Puisi-puisi Simply da Flores antara Mentari Senja dan Purnama, dan Gugatan Penistaan

65
Simply da Flores

ANTARA MENTARI SENJA DAN PURNAMA

Menyusuri jalan lengang ke kampung
lewati galau padang gersang
susuri pepohonan lara
dipanggang terik kemarau panjang
Pandemi, polemik agama dan politik,
debu kekerasan dan kobaran ketakwarasan zaman
dan bom kesombongan

Aku berhenti sejenak di tanjakan bukit sebelum masuk kampung,
ke arah gunung terlihat masih ada hutan hijau
tempat percintaan awan agar lahirkan hujan berkat
menyegarkan hamparan gersang
serpihan kerinduan petani miskin pedesaan
dan nelayan papa tanpa jala dan perahu untuk menangkap rezeki

Aku terpesona mentari senja menari di pelataran samudera
kupotret dengan gadget jadulku untuk jadi arsip albumku
Tarian mentari mengusik nalar
Apakah ini pertanda Ilahi tentang bencana atau rezeki zaman?

Warna-warni sinar indah di batas cakrawala
yang dipantulkan wajah birunya laut
yang bergelombang penuh pesona dan misteri lalu kupotret

Setelah mentari dirangkul tangan lembayung senja
kegelapan malam ini nampak redup samar
dihalau wajah ceria purnama di timur
yang datang anggun perlahan
dari balik gunung dan perbukitan

Hamparan padang gersang
dan pepohonan beranting kering sekejap sirna
Cahaya indah purnama membalut duka lara kehidupan
Asa pun menyeruak
Semoga badai dan bencana berlalu
lapar jiwa akan dikenyangkan
dahaga nurani akan dipuaskan
karena masih ada kasih sayang persaudaraan
dan solidaritas kemanusian
di antara manusia penghuni bumi ini
Yang rakus` dan jadi binatang buas hanya segelintir
Semoga Sang Adil Maha Bijaksana
masih memelihara kehidupan ini
dengan Maha Kasih dan SayangNya

Tarian mentari senja di pelataran samudera
dan alunan simphoni wajah jelita purnama
laksana paduan serasi api asmara
sepasang kekasih pilihan alam semesta
atau romantisme dua sejoli belahan jiwa cinta sejati

BACA JUGA:  Puisi-puisi Gusty Masan Raya

Senja dan malam ini aku saksikan
mentari dan bulan persembahkan lukisan harmoni Ilahi
Nalarku dan nurani jiwa memburu arti makna
kurebahkan rasa dan raga di atas tilam pondok para leluhur
Semoga diberi wangsit atau mimpi tentang kekasih sejati,
rezeki, keadilan dan kehidupan hari esok
yang lebih sejahtera dan serasi bersemi lestari

MENGGUGAT PENISTAAN

Perbedaan itu indah
Keragaman itu kodrati
Takdir Sang Ilahi bagi segenap isi alam ini
untuk saling melengkapi

Pelangi indah karena perpaduan perbedaan,
bisakah dikagumi dengan kaca mata hitammu sendiri?

Bisakah menghentikan gelombang samudera
mengempas ke pasir pantai dengan iri dengki nafsu diri,
harena kebenaran mutlak hanya milik dirimu?

Paru-paru bergerak dan jantung berdetak untuk kehidupan
bisakah mengurung udara
hanya untuk kesombongan diri
atas nama kebenaran agama versi dirimu
bahkan membela Allah Sang Pencipta Maha Kuasa?

Apakah dalam seluruh keperluanmu
tidak ada peran dari semua yang engkau hujat,
nista, caci maki dan hendak kau musnahkan
atas nama kebenaranmu?

Penistaan, radikalisme dan terorisme
sejatinya adalah ketakwarasan individu gila,
rakus dan buas
karena mengingkari jiwa nuraninya,
mengutuk ari-arinya
dan menyangkal diri bahwa adanya di bumi
bukan dilahirkan ibu kandungnya sendiri
lalu dia akan hidup abadi seribu tahun
karena bisa musnahkan sang ajal

Kita sesama saudara
Satu Sang Pencipta
Satu udara yang sama
Satu darah yang sama
Sama-sama manusia dengan aneka talenta
untuk saling menupang
dalam kehidupan di atas bumi yang sama ini.

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here