Bersyukur Mengenal Tuhan Sejak Muda

123

Apa yang kita alami bersama Yesus, pertolongan dan kebaikan Yesus dapat menjadi kesaksian yang menguatkan orang lain.

Oleh Eleine MagdalenaPenulis buku-buku best seller

TEMPUSDEI.ID (30/11) – Dalam doa, suatu kali saya mengerti apa yang Tuhan ingin saya lakukan, yaitu sekadar bersimpuh di kaki Tuhan. Sederhana sekali. Padahal saya bukan orang yang mau biasa-biasa saja atau sederhana. Maunya yang hebat-hebat. Saya tidak pernah membayangkan diri saya menjadi seorang ibu rumah tangga yang “hanya” melayani keluarga, memasakkan makanan bagi anak-anak, mengatur rumah, mendampingi anak-anak belajar, melakukan pekerjaan rutin sehari-hari yang hanya dilihat oleh satu atau beberapa orang dalam rumah. Bagi saya, hal seperti itu sama sekali bukan hal yang dapat dibanggakan.

Firman Tuhan dalam Yesaya 55:2-3 begitu menyentuh sehingga saya dapat melihat yang sesungguhnya paling berarti dalam hidup ini, yang paling bernilai di mata Tuhan, yaitu menemukan Tuhan, mencintai-Nya, mengenal jalan-jalan-Nya, dan mengikuti-Nya.

Hal yang paling saya syukuri saat ini adalah boleh mengenal Tuhan sejak usia muda, melayani Dia dan sesama lewat apa yang Tuhan percayakan kepada saya. Semakin kita melayani Dia, semakin kita mencintai-Nya.

Saya teringat seorang bapak yang baru dibaptis pada usia 60 tahun. Ia begitu rindu mengenal Tuhan lebih dalam. Ia mengikuti semua retret yang diadakan di Pertapaan Karmel, Tumpang dalam tahun itu. Ia juga bersemangat ingin melayani Tuhan namun kondisi fisiknya tidak lagi memungkinkan. Ia menderita kanker pada tenggorokannya dan sudah beberapa kali menjalani operasi.

Beruntung Melayani Sejak Muda

Sumber kekuatan melayani Tuhan.

Suatu kali kami bertemu dan ia mengatakan betapa beruntungnya kami (suami dan saya) ketika masih muda dan sehat sudah melayani Tuhan. Mendengar ucapannya saya mendapat kekuatan baru untuk terus melayani. Saya dapat turut merasakan penyesalannya. Kerinduannya untuk melayani Tuhan terhambat oleh sakit yang dideritanya.

BACA JUGA:  Janji Tuhan, Bukan Janji Kosong

Seorang teman wanita pernah mengatakan hal senada. Waktu itu menjelang usianya yang ke-50 ia didiagnosa menderita kanker ovarium stadium akhir. Suatu kali ketika kami bertemu di gereja, ia menatap saya sambil meraih tangan saya, ia mengatakan, “Paling enak, ya melayani Tuhan”. Suaranya lirih. Saya menangkap kerinduan hatinya dan sekilas nada penyesalan. Lima bulan setelah itu ia pergi untuk selama-lamanya.

Di tengah tawaran-tawaran untuk menjalankan pelbagai bisnis yang tampak menggiurkan hasilnya, perkataan dua teman ini meneguhkan panggilan saya untuk terus melayani Tuhan. Walaupun sudah tahu bahwa kerinduan saya sebenarnya melayani Tuhan, mengajar, membagikan Firman-Nya, berdoa bagi orang lain, dan menulis, namun tawaran-tawaran lain seperti berbisnis masih tampak cukup menarik. Saya pun selalu berjuang mengatasi godaan yang menjauhkan hati saya dari Tuhan.

Ternyata kerinduan setiap orang memang adalah menyenangkan hati Tuhan. Menjelang akhir hidup, kita hanya akan melihat yang terpenting, yaitu hubungan kita dengan Tuhan. Inilah yang juga akan kita bawa ke hadapan-Nya, yaitu cinta kita kepada-Nya dan kepada umat-Nya.

Saya bersyukur bahwa Tuhan menyediakan yang kami perlukan. Puji Tuhan, kami tidak berkekurangan. Dengan mengarahkan hati, waktu, dan perhatian kepada keluarga dan Tuhan saya mempunyai lebih banyak waktu untuk memikirkan dan turut melakukan pekerjaan-Nya. Apa yang dulu menjadi persoalan saya sebelum mengenal Tuhan, telah Tuhan ambil menjadi persoalan-Nya juga. Setelah saya mengenal Dia dan menerima cinta-Nya, saya ingin yang menjadi persoalan-Nya, juga menjadi persoalan saya. Kerinduan hati-Nya agar banyak orang mengenal cinta-Nya dan bahagia di dunia ini itulah yang menjadi kerinduan saya juga.

Pelan-pelan orientasi hidup saya berubah dari diri saya kepada Tuhan. Ketika saya mau melakukan semua untuk Tuhan, saya juga begitu terbuka pada Tuhan dan melihat pertolongan, perlindungan, belas kasih Tuhan nyata dalam hidup kami sekeluarga. Banyak orang bertanya bagaimana suami tidak melarang saya melayani bahkan ia pun banyak memberi waktu untuk pekerjaan di gereja. Semua ini hanya karena anugerah dan belas kasih Tuhan. Ketika kita mau mengikuti-Nya, Ia membuat segalanya mungkin.

BACA JUGA:  Eleine Magdalena dan Blessing In Disguise dari Hidup Berkeluarga

Mertua masih memasakkan makanan untuk cucunya terutama jika saya pergi pelayanan. Tuhan menganugerahkan kesehatan yang luar biasa prima bagi mami mertua. Sampai usianya yang ke 93 mami masih memasak, pergi ke luar kota dengan teman-teman, dan juga ikut mendoakan orang sakit. Tanpa mertua yang memerhatikan keperluan di rumah, saya tidak dapat pergi pelayanan apalagi ke luar kota dan ke luar negeri. Tuhan membukakan jalan jika kita sungguh mau melayani-Nya.

Tuhan sendiri yang mengubah hati masing-masing anggota keluarga jika setiap hari kita mau datang kepada Tuhan, mengakui bahwa Dia Tuhan bagi seluruh keluarga kita.

Seorang imam, pernah mengatakan bahwa selama melayani Tuhan, dalam hidupnya tidak sekalipun ia mendapati bahwa Tuhan mempersulit dia. Saya mengalami bahwa Tuhan sangat senang jika kita mau datang lebih dekat kepada-Nya dan membawa orang-orang lain kepada-Nya. Kita dapat membawa Kristus kepada orang-orang lewat kesaksian hidup kita.

Apa yang kita alami bersama Yesus, pertolongan dan kebaikan Yesus dapat menjadi kesaksian yang menguatkan orang lain. Kita dapat membagikan kesaksian ini kepada rekan kerja, teman yang kita temui secara tak sengaja, atau di acara sosial kemasyarakatan. Pelan-pelan jika orang tertarik melihat cara hidup kita, mereka pun akan tertarik pada Yesus yang menjadi sumber kekuatan kita. Kita mengenalkan Yesus lewat cara hidup dan kesaksian kita. (Kisah Kasih Tuhan, 2015)

 

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here