Puisi-puisi Filsiane Mithan tentang Sebuah Nama tanpa Nisan dan “Timur”

387
Filsiane Mithan

SEBUAH NAMA TANPA NISAN

Cinta ini pernah tumbuh, lalu gagal dipatahkan rindu.
Baru sebentar tunas itu muncul, gugur bersama kamu.
Cerita macam apa ini, mengintip di permukaan dan hilang ditelan pilu.
Bahkan bangkaipun akan tercium, meski terkubur waktu.

Sudah setengah umurku sejak cinta dan kau gugur di hati.
Sudah waktunya tangis ini berhenti.
Tapi aku takut pada yang tak pasti.
Takut pada yang pergi dan tak terganti.

Gampang memang, mereka bilang “mati satu tumbuh beribu”.
Apakah mencinta sesederhana itu? Batinku.
Gampang memang, mereka bilang “cinta itu mengikhlaskan”.
Apakah mencinta harus sesakit ini? Batinku.

Aku kehilangan seseorang yang menjadi alasan “bahagia itu sederhana”.
Aku kehilangan seseorang yang menjadi alasan “dunia ini indah”.
Ah kamu, sebuah nama tanpa nisan.
Aku memelukmu dalam tiap sujudku.
Semoga rindu dan lilin yang berpadu mengantarmu di surga abadi.

Maumere, 2021

TIMUR

Di sana, tempat terbit matahari
Si jago tidak terdengar berkokok pagi itu
Dapur-dapur tidak mengepul hangat lagi
Siapa pun tak lagi peduli isi perut tapi berharap waktu cepat berlalu…

Tidak ada kopi dan rokok di teras rumah
Tidak ada anak yang pamit ke sekolah
Tidak ada ayah ibu yang berbincang senyum memikirkan nasib buah hati
Tidak ada muda-mudi yang saling sapa untuk bermimpi

Rahim yang melahirkan harapan, menyusu dengan kesuburan berubah menjadi jeritan dan teriakan…
Raga kami hanya tinggal jiwa, nafas kami tertinggal separuh di gubuk lama
Kisah yang tak ingin kami tulis tapi yang akan kami ingat
Kini kami yatim piatu, hidup dari belas kasih para tuan dan Tuhan

Maumere, 2021

Filsiane Mithan, lahir pada 30 Juni 1992 di Ende Flores. Lulusan FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Flores Ende. 

Facebook Comments

BACA JUGA:  Hai, Ma!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here