak senang dengan suara cukup keras sehingga teman atau orangtua yang duduk di atas balai-balai menoleh ke arah kami.

Ata dawa owh!!!” selalu begitu yang mereka katakan. Sapaan yang sudah lama ingin kudengar dari mulut-mulut polos ini. Mereka saling berebut untuk berbicara terlebih dahulu padaku. “Kaa, saya juga mau ge (7) kaya kaka.”

Banyak yang mereka sampaikan padaku. Anak-anak ingin ikut denganku ke tempat aku sekolah. Entah apa yang mereka lihat padaku, tetapi yang aku tahu adalah bahwa aku bisa memberi mereka harapan dengan meminta mereka untuk tetap bersekolah. Selalu kukatakan begini.

 “Tapi mama bapa bilang tidak usah sekolah, ka’a, makanya kami tidak sekolah.”

Mereka berlari kembali menuju kuburan yang sama dan duduk di atasnya. Kuperhatikan mereka kembali sambil setengah mendengarkan mama tua yang berbicara di sampingku. Inilah keadaan kampungku, membuat rindu, tapi juga hidup dalam kebodohan yang masih meraja. Kan kuceritakan lebih banyak, tapi nanti ketika kau datang berkunjung.

Kata-kata Bahasa Sumba, sub etnis Wewewa:

BACA JUGA:  Cerpen Balqis Nabila Zahra: Kidung Kali Benjaran

We’e Kapodi : Sarung dan rambut yang digulung ke atas.
Bhali: Pulang
Ina: Nona, atau bisa juga sapaan hormat kepada seorang wanita.
Ka’a: kakak (L/P)
Ata dhawa:bule/orang yang berpendidikan
Mai: Mari
Rato: Kepala Suku
Ata dhawa : Bule atau orang yang berpendidikan
A kabulla keila: ada sepuluh burung
Ge: partikel penghubung
Korru: hidung
Tamo: sebutan yang diwariskan kakek/nenek kepada cucu
Keddhe: bangun
Sakolah wu: sekolah kamu
Mataloddo’ gu:Matahariku

Adriana Susanti Talu, Mahasiswi Fakultas Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

 

Facebook Comments

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here